Wouw, Warga di Pulau Ini Menggunakan Siulan untuk Bercakap-cakap

Pulau La Gomera yang terdiri dari perbukitan, membuat para penggembala dan petani berbicara dengan bersiul dari jarak jauh. Foto: @fabianploppafotografie / tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Meski hanya bermain dalam nada, namun bersiul ternyata mengandung 4.000 kata. Benarkah? Tapi itulah faktanya, dan bersiul menjadi media untuk bercakap-cakap bagi warga di Pulau La Gomera.

Pulau tersebut merupakan salah satu dari pulau di gugus kepulauan Canaria, yakni wilayah Spanyol di Samudera Atlantik dekat dengan Maroko, Afrika Utara.

Sebagaimana dinukil dari Atlas Obscura, di pulau kecil pegunungan La Gomera, anak-anak hingga dewasa berbicara satu sama lain dari jarak yang sangat jauh.

Mereka tidak berteriak-teriak. Tapi menggunakan salah satu bahasa yang paling tidak biasa di dunia yaitu  siulan.

Bahasa siulan di La Gomera dikenal sebagai Silbo. Bahasa siulan di Pulau Gomera memiliki kosakata lebih dari 4.000 kata, dan digunakan oleh “Silbadors”, sebutan untuk warga La Gomera, untuk saling mengirim pesan melintasi puncak tinggi dan lembah di pulau itu.

Baca Juga :  Gloria Terharu Melihat Jenazah yang Diriasnya Meneteskan Air Mata

“Bahasa Siulan” alias Silbo, sebenarnya bukan bahasanya sendiri, tetapi cara berbicara bahasa apa pun yang ada melalui siulan.

El Silbo memiliki sejarah yang terkenal. Penduduk asli La Gomera diyakini sebagai imigran dari bagian yang sekarang dikenal sebagai Mauritania, dan mereka berbicara dalam bahasa nada.

Nada sangat penting bagi fonologi bahasa, sehingga orang dapat mengucapkan kalimat sederhana hanya dengan nada dan tanpa kehilangan makna.

Sistem dasar ini berevolusi yang memungkinkan bersiul menyampaikan frasa yang lebih kompleks. Pada abad ke-16, ketika orang-orang Spanyol menaklukkan pulau itu, penduduk asli terusir.

Baca Juga :  Gloria Terharu Melihat Jenazah yang Diriasnya Meneteskan Air Mata

Para imigran Spanyol mengadaptasi siulan penduduk asli La Gomera ke bahasa Spanyol mereka. Bahasa Spanyol tidak memiliki nada yang signifikan secara fonologis, sehingga variasi nada digunakan untuk merepresentasikan vokal tak banyak. Sistem ini bekerja sangat baik untuk para gembala dan petani.

Pada tahun 1990-an, ketika modernisasi mengakibatkan Silbo hampir punah, pemerintah La Gomera menjadikan el Silbo subjek wajib bagi siswa sekolah dasar. Pelajaran “bersiul” itu berhasil memicu kebangkitan Silbo.

Meskipun Silbo berada di ambang kepunahan pada 1990-an, warga La Gomera telah berupaya bersama untuk menghidupkan kembali bahasa mereka. Caranya, dengan menambahkannya ke kurikulum Silbo ke dalam sekolah umum. Sekitar 3.000-an anak sekolah sedang dalam proses mempelajarinya.

Kabar baiknya, satu dekade lebih yang lalu, pada akhir September 2009, UNESCO memberikan status El Silbo, sebagai warisan budaya, untuk melindungi bahasa siulan tersebut.

www.tempo.co