JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

UNS Panen Padi Hitam Intan Semar

Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melakukan panen padi hitam yang diberi nama Intan Semar, di Persawahan Desa Ngijo Wetan, Tasikmadu, Karanganyar, Selasa (30/7/2019). Humas UNS
loading...
Loading...
Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melakukan panen padi hitam yang diberi nama Intan Semar, di Persawahan Desa Ngijo Wetan, Tasikmadu, Karanganyar, Selasa (30/7/2019). Humas UNS

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM– Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melakukan panen padi hitam yang diberi nama Intan Semar, di Persawahan Desa Ngijo Wetan, Tasikmadu, Karanganyar, Selasa (30/7/2019). Panen dilakukan oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS, Prof Dr Widodo Muktiyo.

Tim Peneliti Padi Hitam UNS dibawah pimpinan Prof Sutarno telah mengembangan varietas unggul padi hitam sejak tahun 2015. Yaitu diawali dengan mengerjakan proses pemuliaan padi hitam jenis Cempo Ireng.

Prof Sutarno mengatakan tanaman asli Cempo Ireng sangat tinggi, hampir setinggi manusia berdiri, dan umurnya sangat panjang yaitu 140 hari. Meskipun jenis Cempo Ireng telah dijual bebas di pasaran sebagai benih, ternyata kualitas tanamannya belum seragam. Langkah-langkah pemuliaan dimulai dengan memberikan radiasi-gamma pada benih dengan dosis 200 Gy dan 300 Gy di PAIR BATAN Jakarta Selatan.

“Benih ini kemudian ditanam, diseleksi kualitas tanamannya terutama seleksi berdasarkan umur cepat berbunga dan ketinggian tanaman. Benih hasil seleksi kemudian ditanam lagi, seleksi, ditanam lagi hingga generasi tanaman M5 sudah menunjukkan sifat seragam baik umur dan ketinggian,” ujar Prof Sutarno dalam rilis.

Baca Juga :  Senam Semar, Awali Pencanangan UNS Sebagai Kampus Sehat

Menurut Prof Sutarno, tinggi tanaman saat ini sudah mencapai 110-120 Cm dengan umur tanaman 100 Hari Sesudah Tanam (HST) dengan kondisi tanaman yang subur, kini ditanam di Desa Ngijo Wetan, Tasikmadu Karanganyar. Tim juga telah mencoba menanam di Daerah Taru, Gatak, Sukoharjo dan Pakahan, Jogonalan, Klaten, hasilnya sangat menyenangkan karena tidak pernah gagal.

“Setengah gagal terjadi ketika tanam M3 terkena angin besar, saat itu tinggi tanaman masih sangat menjulang,” ujarnya.

Prof Sutarno menambahkan, serangan hama sundep di Klaten dialami oleh padi hitam, tetapi proses recovery-nya cukup bagus. Hama tikus yang menyerang Tasikmadu juga mengakibatkan kerusakan tanaman di umur awal, tetapi selanjutnya dapat diatasi.

Sementara itu, menurut Prof Sutarno, kegiatan pemuliaan ini sebagian besar didukung oleh dosen dan mahasiswa dari Fakultas Pertanian di bawah bimbingan Prof Bambang Pujiasmanto, Prof Nandariyah dan Dr Parjanto. Kemudian kajian di Fakultas MIPA dibimbing Prof Ari Handono Ramelan, Riyatun MSi dan Suharyana MSc.

Saat ini, kata Sutarno, bulan Juli 2019 sudah diperoleh 6 Galur Harapan yang siap diuji ketahanan hama dan penyakitnya, ketahanan terhadap musim dan lokasi penanaman, serta uji daya hasil. Uji ini harus dilakukan di laboratorium berkompeten yakni di Balai Padi Sukamandi Jawa Barat.

Baca Juga :  UNS Gelar Sosialisasi SNMPTN, UTBK dan SBMPTN Kepada SMA/MA/SMK se-Soloraya

Hal ini merupakan langkah berat dengan biaya yang cukup mahal. Setelah serangkaian hasil uji diperoleh maka siap didaftarkan di Departemen Pertanian untuk dikeluarkan sertifikat sebagai benih unggul.

Sementara itu, Prof Bambang Pujiasmanto menambahkan, bahwa dukungan dari pemegang kebijakan dalam hal ini UNS sangat diharapkan untuk mendukung tim mencapai cita-cita besar melepaskan varietas baru padi hitam dengan nama Intan Semar ini.
“Padi hitam ini memiliki manfaat yaitu antioksidan, sehingga diharapkan masyarakat mulai beralih untuk mengkonsumsi padi hitam karena lebih sehat,” kata Prof Bambang. Triawati PP

Loading...