loading...
Loading...
Ilustrasi/tempo.co

JAKARTA, Joglosemarnews.com – Kecoa, binatang seukuran ibu jari manusia dewasa itu, ternyata memiliki kekebalan tubuh dan daya adaptasi yang lumayan tinggi.

Karena itulah tidak mengherankan jika populasi kecoak dunia semakin meningkat akibat sulit dibasmi dengan insektisida.

Sistem kekebalan tubuh yang baik membuat mereka dapat beradaptasi dengan cairan kimia yang terkandung dalam obat pembasmi hama.

Baca Juga :  Disebut Ratu Bajak Laut, Menteri Susi Meradang, Semprot Faizal Assegaf

Menurut data penelitian terbaru Universitas Purdue, Amerika Serikat, sistem kekebalan tubuh kecoa dapat diwarisi secara turun menurun.

Bahkan, sistem kekebalan mereka semakin meningkat karena begitu cepat beradaptasi dengan insektisida.

Meskipun keberlangsungan hidup kecoak hanya 100 hari, mereka dapat berkembang dengan cepat. Setiap betina dapat memproduksi hingga 50 butir telur setiap 3 bulan, sehingga populasi kecoa cepat meroket.

Baca Juga :  Disebut Ratu Bajak Laut, Menteri Susi Meradang, Semprot Faizal Assegaf

“Kecoa dapat mengembangkan sistem kekebalan pada berbagai jenis insektisida. Sehingga semakin sulit untuk membasmi serangga ini dengan bahan kimia,” ujar Michael Scharf, salah satu peneliti Universitas Purdue, dikutip dari Independent.

Dalam mengendalikan populasi kecoa, peneliti menganggap gel abamectin mampu membasmi mereka. Insektisida juga masih menjadi komponen penting untuk mengendalikan populasi kecoa.

Baca Juga :  Disebut Ratu Bajak Laut, Menteri Susi Meradang, Semprot Faizal Assegaf

Cara lain membasmi kecoak di luar insektisida, bisa dengan perangkap dan peningkatan gaya hidup bersih. Kehadiran kecoa dapat memicu berbagai penyakit seperti, asma, tifus, dan diare.

www.tempo.co

Iklan
Loading...