loading...

Logo MUI. mui.or.id

SOLO (JOGLOSEMARNEWS.COM )-Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan imbauan kepada ummat muslim untuk tidak melaksanakan Sholat Jumat di masjid. Langkah itu sebagai upaya untuk mencegah penularan dan penyebaran virus corona (COVID-19).

Hal yang sama juga dilakukan sejumlah ormas Islam yang
meminta umatnya tidak melaksanakan Sholat Jumat di masjid, seperti dari
Nahdhatul Ulama (NU) maupun Muhammdiyah. Pimpinan Pusat Muhmmadiyah
menerbitkan Surat Edaran tentang Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19
salah satunya berisi imbauan tidak menggelar Sholat Jumat di masjid
sepanjang wabah COVID-19 masih mengancam.

Lantas apa landasan MUI dan ormas-ormas Islam besar di
tanah air membuat imbauan tersebut. Para ulama mengatakan keperluan untuk
melakukan sesuatu dalam situasi tidak normal dikualifikasikan sebagai
kedaruratan (Al-hajah tanzilu manzilat ad-darurah).

Jika para ahli sudah menilai bahwa kondisi terkini
Indonesia benar-benar darurat virus Corona, maka keperluan untuk menghindari
kemungkinan terpapar virus itu harus lebih diutamakan daripada shalat Jum’at
berjamaah di masjid.

Nabi Muhammad SAW pernah menuntunkan mengganti shalat
Jum’at dengan shalat dhuhur karena alasan sakit, lalu perjalanan (safar) dan
jarak rumah yang sangat jauh dari masjid. Yang terakhir ini, dituntunkan dalam
hal shalat jum’at bersamaan dengan Hari Raya Idul Fitri/Adha.

Apa kemudian Sholat Jumat ditiadakan?

Untuk Sholat Jumat di masjid memang ditiadakan, tetapi
kemudian digantikan dengan dhuhur empat rakaat. Dengan kondisi darurat wabah
COVID-19 ini diseyogyakan dilaksanakan di rumah masing-masing atau di musola
dan masjid tetapi tetap memperhatikan jarak shof dan meminimalisir jumlah kerumunan
orang.

Bagaimana Tata Caranya?

Saat adzan waktu shalat dhuhur sudah dikumandangkan atau
boleh juga adzan dikumandangkan sendiri, maka tunaikan shalat sunah rawatib
qabla (sebelum) dhuhur dua rakaat, menurut riwayat Imam Bukhari atau bisa juga empat
rakaat menurut riwayat Imam Muslim. Tidak ada khutbah sebelum shalat dhuhur.
Jika itu diniatkan sebagai tausiyah kepada anggota keluarga sebaiknya dilaksanakan
setelah shalat dhuhur dan dua rakaat sholat sunnah ba’diyah (setelah dhuhur)
dikerjakan.

Setelah sholat sunnah qabliah (sebelum), selanjutnya
lakukan iqamah. Tunaikan shalat dhuhur empat raka’at dengan cara yang khusyu’
dan moderat. Khusyu’ berarti kerjakan sebaik sesempurna mungkin. Moderat
artinya melaksanakan shalat Zhuhur tidak terlalu lama pun tidak terlalu cepat.

Kerjakan setiap perpindahan
gerakan shalat secara thuma’ninah. Saat shalat dhuhur tuntas dikerjakan
langsung berdoalah sekhusyu mungkin. Termasuk menyertakan doa kesembuhan untuk
yang menderita covid-19, doa keselamatan untuk bangsa Indonesia. Ketika itu
selesai dituntaskan ditutup dengan shalat sunah dua raka’at. (Syahirul)

#IBTimes.id