JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Dongeng Nusantara Perlu Direaktualisasi

Dr Pardi Suratno tengah memukul gong tanda pembukaan Festival Literasi Nasional 2020 / Joglosemarnews
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dongeng-dongeng di Indonesia sudah saatnya untuk direaktualisasi, dimunculkan kembali dalam bentuk yang baru, yang memuat unsur-unsur heroisme dan kepahlawanan.

Hal itu penting, salah satunya untuk melahirkan para pemimpin bangsa yang cerdas, berjiwa pemenang, bertanggung jawab, namun tetap memiliki empati.

Demikian dikatakan oleh Gisneo Pratala Putra,  founder dan CEO wideboard sebagai salah satu narasumber seminar dalam rangkaian Festival Literasi Nasional 2020.

Festival literasi tersebut berlangsung di gedung Grha Wisata Niaga, Surakarta, Kamis (12/3/2020) pagi hingga sore hari.

Hadir tiga narasumber lain dalam seminar tersebut, yakni Kepala Balai Bahasa Yogyakarta, Dr Pardi Suratno, founder rumah dongeng Mentari Rona Mentari dan  founder sekaligus CEO Gerakan Menulis Buku Indonesia (GMBI), Lenang Manggala.

“Sekarang bisa kita lihat, dongeng-dongeng yang sering disodorkan pada anak selama ini jarang memuat jiwa pemenang dan kepahlawanan,” ujarnya.

Gisneo lantas mencontohkan beberapa dongeng legendaris, di antaranya dongeng Kancil Nyolong Timun hingga Sangkuriang, yang dinilainya justru memberikan kesan paradoks pada anak.

“Kancil saja bisa nyolong timun, apalagi manusia, jadi gampang dong manusia kalau mau nyolong duit rakyat,” kelakarnya, disambut gelak tawa hadirin.

Pendapat Gisneo tersebut muncul spontan setelah mendengar paparan dari narasumber sebelumnya, Rona Mentari.

Awalnya, Rona menceritakan dirinya sejak kecil punya cita-cita menjadi pendongeng. Bahkan, dirinya sampai harus belajar mendongeng sampai ke negeri Inggris, dengan alasan Inggris merupakan negeri penakluk yang memiliki dongeng-dongeng kepahlawanan.

Baca Juga :  Bertemu Gibran, Eks Napi Bom Bali Menaruh Harapan Ini

“Sejak kecil, saya selalu merasa punya pengalaman indah saat mendengar dongeng dari guru. Sejak kelas 3 SD saya bercita-cita jadi pendongeng, dan sekarang terbayar menjadi juru dongeng keliling,” ujarnya.

Sebagai wujud totalitas pada cita-citanya tersebut, dia bahkan rela untuk mencari sekolah yang khusus mengajarkan dongeng atau sekolah dongeng. Pencarian yang tak kenal lelah itu  akhirnya menggiring Rona hingga ke Inggris untuk menimba ilmu mendongeng.

Sementara Lenang Manggala mengatakan, literasi merupakan sebuah keniscayaan di tengah euforia digital. Namun buku masih tetap memiliki urgenitas yang patut diaktualisasikan melalui sebuah gerakan.

“Kami GMBI menjadi motivasi sekaligus wadah kreativitas anak-anak, pelajar hingga guru. Kami kumpulkan mereka, kami datangi anak-anak dan kami beri kesempatan pada mereka untuk berkreasi dalam literasi,” ujarnya.  

Bak gayung bersambut, Dr Pardi Suratno yang mewakili unsur pemerintah pun ternyata memiliki frekuensi dan fisi yang sama dengan anak-anak muda tersebut.

Sebagai Kepala Balai Bahasa, kiprah Pardi Suratno dalam bidang kepenulisan tak dapat diragukan lagi. Buku pertama berjudul Gusti Ora Sare yang lahir dari tangannya, seolah menjadi pintu pembuka bagi karya-karya Pardi selanjutnya.

Pardi mengatakan, Balai Bahasa Yogyakarta selama ini intensif melakukan pelatihan membuat buku baik fiksi maupun non fiksi. Baik untuk guru, pelajar maupun masyarakat umum.

Balai Bahasa Yogyakarta, jelas Pardi, nyaris tak pernah sepi dari kegiatan lomba-lomba kepenulisan sebagai bagian dari gerakan literasi nasional.

Baca Juga :  Petugas Gabungan Copot Spanduk Ilegal di Solo, Termasuk Bergambar Pimpinan FPI Habib Rizieq Shibab

“Literasi dipercaya dapat mengatasi problem bangsa, mulai dari kemiskinan hingga ketidakjujuran. Literasi mendorong orang untuk berpikir bukan hanya dengan logika, tapi juga dengan hati nurani,” ujarnya.

Dalam paparannya, Pardi Suratno bahkan sempat mengutip sebuah puisi berjudul Berguru. Menurut Pardi, inti pesan dari puisi tersebut adalah seseorang dapat berguru kepada siapa saja.

“Termasuk sekarang saya berguru kepada anak-anak muda yang hebat di depan saya ini,” ujarnya disambut tepuk tangan.

Adi Acarya Award

Sementara itu, Ketua GMBI Akbar Bagus Wicaksono  menjelaskan, program Festival Literasi Nasional terdiri dari beberapa kegiatan, antara lain lomba penulisan puisi, cerpen dan artikel, penerbitan buku, peluncuran buku antologi, lokakarya, dan seminar nasional.

Selain itu ada juga aksi donasi dengan mengusung tema Semangat Sejuta Buku: untuk Indonesiaku serta pemecahan rekor MURI.

Dalam kegiatan itu juga diserahkan penghargaan Adi Acarya Award kepada empat orang. Masing-masing dari kategori karya terbaik, produktivitas karya, dedikasi literasi dan masyarakat literatif.

Walikota Beri Apresiasi

Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo yang waktu itu diwakili oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kota Surakarta, Dra Sis Ismiyati memberikan apresiasi terhadap program Festival Literasi Nasional tersebut.

Rudy, sapaan akrab Hadi Rudyatmo mengatakan, pendidikan menjadi satu-satunya cara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Pendidikan tidak bisa lepas dari buku sebagai kasanah ilmu pengetahuan. Dan dunia sudah membuktikan bahwa pemikir bangsa sebagian besar adalah para kutu buku,” bebernya.

Di tengah budaya baca yang belum tinggi ditambah kecenderungan anak zaman sekarang yang lebih suka bermain gadget, Rudy memberikan apresiasi terhadap kegiatan Festival Literasi Nasional tersebut.

“Atas nama Pemkot Surakarta, selamat mengikuti festival literasi,” paparnya.  suhamdani