JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Emosi Karena Anak Tak Bisa Diajari Matematika, Ibu Ini Terkena Serangan Jantung

ilustrasi / tempo.co
madu borneo
madu borneo
madu borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi orang tua agar tak terlalu ekstrem maupun emosi dalam mengajari anak-anaknya Matematika.

Seorang ibu di Cina bernama Wang (36), sampai-sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami serangan jantung.

Penyebabnya, dia tak bisa menahan kekesalan membimbing anak laki-lakinya yang duduk di kelas tiga SD dalam menyelesaikan PR (pekerjaan rumah) matematika.

Melansir AsiaOne, peristiwa itu terjadi pada 1 November 2019, dimana identitas lengkap Wang tidak dipublikasi.

Wang mulai marah ketika berulang kali menjelaskan cara menyelesaikan soal matematika yang tidak juga dapat dipahami putranya pada 1 November.

Baca Juga :  Lockdown Paksa Warga Miskin Myanmar Makan Tikus dan Ular demi Bertahan Hidup

“Saya sudah menjelaskan berkali-kali kepadanya tetapi dia masih belum paham. Saya sangat marah dan tiba-tiba jantung saya berdebar sehingga tidak bisa bernapas dengan benar,” kata Wang.

Wang pun segera memanggil suaminya agar membawanya ke rumah sakit.

Yang Xiaoxue, dokter di Rumah Sakit mendiagnosa Wang mengalami serangan jantung.

“Dia dibawa tepat waktu. Jika terlambat dia bisa menderita gagal jantung,” kata Yang.

Stres dan diet tidak sehat juga masuk dalam daftar penyebab terbesar meningkatnya insiden penyakit jantung di antara pasien-pasien muda seperti Wang.

Baca Juga :  WHO Berharap Ada Satu Atau Dua Vaksin Covid-19 Bisa Digunakan Massal Sebelum Akhir 2020

Wang yang membantu anak laki-lakinya mengerjakan PR setiap malam mengaku sering kesal kepada anaknya. Akan tetapi dia tidak pernah menyangka hal itu akan berdampak serius pada kesehatannya.

Psikolog Florence Huang dari Hongkong mengatakan bahwa orang tua harus belajar untuk mengelola emosi mereka sekalipun stress yang tidak dapat dihindari. Sebab hal ini akan berpengaruh pada kesehatan dan berdampak buruk pada anak-anak.

“Ketika keadaan dalam rumah memancing kemarahan yang berkepanjangan, ini akan mempengaruhi mental anak-anak yang mengarah pada menyalahkan diri sendiri, perasaan malu, penghinaan dan ketidakberdayaan,” kata Huang.

www.tempo.co