JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Bos Bukalapak: Banyaknya Masalah Jadi Potensi Pengembangan Bisnis Startup

Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kedua kanan) didampingi Founder dan CEO Bukalapak Achmad Zaky (ketiga kanan) dan Co-Founder dan President Bukalapak Fajrin Rasyid (kanan) meninjau stan mitra Bukalapak saat Perayaan HUT ke-9 Bukalapak di Jakarta, Kamis (10/1/ 2019) / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM -Berbagai persoalan di tanah air seperti pengangguran, kemiskinan hingga indeks daya saing justru dinilai menjadi potensi pengembangan bisnis startup.

Demikian dikatakan oleh salah satu pendiri e-commerce Bukalapak, Muhammad Fajrin Rasyid.

“Kalau dibilang Indonesia masih banyak masalah, mungkin iya. Namun jangan hanya melihat dari sisi itu saja. Justru karena dibilang banyak masalah itu potensi mengembangkan startup di Indonesia besar,” ujar Fajrin, saat berbicara di acara Jogja Startup Day 2019 di Universitas Amikom Yogyakarta, Sabtu (2/11/202.

Sebagai contoh, Fajrin bercerita, sepanjang tahun ini saja, ia sudah tiga kali diundang untuk bicara di Korea Selatan. Sebab di negeri ginseng nan maju industrinya itu ternyata ekosistem startupnya tak semaju dan se-menggeliat seperti di Indonesia.

Lebih jauh Fajrin yang juga Co-Founder dan President Bukalapak, menuturkan para pemula yang berniat terjun bisnis startup harus punya mental tahan banting.

Baca Juga :  Kantongi Identitas Pelaku Pemerasan dan Pelecehan Seksual di Bandara Soekarno-Hatta, Polisi Tetapkan Oknum Petugas Rapid Test Itu sebagai Tersangka

Pasalnya, selama ini sejumlah startup yang terekspos di media massa kebanyakan yang skalanya sudah besar, sukses dan mapan.

Padahal startup yang gagal atau bangkrut jumlahnya lebih banyak. “Sebanyak 90 persen atau ada yang bilang pula 95 persen startup yang dibuat itu gagal (diterima pasar),” ujar Fajrin

Hal ini karena jarang ada masalah sosial ekonomi di negara tersebut. “Di Korea transportasi sudah baik, pendidikan sudah baik. Kalau ada temuan misalnya drone atau inovasi apa, lalu diakusisi Samsung atau LG, dan selesai,” ujar alumni Harvard University itu.

Oleh karena itu, menurut Fajrin, masih banyaknya persoalan sosial di Indonesia sebetulnya bisa mendukung pengembang bisnis startup untuk mencari terobosan yang sifatnya menyelesaikan masalah itu. Namun ia juga mengingatkan, upaya merintisnya jelas tak gampang.

Tak berbeda dengan bisnis lainnya, terjun di bisnis startup butuh mental kuat dan tak gampang menyerah. Mental siap gagal ini salah satunya dimulai dengan memiliki visi yang kuat sehingga pelaku bisnis startup bisa kembali bangkit jika terpuruk.

Baca Juga :  Bersepeda Kini Diatur dalam Permenhub, Sanksi bagi yang Melanggar Diserahkan ke Pemda: Bisa dengan Sita Sepeda

Di Bukalapak, kata Fajrin, visi yang dijaga adalah bagaimana produknya mencapai tujuan bisa mengembangkan sebanyak banyak usaha kecil menengah terus berkembang dengan bantuan kemudahan teknologi.

Dengan begitu, jika menyerah di tengah jalan saat, startup itu digoncang persoalan, yang dipikirkan dampaknya ke depan. Bukan hanya pada orang orang di perusahaan itu saja tapi juga pengguna Bukalapak.

Saat ini, ujar Fajrin,tak kurang 5 juta usaha kecil menengah bernaung sebagai mitra Bukalapak. Dan 2.000 an karyawan dipekerjakan.

“Impact-nya akan sangat besar jika kami semua yang ada di Bukalapak mudah menyerah saat ada masalah,” ujarnya.

Fajrin menuturkan sering orang berpikir terjun ke bisnis startup hanya karena melihatnya sebagai jalan mudah sukses cepat kaya raya. “Padahal startup yang sukses sekarang kebanyakan jalannya tak mulus,” ujarnya.

www.tempo.co