loading...
Loading...
Suti, korban umroh First Travel asal Karanganyar. Foto/Wardoyo

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM Putusan Mahkamah Agung yang memutuskan seluruh aset milik First Travel disita untuk negara, membuat syok para korban biro perjalanan haji bermasalah itu.

Tak terkecuali korban asal Karanganyar. Salah satunya adalah Suti (51). Warga Mandungan, RT 3/7 Kelurahan Jungke , kecamatan Karanganyar Kota itu mengaku sangat terkejut atas putusan dari MA itu.

Wanita yang berprofesi sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) penyapu jalan itu pun meminta Presiden Jokowi untuk turun tangan mengembalikan uang para korban.

“Bapak presiden tolong bantu kami agar uang bisa kembali. Saya bersama jamaah lain, tidak ikhlas kalau uang kami tersebut  dirampas untuk Negara. Berapapun jumlahnya, kami terima, yang penting uang bisa kembali,” papar Suti, Rabu (20/11/2019).

Suti menuturkan harapan turun tangan Presiden itu tak lepas dari putusan MA yang menyatakan uang hasil penipuan First Travel dirampas untuk negara.

Menurutnya ia tak sependapat karena uang itu bukan hasil kejahatan korupsi. Sehingga seharusnya uang itu bukan dirampas dan disita untuk negara.

Baca Juga :  Korban Wabah Corona Berjatuhan, Belasan Tenaga Kerja asal China dan Taiwan di Karanganyar Dipantau Ketat. Disnaker Sebut Ada Ratusan TKI Tersebar di Beberapa Negara!

“Terus terang saya terkejut dengan keputusan MA tersebut. Kenapa dirampas untuk negara, Itu kan uang kami, bukan uang hasil kejahatan, bukan uang negara. Saya minta agar uang saya dikembalikan,” urainya.

Ia menceritakan, sebanyak 45 orang warga Karanganyar menjadi korban biro perjalanan umroh, First Travel. Suti menuturkan, awalnya dia menerima promo dari First Travel yang menawarkan umroh dengan biiaya murah.

Menurut Suti, dia ditawarkan dapat berangkat umroh dengan biaya Rp 14 juta, pada tahun 2014 lalu.

Karena tertarik, Suti lantas membayar lunas biaya  umroh tersebut melalui rekening First Travel. Saat itu, menurut Suti, dia bersama 45 orang warga Karanganyar lainnya, dijanjikan akan segera diberangkatkan.

“Saya tertarik karena biayanya murah jika dibandingkan dengan biro lain. Dari hasil uang tabungan sebagai penyapu  jalan, saya melunasi  biaya umroh tersebut. Saya transfer ke rekening First Travel,” tuturnya.

Baca Juga :  Telaga Madirda, Pesona Indah di Kaki Gunung Lawu

Setelah ditunggu selama satu tahun, Suti tidak juga  diberangkatkan. Bahkan, oleh salah satu petugas First Travel, dia diminta  tambahan biaya Rp 2,5 juta. Suti pun menurutinya.

Namun, lagi-lagi, Suti belum juga berangkat. Ketika petugas yang mengaku dari First  Travel kembali meminta tambahan biaya, Suti menolaknya.

“Jika ditotal, ada sekitar Rp 20 juta telah dia setorkan ke biro perjalanan haji itu,” pungkasnya. Wardoyo

Loading...