loading...
Loading...

JAKARTA, Joglosemarnews.com – Kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi orang tua agar tak terlalu ekstrem maupun emosi dalam mengajari anak-anaknya Matematika.

Seorang ibu di Cina bernama Wang (36), sampai-sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami serangan jantung.

Penyebabnya, dia tak bisa menahan kekesalan membimbing anak laki-lakinya yang duduk di kelas tiga SD dalam menyelesaikan PR (pekerjaan rumah) matematika.

Melansir AsiaOne, peristiwa itu terjadi pada 1 November 2019, dimana identitas lengkap Wang tidak dipublikasi.

Baca Juga :  Tak Puas Dengan 453 Tindikan di Tubuh dan Alat Vitalnya, Lelaki Ini pasang Dua Tanduk di Kepalanya, Wouw!

Wang mulai marah ketika berulang kali menjelaskan cara menyelesaikan soal matematika yang tidak juga dapat dipahami putranya pada 1 November.

“Saya sudah menjelaskan berkali-kali kepadanya tetapi dia masih belum paham. Saya sangat marah dan tiba-tiba jantung saya berdebar sehingga tidak bisa bernapas dengan benar,” kata Wang.

Wang pun segera memanggil suaminya agar membawanya ke rumah sakit.

Baca Juga :  Pria Ini Tikam Mati Istrinya Karena Maniak Bintang Film Bollywood, Lalu Tewas Gantung Diri

Yang Xiaoxue, dokter di Rumah Sakit mendiagnosa Wang mengalami serangan jantung.

“Dia dibawa tepat waktu. Jika terlambat dia bisa menderita gagal jantung,” kata Yang.

Stres dan diet tidak sehat juga masuk dalam daftar penyebab terbesar meningkatnya insiden penyakit jantung di antara pasien-pasien muda seperti Wang.

Wang yang membantu anak laki-lakinya mengerjakan PR setiap malam mengaku sering kesal kepada anaknya. Akan tetapi dia tidak pernah menyangka hal itu akan berdampak serius pada kesehatannya.

Baca Juga :  Gara-gara Makan Sandwich di Peron, Lelaki Ini Diborgol Polisi

Psikolog Florence Huang dari Hongkong mengatakan bahwa orang tua harus belajar untuk mengelola emosi mereka sekalipun stress yang tidak dapat dihindari. Sebab hal ini akan berpengaruh pada kesehatan dan berdampak buruk pada anak-anak.

“Ketika keadaan dalam rumah memancing kemarahan yang berkepanjangan, ini akan mempengaruhi mental anak-anak yang mengarah pada menyalahkan diri sendiri, perasaan malu, penghinaan dan ketidakberdayaan,” kata Huang.

www.tempo.co

Loading...