loading...
Loading...
Rawuh Suprijanto. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kelesuan ekonomi di Sragen agaknya tak terelakkan lagi. Tak cuma pasar-pasar yang kehilangan pengunjung, kalangan pabrik juga mulai terimbas.

Data di Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Sragen mengungkap fakta banyaknya pabrik-pabrik yang mulai merumahkan karyawan atau buruhnya dalam beberapa waktu terakhir.

Ketua SPSI Sragen, Rawuh Suprijanto mengungkapkan hingga kini banyak pabrik-pabrik di Sragen yang mulai merumahkan buruhnya. Data yang tercatat di SPSI, total ada sekitar 4.000 lebih buruh yang sudah dirumahkan sejak tiga bulan lalu.

Menurut Rawuh, sepinya order dan lesunya perekonomian menjadi alasan pabrik-pabrik itu memutuskan merumahkan buruh-buruh mereka.

“Saat ini kondisi perusahaan-perusahaan sedang sakit. Dengan bukti sudah ada 4.000 buruh yang saat ini sudah dirumahkan,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM, Minggu (17/11/2019).

Baca Juga :  Trauma Rentenir, Ratusan Pedagang Pasar Gondang Sepakat Tolak Praktik Pinjaman Berkedok Koperasi dari Orang-orang Batak 

Rawuh menguraikan ribuan pabrik yang dirumahkan itu terdeteksi berasal dari tujuh pabrik di Sragen. Mayoritas adalah pabrik-pabrik tekstil seperti BATI, DMST 1 hingga 3.

Hampir semua buruh yang dirumahkan itu adalah buruh dengan status kontrak. Sehingga secara posisi, mereka juga lemah untuk bisa menuntut pesangon.

“Rata-rata pasrah dan nggak nuntut. Lha gimana wong statusnya hanya kontrak,” terangnya.

Rawuh menambahkan aksi PHK massal itu terjadi rata-rata karena pabrik beralasan order sepi dan perekonomian lesu.

“Rata-rata alasannya sedang sepi sehingga harus mengurangi buruh,” tukasnya.

Aksi perumahan massal buruh itu juga dibenarkan oleh kalangan buruh. Salah satu buruh di pabrik tekstil di Sragen, Tri, menuturkan dalam dua bulan terakhir memang banyak temannya yang sudah dirumahkan.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut di Tangkil Sragen, Mobil Panther Gasak Pemotor Hingga Tewas Mengenaskan

“Rata-rata yang kontrak baru. Alasannya karena lagi sepi, jadi bahasanya diliburkan dulu sebulan dua bulan. Nanti kalau sudah normal janjinya akan dipanggil lagi. Tapi namanya orang apalagi yang sudah keluarga, kan nggak mungkin nggak kerja lebih dari sebulan hanya untuk nunggu panggilan. Makanya sebagian besar langsung pindah nyari lowongan lain,” tandasnya. Wardoyo

Loading...