JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Penyakit Baru itu Bernama Gaming Disorder, Merasuki Usia Anak-anak, Salah Satu Cirinya Anak Betah Ngegame dan Malas Beraktivitas Lainnya

Ilustrasi kecanduan geme online. pixabay
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JOGLOSEMARNEWS.COM – Permaian atau game pada gawai mengalami perkembangan yang pesat. Game pada handphone tersebut menyedot banyak peminat terutama remaja dan anak-anak.

Mereka bisa betah berjam-jam menatap layar ponsel untuk bermain game. Akhirnya, muncullah istilah gaming disorder.

Gaming disorder merupakan perilaku bermain game tak terkendali sehingga dapat mengganggu minat dan aktivitas sehari-hari.

Dokter spesialis kesehatan jiwa RSUD Dr Soetomo dr Yunias Setiawati SpKJ(K) mengatakan, gaming disorder kini telah dimasukkan ke dalam klasifikasi penyakit internasional keluaran terbaru (ICD-11).

Bahkan, ia menyampaikan, gangguan yang disebabkan oleh gaming disorder dan kecanduan gadget lain mulai meningkat dalam enam bulan terakhir.

“Di RSUD Dr Soetomo, bahkan setiap minggu ada dua sampai tiga pasien baru masuk dengan gangguan yang sama,” kata Yunias.

Baca Juga :  Hand Sanitizer Bisa Sebabkan Iritasi Kulit Anak, Begini Tips Dokter Agar Tetap Aman

Lanjutnya, biasanya orangtua datang memeriksakan anaknya karena gangguan belajar. Setelah digali, ternyata sang anak kecanduan bermain ponsel.

“Biasanya, gaming disorder banyak terjadi pada usia anak-anak, khususnya saat duduk di sekolah dasar,” ungkap psikiater anak dan remaja ini.

Lebih lanjut, Yunias menyebut, orang yang menderita kelainan tersebut akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain game.

“Mereka punya ikatan emosional yang erat dengan kebiasaan ini. Selain itu, gaming disorder membuat aktivitas bersosial penderita menjadi terputus,” Yunias menerangkan.

Gejala gaming disorder yang mudah dikenali yakni menjadikan bermain game sebagai kegiatan utama.

Baca Juga :  Hand Sanitizer Bisa Sebabkan Iritasi Kulit Anak, Begini Tips Dokter Agar Tetap Aman

“Mereka selalu ingat game yang dimainkan sebelumnya, juga terus tidak sabar untuk kembali melanjutkan bermain game tersebut,” Yunias menyampaikan.

Jam tidur yang mulai berkurang, imbuh Yunias, juga bisa menjadi gejala gaming disorder. Hal ini karena waktu tidur dikorbankan untuk bermain game.

Lebih lanjut, Yunias mengatakan, gejala yang lain yang tampak yakni perlaku cemas, marah, bahkan sedih ketika tidak bisa bermain game.

“Seperti mudah emosi dan tersinggung. Kemudian juga berani melawan orangtua dan berkata kasar saat dilarang bermain game,” ungkapnya.

Perubahan emosi tersebut, tegasnya, yang harus diwaspadai orangtua untuk segera mengambil tindakan yang tepat.

www.tribunnews.com