JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Menengok Pilkades Paling Unik dan Adem Sedunia di Gebang Sragen. Lawan Istri Sendiri, Coblosan Baru Dibuka Sudah Banjir Ucapan Selamat!

Pasangan suami istri di Pilkades Gebang Masaran Sragen, Jumanto didampingi sang istri. Foto/Wardoyo
Pasangan suami istri di Pilkades Gebang Masaran Sragen, Jumanto didampingi sang istri. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Pilkades serentak di Sragen hari ini, Kamis (26/9/2019) resmi digelar di 167 desa. Sebanyak 465 calon bersaing memperebutkan tampuk pimpinan desa di 20 kecamatan di Bumi Sukowati.

Aroma persaingan panas mengiringi sebagian besar Pilkades. Namun, ada beberapa Pilkades yang terkesan adem ayem lantaran pertarungan hanya melibatkan keluarga atau suami istri.

Kondisi itu terjadi di beberapa desa, salah satunya di Desa Gebang, Kecamatan Masaran.

Di desa ini, Pesta Demokrasi lima tahunan tingkat desa itu diikuti oleh petahana, Jumanto dan sang istri, Novi Purwidiyanti.

Tiadanya lawan yang maju, menjadi alasan sang petahana menggandeng istrinya untuk mendampingi maju. Pasalnya, aturan memang mewajibkan Pilkades bisa digelar minimal dua calon alias tak ada lawan kotak kosong.

Saat ditemui di kediamannya, Dukuh Kedungwaduk RT 3, Desa Gebang, pagi ini, Jumanto dan sang istri tampak lebih santai dan sumringah.

Meski sudah hampir dipastikan kembali menang, suasana kesibukan dari warga dan relawan masih terlihat di kediaman Jumanto. Beberapa warga, kerabat dan ibu-ibu juga hilir mudik mendatangi kediaman sang petahana untuk memberi salam dan mengucapkan dukungan.

Bagaimana pasutri itu bisa melenggang tanpa ada lawan lain? Ternyata Jumanto mengatakan sejak awal mayoritas warganya memang masih antusias menghendaki dan mendukungnya untuk mengemban amanah sebagai Kades.

“Sejak awal saya memang mendaftar bersama istri. Lalu ada dua calon lain yang mendaftar. Tapi sampai hari H, ternyata berkasnya dinyatakan tidak lengkap. Sehingga akhirnya saya dan istri saya yang lolos. Karena tidak ada lawan, makanya istri saya suruh ikut nyalon untuk melengkapi saya. Karena memang tidak boleh ada calon lawan kotak kosong,” papar Jumanto kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

Lebih lanjut, pria berkumis tebal itu mengatakan di Desa Gebang sendiri total ada 4.470 warga yang terdaftar di daftar pemilih tetap (DPT) dengan jumlah jiwa mencapai 6.000.

Baca Juga :  Kebakaran Hebat Hanguskan Rumah Tukang Loper Roti di Doyong Miri. Hanya Dalam 3 Jam, Rumah dan 2 Sepeda Motor serta Harta Benda Hangus Tak Tersisa, Pemilik Terpaksa Ngungsi

Ia mengaku bersyukur dari 4.470 jiwa itu, tidak ada yang mencalonkan diri. Menurutnya hal itu juga tak lepas dari keinginan warga yang masih berkehendak menberikan kepercayaan dan dukungan kepadanya agar menjabat di periode kedua.

“Saya sebelumnya memang sudah keliling di 15 dukuh, 38 RT. Ternyata antusias warga masih meminta saya menjabat lagi. Alhamdulillah warga masih mempercayakan kepada saya,” terangnya.

Kendati nyaris tanpa perlawanan, Jumanto mengaku tetap membentuk kader dan relawan. Bahkan dirinya juga memasang spanduk dan gambar sosialisasi di lapangan.

Termasuk, kampanye visi misi, ia dan istrinya juga melakukan tahapan itu. Hanya bedanya, kampanye dilakukan bareng dan sang istri justru ikut mengkampanyekan programnya.

“Saya kampanyenya mendampingi Bapak, melanjutkan program pembangunan yang sudah dijalankan. Jadi kampanye saya malah jangan coblos saya, tapi coblos Bapak,”  timpal Novi sembari tersenyum.

Lebih lanjut Jumanto menguraikan tingginya kepercayaan warga juga tak lepas dari program yang sudah dijalankannya dengan baik selama memimpin roda pemerintahan Desa Gebang 6 tahun terakhir.

Selain pemerataan pembangunan jalan di 15 dukuh, perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi dan petani juga diprioritaskan selama pemerintahan di periode pertamanya.

“Dana desa saya wujudkan untuk pengecoran dan perbaikan infrastruktur di 15 dukuh secara merata. Lalu kita bangun jalan usaha tani dan kembangkan BUMDes. Khusus BUMDes, memang kita berdayakan untuk membantu melayani masyarakat. Selain melayani pembayaran tagihan listrik, PBB dan pajak, juga memberikan layanan simpan pinjam. Ada simpan pinjam ibu-ibu, lalu ada dana kemasyarakatan dan untuk kalangan petani,” urainya.

Lebih lanjut, Jumanto menjelaskan program BUMDes kemasyarakatan itu diwujudkan dengan membantu warga yang punya kerja dan kekurangan modal. Mereka bisa mengambil di simpan pinjam BUMDes, setelah selesai kerja dikembalikan dengan jasa yang kecil.

Baca Juga :  Paslon Yuni-Suroto Ciptakan Sejarah Baru di Pilkada Sragen. Ajak Masyarakat Antusias Datang ke TPS, Target Raih Suara 80 % 

Lantas petani yang akan menggarap sawah dan kekurangan modal untuk membeli pupuk, juga difasilitasi pinjaman dari BUMDes.

“Nah selesai panen baru dikembalikan dengan tambahan jasa. Bukan bunga, tapi jasa dan nilainya juga jauh lebih ringan. Ini yang sangat dirasakan membantu masyarakat. Termasuk mereka yang budidaya perikanan,  pertukangan, juga bisa dibantu pinjaman modal lewat BUMDes,” urainya.

Kerja keras dan pelayanan ke masyarakat itulah yang rupanya menjadi ikatan tersendiri sehingga warga akhirnya tetap mendorong Jumanto untuk tetap memimpin Gebang di periode keduanya.

Lantas apa hal yang dirasakan berbeda ketika maju di periode pertama dengan rival sengit dan periode kedua dengan istri sendiri?

Jumanto mengaku yang jelas dengan lawan istri sendiri, beban pemikiran menjadi lebih ringan. Jika periode pertama dengan pertarungan sengit dirinya nyaris tak bisa tidur menjelang hari coblosan, kali ini, dia bisa lebih rileks menjelang hari H.

“Yang jelas lebih santai dan suasananya adem ayem. Tadi malam juga kumpul dan ngobrol dengan warga. Tapi tadi malam Alhamdulillah bisa tidur pulas dan saya tidur sekitar jam 01.30 WIB. Kalau dulu pas periode pertama malam coblosan ya nggak bisa tidur. Adanya dzikir dan doa terus sampai subuh,” terangnya.

Meski sudah hampir pasti ngandang, Jumanto menggaransi tingkat kehadiran warga tetap tinggi. Pasalnya dari relawannya sudah membentuk tim masing-masing dukuh yang menggerakkan warga untuk datang menyalurkan hak pilih ke TPS dan jangan sampai Golput.

“Insyaallah 80 persen kehadiran bisa. Yang 20 persen tidak hadir karena sebagian besar juga merantau,” tandas Jumanto.

Karena keunikannya, bahkan baru jam 10.00 WIB dan pemungutan suara baru beberapa jam dibuka,  telepon Jumanto sudah banyak berdering dari warga, kolega dan relawan yang menelepon memberikan ucapan selamat. Wardoyo