JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Terungkap, Fosil Gading Gajah Purba di Bonagung Sragen Diperkirakan Berumur 700.000 Tahun. Tim BPSMP Sangiran Masih Mengkaji, Berapa Taksiran Kompensasinya?

Tim saat mengecek kondisi fosil gading gajah purba yang ditemukan warga di Desa Bonagung, Tanon, Sragen, Senin (27/1/2020). Foto/Wardoyo
Tim saat mengecek kondisi fosil gading gajah purba yang ditemukan warga di Desa Bonagung, Tanon, Sragen, Senin (27/1/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Tim dari Balai Pelestasian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran mulai melakukan pengecekan terhadap fosil gading gajah purba atau stegodon yang ditemukan di ladang milik warga Dukuh Bonagung, RT 25, Desa Bonagung, Tanon, Sragen.

Fosil gajah purba itu diperkirakan berumur 700.000 tahun. Setelah memastikan benda itu merupakan fosil gading purba, tim mulai mengecek lokasi penemuan dan kondisi fosil yang ditemukan oleh Puryanto (42) dan Giyono (38) warga Dukuh Bonagung RT 25 tersebut.

Pengecekan dilakukan Senin (27/1/2020) pagi bersama dengan pihak Disdikbud Sragen dan Muspika Tanon.

Salah satu petugas dari BPSMP Sangiran, Doni Wiranto mengatakan pihaknya belum bisa memastikan berapa umur fosil gading gajah purba yang ditemukan di Bonagung, Tanon itu.

Menurutnya, masih diperlukan kajian dan penelitian terhadap fosil itu untuk mengetahui kelangkaannya dan dari zaman apa fosil itu terbentuk. Namun ia memperkirakan umur fosil itu berkisar 700.000 tahun.

Termasuk berapa taksiran kompensasi yang diberikan kepada warga penemu, menurutnya juga masih perlu dikaji.

“Kita masih akan mengkaji bagaimana dia ditemukan. Apakah benar-benar di lokasi itu apa tidak. Karena banyak juga yang lapor ditemukan di sana ternyata enggak, didatangkan dari lokasi lain. Kita juga harus cek dulu kondisi kelangkaannya, keutuhannya. Nanti akan jadi pertimbangan untuk itu (kompensasi),” paparnya kepada wartawan.

Baca Juga :  Kabar Baik, Semua Relawan Satgas Covid-19 di Sragen Dapat Insentif Total Rp 2,143 Miliar. Sudah Cair ke Rekening Desa, Bupati Minta Minggu Ini Harus Didistribusikan!

Doni belum bisa memastikan apakah temuan fosil gading purba itu ada keterkaitan dengan temuan fosil mani gajah yang sempat ditemukan beberapa tahun silam di dekat lokasi yang sama.

Hanya saja, ia menyebut bahwa lokasi Bonagung memang bisa jadi banyak fosil mengingat dulunya wilayah itu juga sama dengan situs Sangiran yang merupakan lautan.

“Dulunya kan ini lautan. Kalau lapisan tanahnya nggak teraduk, dia akan utuh.
Kita belum tahu apakah ini sama dengan temuan mani gajah itu, karena banyak cekungan-cekungan di situ,” terangnya.

Perihal nilai kompensasi, Doni menyampaikan hal itu nanti tergantung dari warga penemu. Apakah mereka akan menyerahkan ke pihak museum Sangiran atau menyimpannya sendiri.

Sesuai UU No 11/2010, warga boleh tidak menyerahkan akan tetapi wajib mencatatkan dan mengamankan.

Baca Juga :  Sering Dipakai Maksiat, Gudang SPBE Miri Sragen Digerebek Polisi. Tiga Orang Ditangkap Saat Sedang Main Beginian!

Karena fosil itu termasuk cagar budaya dan aset negara. Menurut UU itu, temuan fosil boleh dimiliku perseorangan tapi wajib dicatatkan di BPSMP Sangiran.

“Kami beri kompensasi kalau memang diserahkan ke kami. Kalau mau buat desa juga nggak papa. Yang penting informasinya benar, kondisi reservasinya bagus karena kami nanti akan lakukan reservasi secara berkala,” terangnya.

Kasi Cagar Budaya dan tim ahli Cagar Budaya Disdikbud Sragen, Anjarwati Sri Sayekti mengatakan pihak BPSMP Sangiran akan melakukan kajian lebih lanjut. Termasuk mengkaji berapa nilai kompensasi jika warga penemunya menyerahkan ke museum.

“Nanti akan ada koordinasi dengan pihak museum (BPSMP). Kita juga belum tahu, apakah itu akan masuk di museum untuk direservasi atau disimpan oleh masyarakat. Dealnya nanti setelah ada kajian. Untuk sementara biar diamankan dulu di rumah Pak Pur. Nanti kita tunggu hasil kajiannya dan akan kita sampaikan,” terangnya.

Sementara, pihak penemu masih berfikir dan menunggu kejelasan kompensasi. Sehingga temuan fosil itu masih disimpan di rumah Puryanto. Wardoyo