loading...
Loading...
Lasianto (kiri) didampingi Johan Wahyudi. Foto/istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM- Lelaki 53 tahun itu bergegas menemui Petugas Haji Kloter 8 SOC Solo di mushola hotel Mekah. Meskipun ngantuk dan lelah, sekitar jam 21.30, malam itu, beliau harus melakukan koordinasi.

Banyak informasi harus disampaikan agar para jamaah haji bisa menjalankan ibadahnya dengan aman dan nyaman.

Begitulah keseharian Kepala Seksi Pemberdayaan Wakaf di Kanwil Kementerian Agama Semarang.

Bapak tiga anak ini total mengabdikan dirinya sebagai Ketua Kelompok Terbang (Kloter) 8 SOC Solo. Semua bertujuan agar jamaah haji bisa dilayani dengan baik.

“Bagaimana mana mungkin bisa istirahat dengan tenang jika ada tanggung jawab yang belum terselesaikan. Saya pilih tidak tidur asalkan jamaah haji bisa melaksanakan ibadahnya dengan lancar,” terang mantan Kepala Seksi Sistem Informasi PAI di Bidang Pendidikan Agama Islam ini seperti ditulis salah satu Calhaj kloter 8, Johan Wahyudi melalui pesan Whatsapp, Rabu (31/7/2019).

Baca Juga :  Dihadiri Pejabat Polda, Polres Sragen Peringati Maulid Nabi dengan Bantu Ponpes di Desa Terpencil Gesi. Kapolres Bagikan Santunan Anak Yatim

Tahun 2019 menjadi tugas ketiganya melayani jamaah haji selain tahun 1998 dan 2010. Tidak mudah jadi Petugas Haji Indonesia.

Lelaki penyuka bakso ini harus mengikuti dua jenis ujian atau seleksi. Seleksi pertama dilakukan di Manyaran sebagai wakil dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah, sedangkan seleksi kedua diikuti di Hotel Patrajasa Semarang yang diikuti semua calon petugas dari seluruh Jawa Tengah.

Menurutnya, situasi jamaah haji 2019 menjadi masa haji yang paling baik. Ini disebabkan oleh semua kebutuhan jamaah haji sudah dicukupi oleh pemerintah.

Sangat berbeda dengan musim haji 1998 dan 2010 dimana semua jamaah haji harus masak sendiri.

Baca Juga :  Misteri Tabrak Lari Tewaskan 2 Pemotor di Ngrampal Sragen Masih Gelap. Polisi Sebut Minimnya Saksi Jadi Kendala 

“Tahun ini konsumsi sudah disediakan pemerintah. Jadi, jamaah haji diminta fokus ke ibadah saja. Bahkan transportasi ke Masjidil Haram pun disediakan 24 jam” jelasnya.

Dari beberapa kali jadi petugas haji, bisa ia simpulkan bahwa modal utama jamaah haji adalah fisik yang prima, taat aturan di negara tujuan, dan mandiri.

“Jujur saya katakan, Kloter 8 SOC Solo yang berisi jamaah haji dari Kabupaten Sragen dan Klaten ini menjadi jamaah haji yang paling tertib. Mudah sekali diatur. Tidak pernah melanggar aturan, termasuk di hotel” tutur pria yang tinggal di Kedungmundu Semarang menutup obrolan. (*)

 

Loading...