loading...
Loading...

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kematian para petugas KPPS  paling banyak disebabkan oleh penyakit jantung dan stroke. Demikian ditegaskan Tri Hesty Widyastoeti.

“Terbanyak karena gagal jantung dan  stroke,” kata Tri Hesty yang juga Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan, Ditjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan itu, Senin (13/5/2019).

Menurut Tri Hesty, hasil investigasi Kementerian Kesehatan di 17 provinsi menemukan sebanyak 445 petugas KPPS meninggal. Sedangkan mereka yang sakit dan dirawat  mencapai 10.007 orang.

Kementerian Kesehatan mendata kasus kematian paling banyak di Provinsi Jawa Barat. Adapun yang sakit di DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Petugas KPPS meninggal umumnya berusia 50 sampai 59 tahun, disusul usia 40 sampai 49 tahun.

“Sebanyak 29 persen korban meninggal dunia berusia 50 tahun.”

Tri Hesty melanjutkan, kematian petugas KPPS paling banyak terjadi di luar rumah sakit dan korban umumnya meninggal tidak pada saat pencoblosan 17 April 2019.

Mereka meninggal beberapa hari setelah tanggal 17 April, yaitu pada 21 sampai 25 April dan 26-30 April.

Baca Juga :  Amien Rais Mengaku Sedih PAN Dukung Jokowi Tanpa Syarat

“Sebab kematian ada beberapa yang belum diketahui, tetap kami terus telusuri,” kata dia.

 

Kementerian Kesehatan, kata Tri Hesty,  terus menerus berkoordinasi dan telah membentuk satuan tugas untuk menangani kasus tersebut.

Di samping mendata angka yang sakit dan korban meninggal, Kementerian juga memeriksa kesehatan para petugas KPPS.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih, mengatakan bahwa kematian petugas KPPS bukan karena kekelahan. Penyebab meninggalnya lebih dari 400 petugas di seluruh Indonesia itu lantaran penyakit yang sudah dideritanya.

“Menghadapi kasus kematian mendadak dalam jumlah besar dalam kurun waktu yang singkat, IDI berpendapat bahwa kelelahan bukanlah penyebab langsung kematian. Namun dapat menjadi salah satu faktor pemicu atau pemberat sebab kematian,” kata Daeng.

Menurut Daeng, petugas KPPS yang menjadi korban meninggal telah memiliki riwayat penyakit. Sehingga saat mendapatkan pekerjaan yang berat kemudian kelelahan, memicu atau memperberat penyakit yang dideritanya.

“Kelelahan yang memicu penyakit tertentu, penyakit itu yang menyebabkan kematian. Kelelahan hanya salah satu faktor risiko saja yang memicu atau memperberat menjadi suatu penyakit, jadi bukan karena kelelahan,” kata Daeng.

Baca Juga :  Ini Cara Dakwah FPI yang Harus Diperbaiki Menurut Komisi Agama DPR, Jika Izin Diperpanjang

Daeng Faqih menegaskan, IDI sebagai organisasi profesi siap membantu semua pihak  untuk melakukan penelitian mendalam. Dibutuhkan investigasi yang obyektif dan berbasis keilmuan terhadap kejadian kematian petugas KPPS tersebut.

Ahli penyakit dalam Zubairi Djoerban menyebutkan, faktor kelelahan, dehidrasi, dan stress dapat memicu terjadinya serangan jantung dan stroke yang bisa menyebabkan kematian.

Hal tersebut, kata Zubairi, bukanlah faktor tunggal. Ada faktor-faktor lainnya yang memperparah penyakit. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih mendalam untuk memastikan apa penyebab kematian petugas KPPS.

www.tempo.co

Loading...