loading...
Foto/Humas Polda

SOLO, Jogloaemarnews.com –  Pelaku bom bunuh diri di Kartasura bernama Rofik Asharudin,  ditengarai sebagai pelaku tunggal dan tidak merupakan bagian dari jaringan tertentu.

Pelaku terpapar radikalisme melalui aktivitas di media sosial. Demikian soungkapkan oleh Kapolda Jawa Tengah, Irjen Rycko Amelza.

“Dari hasil keterangan, dia tidak memiliki jaringan,” katanya saat ditemui di Solo, Rabu (5/6/2019).

Menurutnya, polisi juga telah melakukan pendalaman terhadap keterangan yang telah diperoleh.

Menurutnya, Rofik mendapatkan doktrin radikal sejak lama melalui sosial media.

“Dia sudah melakukan komunikasi dengan Al Baghdadi,” katanya.

Pemuda 22 tahun itu lantas berbaiat kepada pentolan Negara Islam Irak Suriah (ISIS) tersebut di akhir 2018.

Baca Juga :  Sempat Zero, Kini Seorang Warga Mojosongo Solo Positif Corona, Anak dari PDP Meninggal

Komunikasi dengan Al Baghdadi tersebut juga terungkap melalui penelusuran akun sosial media milik pelaku.

Usai berbaiat, Rofik menerima beberapa doktrin tentang kekerasan, termasuk informasi mengenai cara-cara membuat bom.

Dalam kejadian tersebut, pria pengangguran itu mencoba melakukan bom bunuh diri di pos polisi Kartasura. Saat kejadian, ada empat polisi yang bertugas di dalam pos.

Hanya saja skala ledakan yang cukup kecil tidak berhasil melukai polisi yang bertugas memantau jalur mudik itu. Bahkan, Rofik sendiri juga tidak tewas dalam serangan itu. Kondisinya yang sempat kritis saat ini terus membaik.

Baca Juga :  Walikota Solo Tegaskan Tak Ada Lagi Warga yang Positif Covid-19 Bukan Berarti Solo Bebas Corona

Hanya dalam waktu beberapa jam, polisi berhasil mengungkap identitas pelaki, termasuk menggeledah rumahnya. Dalam penggeledahan itu polisi menemukan sejumlah bahan kimia dan rangkaian elektronik.

www.tempo.co