JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Jokowi Lagi-lagi Tegaskan Belum Berencana Rombak Kabinet

Presiden Joko Widodo hadir dalam acara Kenduri Kebangsaan yang digelar oleh Yayasan Sukma Bangsa dan Forum Bersama (Forbes) anggota DPR dan DPD RI asal Aceh, di Aceh, Sabtu (22/2/2020) / tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Lagi-Lagi presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan belum ada rencana untuk merombak Kabinet Indonesia Maju.

Pernyataan itu otomatis membantah isu yang beredar belakangan, bahwa reshuffle kabinet bakal dilakukan dalam waktu dekat.

“Sampai saat ini, saya dan Pak Wapres belum berpikir ke sana (reshuffle),” kata Jokowi yang didampingi Wakil Presiden Ma’ruf Amin, saat ditemui seusai menghadiri Laporan Tahunan Mahkamah Agung, di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Rabu (26/2/2020).

Isu reshuffle pertama kali disampaikan Dede Budhiyarto, relawan Jokowi yang ikut membantu pemenangan pada Pilpres 2014 dan 2019.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Teken Perpres Baru Program Kartu Prakerja

Dia mengatakan, isu kocok ulang kabinet itu dibahas dalam pertemuan Presiden Joko Widodo atau Jokowi dengan para pendukungnya dari kalangan artis, influencer, dan pegiat media sosial, di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/2/2020).

Dede mengatakan, Presiden Jokowi merencanakan akan merombak kabinet dengan mengganti menteri-menteri yang kinerjanya dinilai kurang bagus.

“Pengen cerita hasil pertemuan dengan Presiden @jokowi, eh pulang dari Istana Bogor malah sakit. Intinya bakal ada reshuffle tunggu saja yah. Menteri yang kinerjanya ndak bagus bakalan dicukupkan.” Dede mencuit melalui akun Twitter-nya @kangdede78.

Baca Juga :  Kasus Korupsi, Tim KPK Geledah Rumah Dinas Walikota Banjar dan Sita 2 Koper Besar

Isu tersebut semakin menguat, ketika Lembaga Parameter Politik Indonesia mengeluarkan hasil survei yang menyebut menteri bidang ekonomi menjadi sorotan publik selama 100 hari kerja periode kedua Jokowi.

Alasannya, masyarakat kesulitan menjangkau harga yang tak menentu.

“Kadang (harga) turun naik. Dan kedua, misalnya pertumbuhan ekonomi yang berhenti di 5 persen. Ketiga banyak masyarakat bilang untuk dapat kerja susah,” kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno.

www.tempo.co