loading...
Peserta antusias mengikuti pembelajaran praktik baik Tanoto Foundation. Dok. Tanoto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kepala Seksi SMP PTK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Tarmo, mengatakan, saat ini sudah masuk abad digital dan revolusi industry 4.0. Lantaran itu kemampuan mengolah informasi, memvisualkan dan menuliskan karya sangat penting dikuasai siswa sebagai bagian untuk mendorong percepatan pendidikan di Wonogiri.

“Kemampuan abad 21 dan selaras dengan era revolusi 4.0 yang harus dikuasai oleh siswa yaitu pertama, 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity), kedua pembelajaran dengan HOTS atau berfikir tingkat tinggi, yang ketiga adalah literasi, dan yang keempat adalah PPK,” ungkap dia dalam pembukaan Pelatihan Praktik Baik Pembelajaran di SMP dan MTs kerjasama Pemkab Wonogiri dan Tanoto Foundation di RM Alami Sayang, Kamis (24/10)

Tarmo menjelaskan, secara bertahap program PINTAR telah melatih kemampuan ini dalam pelatihan di modul I dilanjutkan dengan modul II. Dalam modul I contohnya, dibuat unit khusus tentang menyusun dan mengembangkan pertanyaan tingkat tinggi. Selain itu pola pembelajaran didorong agar siswa-siswa berkelompok, berpasangan dan individu dengan berbagai cara agar kemampuan soft skill siswa benar-benar terasah. Sedang di Modul II ini lebih banyak kepada konten mata pelajarannya.

Baca Juga :  Prosentase Pemudik Wonogiri yang Panas Batuk Pilek Ternyata Hanya Sedikit, Dari Jumlah 21 Ribu Terdata Cuma 40an Orang

“Karena itu, ayo kita dorong dan laksanakan sebaik-baiknya ilmu yang didapatkan dalam pelatihan ini,” tandas dia.

Spesialis pelatihan guru dan sekolah Tanoto Foundation Jawa Tengah, Saiful Huda Shodiq menjelaskan mata pelajaran memiliki karakter keterampilan dan proses tersendiri yang perlu dilatihkan secara berkelanjutan kepada siswa. Misalnya, dalam pembelajaran matematika yang berciri melatihkan siswa keterampilan matematika seperti penalaran, pembuktian, representasi, koneksi, komunikasi dan proses: penyelidikan, penemuan, dan pemecahan masalah.

“Dalam pembelajaran matematika, kita akan mencotohkan dan membuat pemodelan bagaimana siswa itu tidak hanya diberikan rumus. Namun didorong dan difasilitasi untuk menemukan rumus tersebut,” kata Saiful Huda.

Menurut Saiful, dengan cara ini, maka potensi anak dapat dikembangkan secara maksimal. Di antaranya rasa ingin tahu dan berimajinasi. Di mana kedua hal tersebut merupakan dasar bagi kreativitas.

Dalam pembelajaran IPS, guru dilatih mengembangkan keterampilan IPS dan sikap sosial siswa. Keterampilan IPS yang dimaksud adalah keterampilan berpikir kritis, mengolah informasi, berperan dalam kelompok, dan mampu mengkonstruksi pengetahuan baru. Sikap sosialnya seperti peduli, jujur, santun, dan bertanggungjawab. Sementara pada pembelajaran IPA, kekhasannya ada pada menemukan jawaban dari persoalan dengan cara metode ilmiah.
Fasilitator PINTAR Mapel IPA Parmanto, menjelaskan dalam salah satu contoh pelatihan, ketika disimulasikan tentang belajar perpindahan panas, maka tidak cukup hanya dijelaskan secara teori dan atau menghitung rumus. Namun siswa difasilitasi untuk membuat alat sederhana penahan panas.

Baca Juga :  Capai 52 Miliar Lebih, Segini Anggaran Recovery Warga Wonogiri Terdampak Corona, Pakai Program Jaring Pengaman Sosial

“Sebagai contoh, siswa ditugaskan membuat botol yang bisa membuat air panas terjaga panasnya. Siswa akan bereksprimen membuat wadah penahan panas dari berbagai bahan seperti alumunium foil, koran bekas, kain bekas, atau kardus bekas, untuk menemukan bahan yang paling bagus menjaga air tetap panas. Mereka akan belajar penerapan konsep perpindahan panas dalam kehidupan sehari-hari,” beber dia. Aria