JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Harga Cabe Rawit Tembus Rp 100.000 Perkilo, Warung dan Kantin di Sragen Terpaksa Setop Buat Sambal. Pedagang Sampai Kebingungan Layani Eceran

167
Komoditi cabai di Pasar. Foto/JSnews
loading...
Komoditi cabai di Pasar. Foto/JSnews

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Harga cabe rawit di pasar Induk dan pasar tradisional di wilayah Sragen, meroket tajam. Tak hanya pedagang yang bingung melayani eceran, kenaikan harga di luar kewajaran itu juga membuat para pemilik warung dan kantin terpaksa berhenti sementara menyediakan sambal.

Salah satu pemilik warung di kantin DPRD Sragen, Ana, mengatakan cabe yang mengalami kenaikan cukup drastis adalah cabe rawit jenis sret yang selama ini dikenal paling pedas.

Saat ini, harga cabe rawit merah di Pasar Bunder Sragen sudah menembus angka Rp 100.000 perkilogram. Padahal harga normalnya biasanya hanya di kisaran Rp 18.000 sampai Rp 20.000 perkilogram.

“Hari ini nggak buat sambal Mas. Harga cabe nggak nyandak. Rp 100.000 perkilo Mas. Sementara masakan juga cabenya agak dikurangi, karena ya mahalnya cabe itu,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Senin (3/2/2020).

Ia menguraikan kenaikan cabe rawit jenis sret sudah terjadi hampir sepekan terakhir. Awalnya harga cabe itu hanya Rp 18.000 tapi kemudian tiap hari naik tidak terkendali hingga akhirnya menembus Rp 100.000 perkilogram saat ini.

“Nggak tahu penyebabnya apa. Kata penjualnya memang dari sana sudah naik harganya. Kalau kita pembeli ya manut yang jual Mas. Kalau mahal ya belinya sedikit nggak berani satu kilo. Ini cuma seperempat aja sudah Rp 25.000. Kalau nggak pakai cabe rawit pedasnya kurang,” tuturnya.

Baca Juga :  Perangi Wabah Corona, Pemdes Kandangsapi dan Muspika Jenar Sampai Rela Keliling Kampung Gencarkan Sosialisasi Naik Mobil Patroli. Hasilnya, Alhamdulillah Jenar Masih Steril Kasus Covid-19

Sementara, Sutarmi, pedagang sembako asal Tanon, Sragen menuturkan kenaikan harga cabe rawit kali ini terbilang cukup mengejutkan. Karena lonjakan harga dari hari ke hari cukup tinggi.

Menurutnya kenaikan dikarenakan pasokan dari pemasok juga berkurang dan harga jual sudah mahal dan naik terus.

“Kita yang penjual begini, sampai bingung mau ngecer. Biasanya ngecer Rp 2.500 bisa, dengan sekilo Rp 100.000 gini, kita nggak bisa layani lagi. Rp 5.000 saja cuma dapat beberapa biji. Susah Mas,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Sragen, Tedi Rosanto mengaku sudah membentuk tim khusus untuk mengecek ke lapangan perihal kenaikan harga cabe yang menembus Rp 100.000 perkilo itu.

Menurutnya, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Bidang Perekonomian untuk menggelar sidak bahan makanan jajanan termasuk memantau harga-harga bahan pokok yang mengalami kenaikan harga signifikan. Sidak menurut rencana akan segera digelar dalam waktu dekat ini bersama tim gabungan.

Perihal harga cabe yang meroket, Tedi menyebut hal itu terjadi karena pasokan dari wilayah produsen memang menurun dan harga jual di tempat produksi juga sudah naik.

Baca Juga :  Berkah Booming Ciptakan Masker dan Hand Sanitizer, SMK Citra Medika Sragen Santuni 40 KK Miskin dan Bagi Masker Warga Sekampung

“Karena Sragen kan bukan daerah produsen cabe rawit. Jadi harga mengikuti dari wilayah produksinya sana. Tapi kami sudah minta tim untuk melangkah dengan mengupayakan tambahan pasokan agar harga bisa kembali turun,” paparnya.

Ia menegaskan fenomena kenaikan harga cabe juga tak hanya terjadi di Sragen tapi merata di daerah lain. Sebagai solusinya, ia menyarankan jika harga cabe terlalu mahal seperti sekarang ini, masyarakat bisa menekan biaya dengan mengonsumsi bubuk cabe yang tak kalah pedas dengan cabe segar.

“Sekarang kan sudah ada bubuk cabe yang sama pedasnya dengan cabe. Itu lebih terjangkau dan bisa jadi solusi ketika cabe mahal seperti ini,” tandasnya. Wardoyo