JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Lawan Covid-19, BEI Pangkas Jam Perdagangan Efektif

ilustrasi / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Jumlah pasien positif Corona kian  bertambah tiap harinya. Makin banyak pula negara yang melakukan lockdown untuk menangkal persebaran virus mematikan tersebut.

Data dari covid19.go.id, per 25 Maret,sudah terdapat 187 negara terjangkit Corona dengan tingkat kematian 4,45%.

“Kondisi di tanah air juga cukup mengkhawatirkan, karena 790 orang telah terinfeksi dengan jumlah korban meninggal sebanyak 58 jiwa (mortality rate 7,34%) dan pasien sembuh 31 orang,” ujar trader kenamaan Indonesia, Ellen May dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Menyikapi hal ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mempersingkat jam perdagangan bursa guna meminimalisir ancaman penyebaran Corona.

“Kebijakan ini perlu dilihat bagaimana pengaruhnya terhadap pasar saham,” ujar Ellen.

 

Dipangkas 1,5 Jam

Menurut Surat Edaran (SE) OJK Nomor S-323/PM.21/2020, OJK memerintahkan BEI untuk melakukan pemendekan jam perdagangan efektif dan Sistem Penyelenggaraan Pasar Alternatif (SPPA) dan waktu pelaporan di Penerima Laporan Transaksi Efek (PLTE).

“Upaya OJK dan Self Regulatory Organization (SRO) ini merupakan bentuk dukungan penuh terhadap Pemerintah sekaligus menyelaraskan dengan kebijakan di sektor jasa keuangan,” jelas Ellen.

Baca Juga :  Astaga, Kasus Baru Positif Covid-19 di Indonesia Tambah 8.369 Sehari, Ini Kemungkinan Penyebabnya. Satgas: Angka yang Tidak Bisa Ditolerir

Bank Indonesia (BI) pun, jelas Ellen, juga memadatkan jam operasional Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS).

Ellen menjelaskan, sebenarnya sebelum memutuskan memangkas jam perdagangan bursa,  OJK dan SRO juga telah menerapkan Business Continuity Management (BCM).

Penerapan BCM dilakukan untuk menjamin kelangsungan kegiatan operasional di Pasar Modal. Rangkaian aktivitas BCM tersebut antara lain pembagian area kerja (split operation) ke beberapa lokasi kerja, pelaksanaan kerja dari rumah (work from home) dengan tetap memerhatikan keberlangsungan layanan kepada stakeholders danmembatasi kegiatan-kegiatan, seperti sosialisasi, rapat dan kegiatan lain yang memerlukan interaksi dengan orang banyak dan menggantikan dengan fasilitas elektronik.

“Selain itu juga memastikan lingkungan kerja yang sehat maupun memastikan kesehatan karyawan,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, jelas Ellen, IHSG beroperasi selama 26,5 jam tiap minggu. Dan akan menjadi 25 jam dengan penerapan kebijakan terbaru.

“Dibanding bursa di dunia lainnya, jam perdagangan IHSG tergolong singkat,” ujarnya.

Berdasarkan data dari Stock Market Hours, ungkap Ellen,rata-rata jam operasional bursa di dunia adalah 25 – 35 jam.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Lagi Melonjak Tinggi-tingginya, Ganjar Pranowo Berharap Pemerintah Hapus Cuti Bersama

Bursa Saham Amerika – New York Stock Exchange (NYSE) memiliki total 32,5 jam/minggu. Sedangkan Bursa London – London Stock Exchange (LSE) beroperasi sekitar 40 jam/minggu.

Dan di Bursa Asia, waktu perdagangan terlama adalah di Bursa Singapura (Strait Times Index) yaitu 35 jam tiap pekan.

“Jika menilik kondisi pasar saat ini, sebenarnya kebijakan reduksi 1,5 jam ini dapat lebih menjaga stabilitas bursa selama jam perdagangan. Mengapa bisa? Karena waktu bagi investor, baik lokal maupun asing untuk melakukan transaksi akan lebih terbatas. Sebagai efek lanjutan, volatilitas pergerakan harga saham akan menjadi berkurang dan secara tidak langsung psikologis pelaku pasar pun lebih terjaga,” ungkap Ellen.

Sebaliknya, lanjut Ellen, perlu diakui bahwa nilai transaksi bursa akan ikut turun dan berpengaruh secara langsung ke perusahaan sekuritas. Terpangkasnya potensi penerimaan fee beli dan jual berdampak pada terhambatnya tingkat akselerasi pengembangan industri sekuritas dan bursa IHSG nantinya.

Ellen menjelaskan, desakan untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19 memang tak jarang menempatkan Pemerintah dan berbagai institusi dalam situasi sulit.

Risiko ekonomi dan kesehatan seringkali berseberangan. Namun demikian, kesehatan akan selalu menjadi prioritas apapun kondisinya walaupun bakal berimplikasi pada ekonomi.

“Semoga pandemi ini segera teratasi dan semuanya kembali normal,” ujarnya. suhamdani