BANTUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Hari gini, masih terjadi kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG)? Pertanyaan itu mencuat setelah belasan siswa sekolah dasar di wilayah Kapanewon Jetis, Bantul, dilaporkan mengalami gejala yang mengarah pada keracunan usai menyantap menu MBG pada Rabu (6/5/2026).
Peristiwa ini sempat ramai diperbincangkan di media sosial, sebelum akhirnya dibenarkan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Bantul, Hermawan Setiaji. Ia menyebut sedikitnya 18 siswa harus mendapatkan penanganan medis di puskesmas terdekat.
“Setelah ada informasi keracunan, kami langsung menugaskan teman-teman. Kemudian dilakukan penanganan bagi siswa yang diduga mengalami gejala keracunan,” katanya, saat dikonfirmasi Tribunjogja.com, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, seluruh siswa yang terdampak kini dalam kondisi membaik. Tidak ada yang harus menjalani perawatan inap, sehingga mereka telah diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing.
Pemerintah daerah langsung bergerak cepat dengan mengamankan sampel makanan MBG yang dibagikan kepada siswa. Sampel tersebut kini tengah diuji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
“Sampel sudah kami amankan dan kami bawa untuk mengetahui sebenarnya apa sih penyebab diduga keracunan yang dialami anak-anak tersebut,” papar Hermawan.
Informasi sementara menyebutkan, siswa yang mengalami gejala berasal dari SD Negeri Kowang, dengan jumlah terdampak mencakup empat kelas. Dugaan sementara, gejala muncul setelah para siswa mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada pagi hari.
Hermawan menjelaskan, menu yang dikonsumsi saat itu terdiri dari nasi, kentang, glatin, wortel, buncis, serta buah naga. Namun demikian, pihaknya menegaskan bahwa penyebab pasti masih menunggu hasil uji laboratorium.
“Sekali lagi, kami belum tahu penyebabnya apa, tetapi menunya tadi ada kentang, glatin, wortel, buncis, nasi, dan buah naga,” bebernya.
Kasus ini juga berpotensi berdampak pada operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hermawan menyebut kemungkinan adanya penambahan jumlah SPPG yang dihentikan sementara operasionalnya.
“Iya (potensi SPPG tutup sementara) bisa tambah lagi. Satu dari SPPG ini dan satu SPPG di Kapanewon Srandakan yang terjadi karena pencemaran limbah IPAL dan itu sudah kami laporkan ke Badan Gizi Nasional,” tutup dia.
Pemerintah kini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah benar terjadi keracunan akibat MBG atau ada faktor lain yang memicu kondisi tersebut. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














