JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Didatangi Wakasek, Orangtua Siswi Korban Teror Tak Pakai Jilbab di SMAN 1 Gemolong, Menolak Tandatangani Surat Damai dari Sekolah. Alasannya Mengejutkan!

Agung Purnomo dan Surat Pernyataan Damai dari sekolah yang ia tolak tandatangani. Foto kolase/Wardoyo
Agung Purnomo dan Surat Pernyataan Damai dari sekolah yang ia tolak tandatangani. Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Agung Purnomo, orangtua siswi kelas X SMAN 1 Gemolong berinisial Z yang menjadi korban teror rohani islam (Rohis) gegara tak pakai jilbab, menolak menandatangani surat pernyataan dari sekolah.

Surat yang dibawa oleh dua Wakasek dan satu guru ke kediaman Agung, dua hari lalu itu ditolak dengan alasan karena belum ada penyelesaian secara riil dari kasus itu.

Selain itu, Agung memandang hingga sepekan berjalan, belum ada jaminan terhadap putrinya untuk bisa kembali nyaman ketika masuk sekolah.

“Kemarin ada utusan dari sekolah, dua Wakasek dan guru PAI ke rumah membawa surat intinya kami diminta menandatangani pernyataan bahwa masalah sudah diselesaikan secara damai. Saya terpaksa tidak menandatangani, karena sampai hari ini saya melihat belum ada penyelesaian terkait komplain kasus bullying yang menimpa anak saya di sekolah,” paparnya kepada wartawan, Sabtu (11/1/2020).

Agung menguraikan penolakan itu didasarkan beberapa fakta terkait penanganan kasus itu. Menurutnya, hingga hampir sepekan, sekolah terkesan tidak peduli meski putrinya tidak masuk sekolah hampir tiga hari lantaran masih mengalami tekanan psikis.

Dari pihak sekolah, menurutnya, juga tidak menanyakan bagaimana kondisi dan kenapa putrinya tidak masuk. Padahal putrinya dan dirinya sebagai orangtua, sangat ingin agar bisa kembali bersekolah seperti sedia kala.

“Yang surprise lagi, pihak perwakilan sekolah kemarin datang ke rumah, bukan tanya perihal psikis dan bagaimana kondisi anak saya. Tapi justru minta tandatangan saya sebagai persyaratan dari dinas terkait bahwa masalah ini sudah diselesaika secara kekeluargaan. Bagaimana saya harus tandatangan, sementara kondisi anak saya masih tertekan dan persoalan belum ada penyelesaian,” terangnya.

Baca Juga :  Curhat Sukiman Usai Gagal Daftar ke Pilkada Sragen. Ungkap Perjuangan 10 Hari Rela Bertahan di Jakarta Demi Kejar Rekom, Ternyata Semua Ikhtiar Berakhir Sia-Sia

Agung juga membeber bahwa sejak komplainnya mencuat Senin (6/1/2020), hingga kini pihak dinas terkait belum pernah hadir ke sekolah.

Padahal dalam beberapa kali statemen di media, para pejabat di jajaran Disdikbud Provinsi menyatakan akan terjun ke sekolah untuk melakukan tindaklanjut.

“Sejak Senin kami datang ke sekolah, nyatanya sampai hari ini tidak satupun pejabat dinas yang hadir ke sekolah dan bertemu dengan kami untuk menindaklanjuti. Kami melihat, ini sesuatu yang sangat memprihatinkan. Seolah sekolah dan dinas menganggap sepele anak kami. Bahkan, kami merasa seolah-olah bullying ini dianggap sebagai bagian visi misi sekolah karena bukannya melindungi anak-anak yang terintimidasi, tapi justru anak kami yang dianggap salah paham,” tukasnya.

Agung juga mengecam respon lamban dari jajaran sekolah dan dinas terkait persoalan ini. Ia pun mengingatkan bahwa persoalan intimidasi hijab dari Rohis ke putrinya, adalah persoalan yang harusnya tak bisa dianggap remeh.

Pasalnya ia menilai sikap merasa paling benar dan memaksa serta menghujat orang lain yang tak bisa sama, adalah bibit-bibit intoleransi yang berpotensi mengarah radikal.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Kecamatan Sidoharjo Terus Meningkat, Kapolsek Gerakkan Program Sidoharjo Bermasker. Izin Hajatan dan Keramaian Sementara Stop Dulu!

“Kalau mau tahu, masih ada WA yang lebih ekstrim dan menghujat keyakinan lain. WA-nya sudah saya kirim ke Gubernur. Kalau saya buka semuanya, pasti akan memicu konflik horizontal. Tapi itu tidak saya lakukan karena saya berharap agar ini jadi perhatian bersama dan segera diambil tindaklanjut nyata. Jangan sampai sekolah negeri jadi kantong-kantong bibit intoleransi,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Cabang Disdikbud Provinsi Wilayah Jateng VI, Eris Yunianto mengatakan pihaknya sudah memanggil Kasek, Wakasek, Pembina Rohis dan Guru PAI SMAN 1 Gemolong pada Jumat (10/1/2020) di kantornya.

Pemanggilan dilakukan untuk internal pembinaan terkait persoalan intimidasi Rohis ke salah satu siswi di SMAN 1 Gemolong tersebut.

“Kalau orangtua siswi nggak kami hadirkan, karena ini kami pembinaan internal dulu. Yang kami tekankan bahwa aspek psikologis siswa harus dipertimbangkan. Yang penting sekolah menjamin siswa bisa kembali masuk. Pak Kepala Sekolah sudah menjamin itu,” tuturnya.

Sementara, Kepala SMAN 1 Gemolong, Suparno saat dikonfirmasi seusai dipanggil KCD, membenarkan pertemuan dengan KCD itu. Ia mengiyakan bahwa sekolah menjamin siswi Z untuk bisa masuk kembali dengan nyaman.

Saat ditanya apakah siswi yang bersangkutan sudah masuk sekolah kembali, Suparno mengaku tidak memperhatikan dan belum menerima laporan.

“Kelihatannya sudah masuk, hari Selasa itu masuk tapi kemudian izin. Ini saya masih perjalanan Mas,” katanya dihubungi Jumat sore. Wardoyo