JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Anak dan Istri Tersangka Susur Sungai SMPN 1 Turi Diteror di Dunia Maya, Si Anak Sempat Tak Berani Masuk Sekolah

Polisi menunjukkan tiga orang tersangka inisial IYA, DDS dan R dalam kasus kegiatan susur sungai siswa SMP N 1 Turi berujung maut di Mapolres Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (25/2/2020). TRIBUNJOGJA.COM / Hasan Sakri

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Rumah IYA, tersangka kasus susur sungai SMPN 1 Turi di Sungai Sempor Sleman tampak sepi, Rabu siang (26/2/2020). Rumah bercat merah-oranye itu dikabarkan sudah ditinggalkan oleh istri dan kedua anak IYA yang selama ini tinggal di sana, sejak Jumat malam (21/2/2020) lalu.

Kakak ipar IYA, saat ditemui Tribunjogja.com menuturkan hal itu dilakukan untuk alasan keamanan istri dan kedua anak IYA. Pihak keluarga, katanya, memindahkan istri dan anak IYA ke rumah keluarga yang lain.

Menurut R (36), kakak kandung dari istri IYA, mengatakan pemindahan tersebut dilakukan karena sejak insiden susur sungai SMPN 1 Turi Jumat lalu, mereka mendapat berbagai macam teror, baik melalui telepon, pesan teks, dan media sosial.

R menceritakan bentuk teror kepada adiknya itu, misalnya ada seseorang yang menelepon mengaku berasal dari pihak yang berwenang dan mengatakan bahwa suaminya menjadi buronan.

Teror dan ujaran kebencian di media sosial juga diterima oleh kedua anak IYA yang masih berusia 12 tahun dan 11 tahun.

“Banyak DM (pesan langsung) yang masuk ke Intagram anak-anak dan ibunya. Hingga ada yang mencomot foto mereka di media sosial. Bahkan foto mereka sekeluarga sudah tersebar. Sejak saat itu kami langsung menyuruh mereka menutup semua akun media sosial,” papar R kepada Tribunjogja.com.

Anak Tak Berani ke Sekolah

R menjelaskan karena serangan di dunia maya itu, anak-anak IYA sempat tidak berani ke sekolah pada Sabtu (22/2/2020) lalu. Namun, sejak Senin lalu mereka sudah ke sekolah dengan pengawalan ketat dari keluarga.

Baca Juga :  Tugu Pal Putih Yogya Kembali Dihantui 2 Sosok Pocong Gentayangan

“Teror hanya datang di dunia maya. Kalau orang-orang di lingkungan tidak,” ungkapnya.

Istri tersangka IYA merupakan ibu rumah tangga. Sedangkan R adalah seorang guru SMA yang bekerja di Kalimantan.

Namun, setelah R mendengar kabar kejadian yang menimpa adik kandung dan adik iparnya itu, ia langsung terbang ke Yogyakarta untuk mendampingi sang adik.

“Saya dan adik saya itu seperti kembar. Kami hanya beda satu tahun. Makanya kalau dia sakit saya juga sakit. Saya minta cuti mungkin sampai seminggu ini,” jelas R.

Keluarga besar R sesungguhnya adalah keluarga guru. Peristiwa kemarin membuat ia dan seluruh keluarga merasa sangat terpukul.

“Pertama yang paling membuat terpukul itu tewasnya 10 siswa. Saya pun guru, keluarga kami semua keluarga guru, tidak mungkin kami (guru) setega itu. Saya pun membaca berita tentang korban ada yang anak tunggal dan sebagainya. Itu semua membuat down,” ungkapnya.

R juga menyayangkan terhadap hujatan yang ada di media sosial terhadap IYA. Sebab ia beranggapan bahwa ini bukan tindakan kriminal atau korupsi. Ia mengatakan sebelum ada bukti dan pernyataan dari kepolisian sebagian warganet bahkan sudah menghakimi dengan opini sendri.

“Pak Y pasti akan bertanggung jawab. Tidak akan melarikan diri seperti yang diberitakan selama ini. Pak Y juga ikut menolong sampai tidak memerhatikan keselamatan sendiri. Sempat ke rumah sakit juga melihat kondisi anak-anak malam itu,” tutur R.

Baca Juga :  Pilkada 2020 Berdampak Pada Penambahan Kasus Positif Covid-19

Langsung Menyerahkan Diri

R bercerita bahwa IYA langsung menyerahkan diri kepada pihak kepolisian pada Jumat (21/2/2020) malam.

“Pak Y Jumat malam itu nggak kemana-mana. Langsung menyerahkan diri ke polisi. Karena memikirkan keamanan istri dan anaknya juga. Kami dari keluarga juga akan kooperatif. Kami serahkan kasus ini kepada pihak yang berwenang,” tandasnya.

Selama ini, R menambahkan, IYA seringkali ditugaskan menjadi koordinator kegiatan siswa.

“Kami dari keluarga tahunya beliau yang paling sering ditugasi sekolah untuk kegiatan siswa. Baik study tour atau lomba. Karena mungkin masih muda sendiri, masih enerjik, juga guru olahraga,” jelasnya.

Terkait proses hukum yang sedang berjalan, R mengatakan bahwa pihak keluarga akan menerima hasil apa pun yang akan ditetapkan.

Namun, ia cukup menyayangkan perlakuan yang diterima oleh para tersangka.

“Kami tidak mengecam kronologisnya, ya. Tapi melihat perlakuan para tersangka wajahnya nggak di-blur, kepalanya digunduli, sebagai guru, bukan sebagai kakak ya, saya mengecam keras. Kalau Pak Y kan belum lama ya, tapi dua guru yang lain itu kan sudah melahirkan begitu banyak anak bangsa. Saya menangis justru karena bapak-bapak yang sudah sepuh. Kalau adik saya itu insyaallah kuat,” ungkapnya.

Dia berharap masyarakat dapat mengontrol apa yang mereka katakan di media sosial, serta ikut memikirkan nasib keluarga korban.

Sementara kepada keluarga para korban, terutama keluarga sepuluh korban yang meninggal, R menyampaikan pesan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.

www.tribunnews.com