JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kasus Penganiayaan 2 Warga PSHT di Mondokan Sragen, Polisi Amankan BB Kaos dan Celana Ada Bercak Darah. Sebut Pelaku Menganiaya Korban Sendirian

Barang bukti kaos dan celana ada bercak darah diamankan di Polres Sragen. Foto/Wardoyo

IMG 20200331 150439
Barang bukti kaos dan celana ada bercak darah diamankan di Polres Sragen. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Polres Sragen akhirnya resmi menahan Purwanto alias Loho (41) warga Dukuh Pare RT 10, Desa Pare, Kecamatan Mondokan, Sragen.

Pria yang diketahui merupakan anggota perguruan silat kera sakti atau IKSPI Sragen itu diamankan setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus penganiayaan dua pemuda anggota persaudaraan setia hati terate (PSHT) di hajatan campursari di Desa Gemantar, Mondokan, awal pekan lalu.

“Satu pelaku sudah kami amankan. Tersangka bernama Purwanto alias Loho (41) warga Desa Pare, Kecamatan Mondokan, Sragen,” papar Kapolres Sragen AKBP Raphael Sandy Cahya Priambodo melalui Kasubag Humas AKP Harno, Selasa (31/3/2020).

AKP Harno menguraikan tersangka diamankan berikut barang bukti. Di antaranya kaos yang dikenakan korban, Ribut Setiawan Prayogo (29) asal Dukuh Cranggang RT 25 Gemantar, Mondokan itu.

Kaos oblong yang dikenakan korban saat kejadian itu diamankan dengan ada bercak darah sudah kering di bagian atas.

Polisi juga mengamanjan celana pendek jins milik korban dalam kasus ini. Lebih lanjut, AKP Harno menguraikan dari hasil penyidikan, tersangka mengaku melakukan penganiayaan kepada korban sendirian.

“Dia mengakui perbuatan itu (penganiayaan) dilakukannya sendirian tanpa ada rekan,” jelasnya.

Atas perbuatannya itu, tersangka bakal dijerat dengan pasal 351 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Baca Juga :  Benang Merah Badai Penyebaran Covid-19 di Kantor DPMPTSP Sragen, Berawal dari Layatan Saudara, Lalu Jadi Petugas Upacara dan Tulari Teman-Teman serta Anak Istrinya. Dua PNS dan Keluarganya Sampai Positif Semua dan Diisolasi Sekeluarga

Purwanto ditahan akibatnsiden penganiayaan dua orang warga PSHT yakni, Nanda Febriyanto (19) asal Dukuh Kukunrejo RT 21, Gemantar, Mondokan dan Ribut Setiawan Prayogo (29), asal Dukuh Cranggang RT 25 Gemantar, Mondokan saat sedang joget di hajatan campursari warga Gemantar, Mondokan, pekan lalu.

Kasus itu terungkap ketika keduanya melapor ke Polsek Mondokan Selasa (24/3/2020) dinihari sesaat usai kejadian. Berdasarkan keterangan Ribut, insiden penganiayaan itu bermula ketika dirinya datang di acara campursari hajatan warga di Dukuh Kenteng.

Dia malam itu datang bersama beberapa rekannya. Meski sudah ada imbauan untuk tidak menggelar pesta hajatan, acara malam itu tetap berjalan.

Saat hiburan campursari dimulai, ia dan temannya kemudian ikut njoget bergabung dengan penjoget-penjoget lain di depan panggung. Sesaat kemudian, dia langsung didatangi oleh seseorang berinisial L yang tanpa basa-basi kemudian memukul wajahnya.

“Waktu itu saya sama teman-teman ikut njoget. Belum habis satu lagi, nggak ada apa-apa tiba-tiba saya dipukul oleh L. Dipukul pakai tangan kosong, dua kali kena pelupuk mata saya sampai sobek dan keluar banyak darah,” papar Ribut saat di Polsek Mondokan.

Ribut mengaku tak sempat melawan karena dua pukulan itu membuat pelupuk matanya mengucur banyak darah. Karena darah terus keluar, dia kemudian diamankan oleh temannya dan diantar ke Puskesmas Mondokan.

Baca Juga :  Kecelakaan Tragis di Terminal Lama Sragen, Bus EKA Ugal-Ugalan Gasak Mahasiswi asal Gondang. Motor Sampai Ringsek, Korban Ditemukan Robek Kepala 5 Sentimeter dan Kesadaran Menurun

“Setelah dari Puskesmas, saya diantar lapor ke Polsek lalu habis lapor siangnya dirawat ke klinik karena darahnya masih keluar terus,” tuturnya.

Dia mengaku mengenali pelaku yang memukulinya. Pelakunya adalah satu orang dan juga warga Mondokan. Ia juga kaget karena merasa tak pernah punya masalah dengan pelaku.

“Harapannya ya diproses hukum dan pelaku supaya cepat tertangkap,” lanjutnya.

Selain Ribut, insiden keributan malam itu juga membuat temannya, Nanda (19) turut jadi korban. Ia yang mencoba melerai saat Ribut dipukuli, justru kena timpuk benda keras yang dilempar ke arah dahinya.

Sama seperti Ribut, ia juga sempat kehilangan banyak darah lantaran dahinya sobek dan terpaksa mendapat lima jahitan. Ia tak tahu benda yang dilempar dan siapa pelemparnya.

Namun yang jelas dia merasa benda itu keras dan semacam batangan besi.

“Waktu itu saya juga njoget posisinya di belakang Mas Ribut. Saya mencoba melerai tapi malah ada lemparan seperti besi kena dahi saya. Sempat dibawa ke Puskesmas dijahit lima dan banyak keluar darah,” tuturnya. Wardoyo