loading...

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Fenomena tanah ambles yang terjadi di Desa Bero Kecamatan Manyaran, Wonogiri telah dikaji secara teknis oleh Badan Geologi Bandung. Bandung tersebut selanjutnya memberikan hasilnya.

Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, Selasa (11/2/2020) mengatakan, sejumlah fakta temuan dari Badan Geologi Bandung.

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Tanah Amblas:

Bencana tanah amblas (sinkhole/luweng) terjadi di Dusun Jetis Kidul RT 02 RW 02, Desa Bero, Kec. Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis berada terletak pada koordinat 07° 51’ 07,6” LS dan 110° 49 52,1” BT. Amblasan di lokasi ini terjadi berulang kali, awal kejadian sejak tahun 2015, dan semakin membesar pada 18 Desember 2019.

2. Kondisi daerah bencana:

Morfologi di lokasi amblasan merupakan pedataran. Tanah amblas terjadi pada lahan pesawahan dan kebun campuran pada ketinggian 225 meter di atas permukaan laut. Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Surakarta-Giritontro (Surono, dkk., P3G, 1992), lokasi amblasan berada pada lokasi yang disusun oleh batuan Formasi Wonosari-Punung (Tmwl) berupa batugamping, batugamping napalan-tufan, batugamping konglomerat, batupasir tufan, dan batulanau di bagian atas. Di bagian bawah terendapkan batuan dari Formasi Semilir (Tms) yang terdiri dari tuff, breksi batuapung dasitan, batupasir tufan dan serpih.

Baca Juga :  Pembangunan Jalan Dusun Kolotoko Desa Sendang Wonogiri Ditarget Selesai Lebih Cepat Tak Sampai Sebulan

Hasil pengamatan lapangan, tanah yang amblas merupakan hasil pelapukan batupasir tufan berupa lempung berwarna coklat, kurang kompak, sarang, dan porous, dengan ketebalan lebih dari 6 meter. Keairan, Kondisi keairan pada daerah bencana cukup melimpah. Untuk keperluan sehari-hari masyarakat setempat memanfaatkan air dari mata air yang disalurkan melalui pipa-pipa paralon. Di beberapa rumah terdapat sumur gali dengan kedalaman rata-rata 7 – 10 meter.

Di bagian utara bencana terdapat Sendang yang berair sepanjang tahun. Di Desa Bero ini terdapat PDAM Giri Tirta Sari yang menjadi sumber air desa lainnya yaitu Desa Pijiharjo. Keberadaan PDAM ini kemungkinan bukan penyebab amblasan tanah di Jetis Kidul.
Tata guna lahan, Lahan di daerah lokasi amblasan umumnya berupa persawahan, kebun campuran (didominasi jagung), dan pemukiman. Jalan desa dan pemukiman penduduk berjarak sekitar 20 – 25 meter dari lokasi amblasan tanah. Di lembah bagian timur terdapat Kali Teleng yang mengalir sepanjang tahun.

Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Kabupaten Wonigiri, Provinsi Jawa Tengah (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah amblasan di Dusun Jetis Kidul, Desa Bero dan sekitarnya termasuk dalam zona kerentanan gerakan tanah Sangat Rendah sampai Rendah. Artinya zona ini jarang terjadi gerakan tanah, kecuali pada daerah tebing sungai, dan jika tidak mengalami gangguan pada lereng.

Baca Juga :  Anggaran Recovery Dampak Corona di Wonogiri Capai 110 Miliar, Baru di Tahap Pertama Masih Bisa Bertambah Lagi

3. Situasi dan Dampak Bencana

Tanah amblas (luweng/sinkhole) terjadi di sekitar areal kebun campuran dan persawahan. Morfologi lubang amblasan berbentuk oval dengan dimensi panjang sekitar 17,2 meter, lebar sekitar 7,2 meter, kedalaman mencapai 16 meter, dan total luas sekitar 97,2 m2 dengan arah memanjang barat – timur.

Dampak, area kebun amblas dan rusak.
Jalan desa dan pemukiman terdekat berpotensi terancam jika amblasan tidak segera tidak ditangani. Aria