JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kasus Pencurian Listrik Sragen, Tokoh-Tokoh Desa Dawung Minta PLN Koordinasi Sebelum Operasi. Kadus Musibat: Kami Ikut Menanggung Malu! 

Kadus Musibat saat hadir di sosialisasi P2TL di PLN Sragen. Foto/Wardoyo
Kadus Musibat saat hadir di sosialisasi P2TL di PLN Sragen. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Para tokoh masyarakat di Desa Dawung, Sambirejo meminta agar PLN lebih mengedepankan koordinasi perangkat dan Ketua RT sebelum ada operasi listrik. Sehingga, tidak timbul kesalahpahaman atau hal tak diinginkan di lapangan.

Hal itu disampaikan tokoh-tokoh di Desa Dawung saat pertemuan sosialisasi yang digelar PLN di kantor PLN Sragen kemarin. Kadus 2 Dukuh Garut, Desa Dawung, S. Musibat mengatakan konsultasi diperlukan agar masyarakat bisa memahami dan tak timbul salah paham.

Karena dalam dua kali operasi yang dilakukan di Dawung, tidak pernah ada koordinasi dengan perangkat, RT maupun Kadus.

“Enggak ada sama sekali (koordinasi). Harapannya ke depan harusnya koordinasi dengan RT atau Kadus dulu. Biar warga tidak salah paham. Kadang masyarakat malah nyalahkan Pak Bayan dan RT-nya dianggap nggak memberitahu. Kalau ada koordinasi kan enak, semuanya tenang,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

Baca Juga :  Raih Akreditasi Paripurna, RSUD Sragen Berkomitmen Menuju RS Pilihan dan Rujukan Masyarakat

Musibat menuturkan jauh sebelumnya, operasi listrik memang pernah ada di Dawung. Seingatnya juga pernah ada beberapa yang ditemukan melanggar dan didenda.

Namun hal itu kadang bukan semata-mata kesalahan warga. Sebab kadang warga juga tidak tahu jika petugas listrik yang menawarkan jasa kelistrikan itu bukan resmi dari PLN dan tindakan yang dilakukannya ternyata merupakan pelanggaran.

“Dan itu kan hanya beberapa warga. Nggak semuanya. Kalau kemudian akhirnya mencuat berita operasi  pencurian listrik di Desa Dawung dan tersebar luas, kami sebagai warga Dawung kan ikut malu. Padahal di Kebayanan kami enggak ada temuan,” terangnya.

Senada, Ketua RT di Dawung, Mbah Gino juga meminta agar PLN bisa menganggap keberadaan Ketua RT. Setidaknya jika akan ada operasi, RT bisa ditembusi atau dikoordinasikan dulu sehingga Ketua RT tidak disalahkan.

Baca Juga :  Diguyur Hujan Selama 5 Jam Jalur Tanon Mondokan Sragen Banjir Parah

Ia juga mempertanyakan keberadaan meteran yang sudah 50 tahun dan rapuh namun belum ada respon atau penggantian. Sementara warga sebagian besar tak memahami jika membuka segel itu adalah pelanggaran.

“PLN jangan seenaknya. Mbok sedikit menghargai Pak RT. Dulu kalau akan ada opal (operasi listrik) koordinasi dulu. Lha sekarang tahu-tahu langsung turun kayak gropyokan maling. Kami juga minta kalau operasi ya semuanya diperiksa, jangan satu-satu,” ujarnya.

Suminto Hadi, Ketua BPD Desa Dawung meminta agar ketika operasi, petugas P2TL menjelaskan kepada warga mana yang tidak sesuai dan harus dibuatkan berita acaranya.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com