JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kondisi Terkini Siswa Korban Tragedi SMKN 1 Miri Sragen. Sebagian Masih Pusing Pasca Operasi, Ada 7 Siswa Terpaksa Tak Ikut Ujian 

Ketua Komisi IV DPRD, Sugiyamto bersama anggota saat meninjau kondisi siswa korban ambruknya SMKN 1 Miri, di RSUD Sragen, Kamis (21/11/2019). Foto/Wardoyo


Institut Sains Teknologi Kra
Institut Sains Teknologi Kra
Institut Sains Teknologi Kra
Ketua Komisi IV DPRD, Sugiyamto bersama anggota saat meninjau kondisi siswa korban ambruknya SMKN 1 Miri, di RSUD Sragen, Kamis (21/11/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Musibah ambruknya aula di SMKN 1 Miri Sragen pekan lalu membawa dampak panjang. Tak hanya melukai para siswa, mereka juga harus kehilangan kesempatan mengikuti ujian tengah semester.

Sedianya ujian medio semester ganjil itu digelar mulai Senin (25/11/2019) hingga Kamis (28/11/2019). Ujian digelar selama empat hari.

Kepala SMK Negeri 1 Miri Sragen, Sarno mengatakan tujuh siswa itu tak bisa mengikuti ujian semester lantaran masih dirawat di rumah sakit.

Mereka dirawat di empat rumah sakit. Masing-masing di RS Karima Utama dua siswa, RSUD Sragen 3 siswa, RSUD Moewardi Solo dan RS PKU Muhammadiyah Solo masing-masing satu siswa.

Meski gagal ikut ujian semester di jadwal reguler, para siswa korban ambruknya aula itu masih bisa mengikuti ujian susulan. Jika mereka sudah pulang dan kondisi sehat, maka masih diberikan kesempatan untuk ujian susulan.

“Kalau pun memang nggak memungkinkan, masih ada waktu sampai semester genap menyelesaikan itu,” paparnya Selasa (26/11/2019).

Baca Juga :  316.554 Peserta Dinyatakan Lolos Seleksi Administrasi CPNS Kemenkumham. Masa Sanggah Dibuka Mulai Hari Ini Sampai 6 Agustus

Sarno menguraikan dari keterangan para dokter, sebagian siswa yang menjalani operasi masih mengalami pusing pascaoperasi. Bahkan ada yang mengalami pendarahan pada otak, juga masih mengeluhkan pusing-pusing.

Sementara satu siswa dari RS Karima Utama dirujuk ke RS Moewardi dikarenakan patah tangan dan kaki. Awalnya, siswa itu patah tiga jari tangan yang tidak bisa digerakkan. Ia dirujuk karena alat di Moewardi lebih komplit.

“Semalam itu di cek oleh dokter langsung masih adakah saraf-saraf nya ternyata masih ada walaupun kecil masih ada harapan untuk bisa digerakkan,” terangnya.

Siswa yang mengalami pendarahan otak juga dilaporkan sudah dipindah ke bangsal. Jika sudah tidak mengalami pusing diperbolehkan pulang.

“Kalau di Sragen hari ini operasi satu, sisanya kalau sudah tidak pusing boleh pulang, di scan itu tidak ada apa-apa tapi masih pusing karena terkena benturan itu tadi dan tapi tidak ada gangguan,” pungkasnya.

Baca Juga :  Kabar Baik, Kemenag Siapkan Bantuan Rp 399,9 Miliar untuk 2.666 Madrasah Seluruh Indonesia. Masing-Masing Dijatah Rp 150 Juta

Kabid Pelayanan RSUD Sragen, Sri Herawati mengatakan hingga Selasa (26/11/2019) tinggal dua siswa yang dirawat di RSUD. Selebihnya, lima siswa sudah pulih dan dipulangkan.

“Kondisinya sudah membaik. Tinggal dua orang yang masih dirawat. Termasuk yang kemarin pembengkakan otak juga sudah baik,” tuturnya. Wardoyo