JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Sudah Deklarasi Bebas BABS, Sebagian Warga di Tangen Sragen Ternyata Mengaku Masih BAB di Kakus Cemplong. Kelompok Dosen UT Langsung Tergerak  Bantu Jamban untuk 5 KK 

Direktur UT Surakarta, Yulia saat meresmikan bantuan jamban bagi warga di Desa Ngrombo, Tangen, Sragen, Selasa (20/8/2019). Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Direktur UT Surakarta, Yulia saat meresmikan bantuan jamban bagi warga di Desa Ngrombo, Tangen, Sragen, Selasa (20/8/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Meski sudah mendeklarasikan bebas buang air besar sembarangan (BABS), masih banyak warga di Sragen Utara, utamanya di Tangen, yang ternyata belum punya jamban sendiri. Mereka masih mengandalkan kakus cemplong atau WC alam yang dibuat dengan melubangi tanah.

Fakta itu terungkap saat peresmian bantuan jamban bagi warga di Dukuh Glinggang, Desa Ngrombo, Tangen, Selasa (20/8/2019). Bantuan jambanisasi itu diberikan oleh kelompok Abdimas Universitas Terbuka Surakarta kepada lima warga di dukuh tersebut.

“Masih ada beberapa warga yang memang nggak punya jamban Mas. Punyanya WC cemplong atau WC gali. Kalau mbuang (BAB) ya di WC cemplong itu,” ujar Pardi, salah satu warga Glinggang, Ngrombo kepada JOGLOSEMARNEWS.COM yang hadir di acara itu.

WC cemplong itu biasanya dibuat di pekarangan atau kebun belakang rumah. WC dibuat dengan menggali lubang tanah lalu tinggal diberi pancatan dari kayu atau bambu melintang di atas lubang.

Baca Juga :  Berkah HUT Polri, 22 Warga Sragen Hari Ini Dapat Gratisan Mengurus SIM. Kasat Ungkap Ada Sponsor Yang Mbayari!

Lalu WC ditutup dengan anyaman bambu, tleser atau penutup sederhana lainnya. WC ini biasanya banyak ditemui di warga pedesaan tak terkecuali di Tangen.

Direktur UT Surakarta, Yulia Budiwati mengatakan bantuan jambanisasi itu diberikan sebagai kegiatan wajib bagi semua dosen melalui kelompok Abdimas setiap tahun kepada masyarakat. Lebih dari itu, program Abdimas dengan jambanisasi itu juga bertujuan memberi manfaat kepada masyarakat di luar pendidikan.

“Kebetulan ada salah satu alumni mahasiswa kami dari wilayah Ngrombo Tangen ini. Dia mendapat beasiswa bidik misi. Kemarin dari tim melakukan survei dan memutuskan membuat jamban keluarga di sini. Ini sebagai contoh pelayanan desa,” paparnya.

Yulia menguraikan ada lima KK yang menerima bantuan jamban senilai total Rp 20 juta. Pihaknya mengapresiasi lantaran jambanisasi dibangun bersama dengan gotong royong oleh warga tanpa harus keluar biaya pengerjaan.

Menurutnya, ke depan program itu akan dipelajari lagi dan akan dikembangkan meluas lagi.

Camat Tangen, Purwo Santoso menyampaikan terimakasih kepada keluarga besar UT Surakarta yang sudah memberikan bantuan jambanisasi di Ngrombo. Ia berharap bantuan itu menjadi stimulan bagi warga lain untuk mulai tergerak membangun jamban dan menjaga perilaku pola hidup bersih dan sehat.

Baca Juga :  Polemik Perobohan Tugu Perguruan Silat di Sragen, Batalyon Raider 408: Dibongkar Atau Tidak Dibongkar, Kami Dukung Pemkab!

Pihaknya tak menampik memang masih ada keluarga yang belum punya jamban. Deklarasi ODF atau bebas BABS memang dilakukan namun belum semuanya merata. Ia justru berharap program jambanisasi itu bisa membuat warga lain tergerak membangun jamban secara swadaya dan tak hanya tergantung bantuan saja.

“Kalau nggak bisa satu rumah satu, ya minimal dua atau tiga rumah buat satu jamban diangkat bareng-bareng. Ke depan kami juga akan menggerakkan arisan jamban, sehingga nantinya semua warga bisa punya jamban sendiri,” tuturnya.

Foto/Wardoyo

Perihal jumlah warga atau KK di Tangen yang belum punya jamban, Purwo mengaku belum memegang data riil karena dirinya baru 1,5 bulan menjabat camat di Tangen. Wardoyo