JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Ibu Yang Dipaksa Ngemis Bersama Anak Balitanya di Gemolong Sragen, Ternyata Tengah Hamil 7 Bulan. Langsung Diselamatkan Satpol PP dan Dinsos

47406
Tim Satpol PP dan Dinsos Sragen saat menjemput Giyarti dan anak-anaknya yang diduga dipaksa mengemis suaminya di Gemolong. Foto/Wardoyo
loading...
Tim Satpol PP dan Dinsos Sragen saat menjemput Giyarti dan anak-anaknya yang diduga dipaksa mengemis suaminya di Gemolong. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Wanita paruh baya yang dilaporkan dipaksa suaminya untuk mengemis bersama anaknya yang masih kecil-kecil di Gemolong, Sragen, akhirnya diselamatkan oleh Tim Satpol PP dan Dinas Sosial.

Saat diamankan, wanita yang kemudian diketahui bernama Giyarti itu ternyata dalam kondisi hamil enam jalan tujuh bulan. Dari identitasnya, Giyarti ternyata masih berusia 35 tahun dan beralamat di Dukuh Mudal, Desa Soko, Miri, Sragen.

Sedangkan suaminya terlacak bernama.Supono (41) asal Dukuh Karanganyar RT 1/1, Desa Patihan, Sidoharjo, Sragen. Giyarti diamankan oleh tim Satpol PP dan Dinas Sosial Sragen, pada Senin (24/2/2020) petang sekira pukul 16.00 WIB.

Kepala Dinas Satpol PP Sragen, Heru Martono mengatakan Giyarti diamankan di wilayah Pasar Gemolong Sragen. Saat diamankan, ibu malang itu tengah meminta-minta bersama dua balita perempuannya yang masih kecil-kecil.

“Kemarin begitu dapat informasi posisinya di Gemolong, sorenya kita langsung meluncur ke lokasi bersama tim Dinsos. Kita amankan pukul 16.00 WIB. Saat itu dia bersama dua anaknya yang masih kecil. Tapi dia dalam keadaan hamil enam bulan, jadi anaknya hampir empat. Yang besar tidak diajak,” papar Heru, Selasa (25/2/2020).

Heru menuturkan saat dievakuasi dari lokasi, Giyarti membawa semacam tas yang digunakan untuk menyimpan uang belas kasihan pemberian warga.

Baca Juga :  Darurat Wabah Corona, Kades dan Perangkat Desa Jetak Sragen Sampai Keliling Imbau Warga Lakukan Social Distancing. 42 RT Dibantu Anggaran Untuk Semprot Desinfektan Serentak

Saat dicek oleh tim, di tas itu berisi uang sekitar Rp 60.000. Giyarti kemudian dievakuasi dan dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Sragen.

Perihal aksi mengemisnya, Giyarti di hadapan tim mengatakan bahwa mengemis karena memang kondisi ekonomi dan atas kehendak suami.

“Kalau informasi warga dan dari luar, dia memang tiap hari harus ngasih uang ke suaminya. Tapi saya tanya kamu ngemis buat apa dia bilang buat bangun rumah,” terang Heru.

Terkait indetitas, Heru menyebut dari penelusuran identitasnya, Giyarti diketahui aslinya dari Soko, Miri, Sragen. Sedangkan suaminya tinggal di Patihan, Sidoharjo, Sragen.

“Kalau yang perempuan warga Soko Miri. Domisili dia bukan di Gemolong Mas tapi di Patihan Sidoharjo. Pas kita evakuasi dia pas beroperasi di dekat Pasar Gemolong,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial Sragen, Joko Saryono melalui Kasi Rehabilitasi Sosial Tunasosial, Ine Marliah membenarkan Giyarti dan anaknya dievakuasi dan dikirim ke rumah singgah (Rusi) Dinsos kemarin petang.

Sesampai di Rusi, wanita malang itu kemudian ditangani dan diberikan pembinaan agar tidak mengemis lagi. Tim juga sempat mengorek permasalahan dan latarbelakang kenapa sampai mengemis.

“Kalau dipaksa ngemis dia tidak ngaku. Tapi dia bilang suaminya dulu memang sering menganiaya dan mempekerjakannya untuk itu (mengemis). Yang laki-laki kerjanya pemulung. Karena awalnya sering dianiaya itulah, mungkin akhirnya dia kemudian menjadi terbiasa atau istilahnya mempekerjakan diri itu,” terang Ine.

Baca Juga :  Tersentil Wabah Corona, Demokrat Sragen Langsung Terjun Bagi 500 Botol Hand Sanitizer Gratis ke Pengendara. 500 Botol Disiapkan Layani Permintaan Masyarakat di Posko DPC!

Ine membenarkan saat ini, Giyarti sedang hamil anak keempat dengan usia kandungan enam menginjak tujuh bulan.

“Dia bilang ngemisnya sejak lama. Jadi kalau pagi diantar suami sama anak-anaknya yang kecil. Lalu sorenya diambil lagi,” terang Ine.

Malam harinya sekitar pukul 22.00 WIB, Giyarti akhirnya dijemput oleh suaminya yang datang ke Rusi bersama anggota DPRD asal Patihan, Sukamto.

Sempat diberi pengarahan, akhirnya suaminya menyanggupi tidak memaksa mengemis lagi dan Giyarti juga diminta berhenti mengemis lagi. Pihaknya juga akan menindaklanjuti dengan memberikan pendampingan bersama pihak Pemdes serta memberi bantuan agar keluarga itu tidak lagi terjun ke jalanan mengulangi sebagai peminta-minta.

“Karena informasi warga yang tahu, kadang pas ngemis itu kalau ibu itu marah, anaknya sering dipukuli,” tandasnya. Wardoyo