JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Miris, Berawal Dari Gigitan Kutu Kucing, Balita Berusia 10 Bulan Asal Sukodono Sragen Divonis Idap Tumor Ganas. Benjolan Membesar dan Menjalar ke Beberapa Bagian Tubuh, Orangtua Bingung Tak Punya Biaya

Kondisi balita asal Dukuh Dayu, Jatitengah, Sukodono, Sragen bernama Khumaira Mariba (10 bulan) dengan jari tangan yang membengkak divois tumor dan menjalar ke beberapa bagian tubuhnya saat dipangku ibunya didampingi bapaknya Jumat (6/3/2020). Insert: Kondisi benjolan di jari. Foto Kolase/Wardoyo
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

IMG 20200306 173312
Kondisi balita asal Dukuh Dayu, Jatitengah, Sukodono, Sragen bernama Khumaira Mariba (10 bulan) dengan jari tangan yang membengkak divois tumor dan menjalar ke beberapa bagian tubuhnya saat dipangku ibunya didampingi bapaknya Jumat (6/3/2020). Insert: Kondisi benjolan di jari. Foto Kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kisah penderitaan miris menyeruak dari Desa Jatitengah, Kecamatan Sukodono, Sragen. Seorang balita perempuan berusia 10 bulan, Samara Khumaira Mariba divonis mengalami tumor pada bagian jari tangan kanannya.

Tak hanya bengkak berukuran besar dan memerah, penyakit tumor yang diderita balita putri pasangan Wanto (30)-Etik Susilowati (29) itu juga sudah menjalar ke beberapa bagian tubuhnya.

Ditemui di rumah kecilnya di Dukuh Dayu RT 17/5, Jatitengah, Sukodono, Sragen, Jumat (6/3/2020), balita mungil itu terlihat masih tegar meski jari tangan kanannya sudah membengkak dan merah.

Sesekali, putri kedua dari pasutri kurang mampu itu terlihat merengek merasakan sakit yang dialaminya. Tak hanya di jari, benjolan serupa juga mulai muncul di dahi, ketiak, hidung hingga pantatnya.

Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Etik mengatakan sebenarnya putri keduanya itu terlahir normal. Penyakit benjolan itu berawal ketika putrinya berumur 3 bulan atau pada bulan Juli 2019. Saat itu, ia sedang memasak di dapur dan putrinya ditidurkan di dekat tempat memasak.

Saat itulah, ia senpat melihat ada hewan kutu kucing (dalam bahasa jawa pinjal) sedang menggigit jari manis tangan kanan bayinya.

Kutu berwarna hitam itu langsung ia singkirkan. Rupanya gigitan kutu pinjal itu menjadi awal dari petaka.

Awalnya tak ada tanda apapun pada bekas gigitan kutu itu. Namun beberapa hari kemudian, mendadak muncul bentol di jari manis tepat pada bekas gigitan yang makin hari makin membesar.

“Awalnya hanya bentol kecil. Saya kira hanya bentol biasa, ternyata kok nggak hilang-hilang tapi malam bengkaknya membesar. Takut terjadi apa-apa, akhirnya saya bawa berobat ke pukesmas. Di Puskesmas dikasih salep untuk bentolnya. Bukan mengecil tapi malah tambah besar,” papar Etik didampingi suami dan kedua orangtuanya.

Karena bengkaknya makin besar, ia kemudian membawa putrinya berobat ke bidan. Sempat agak mengecil, tapi kemudian bentol di jari manis itu kembali membesar dan memerah.

Baca Juga :  Nekat Gabung Jadi Punk, Cewek ABG Asal Tanon Sragen Diciduk Satpol PP Bersama 4 Teman Prianya. Dilaporkan Karena Bikin Resah Pengendara

Ia pun memutuskan untuk membawa putrinya ke dokter spesialis anak dan oleh dokter diberi obat puyer. Hasilnya pun tetap sama, bengkak tak mereda tapi malah bertambah.

“Lalu saya bawa ke RSUD Dr Soehadi Prijonegoro Sragen, disuruh rawat inap. Tapi beberapa hari nggak dapat kamar, akhirnya saya pindah ke RS Amal Sehat.Sudah dikasih obat dan kontrol beberapa kali tapi juga tambah bengkak. Kata dokternya suruh diinsisi buat ngambil sempel ke lab. Habis itu juga tambah bengkak sehingga dirujuk ke rumah sakit di Solo,” urai Etik.

Beberapa kali berobat dan kontrol di Solo, bengkak di jari putrinya sempat agak berkurang. Namun belakangan oleh salah satu dokter yang menangani, disarankan agar dibawa ke klinik pribadinya untuk disuntik.

Ia pun menuruti saran itu dan membawa putrinya ke klinik sang dokter pada tanggal 21 Februari 2020 lalu. Setelah disuntik di bagian bengkak, dirinya juga diberikan resep racikan pribadi sang dokter yang diklaim tak dijual di luaran.

“Setelah siang disuntik dan dikasih obat, malamnya sekitar jam 23.30 WIB sampai jam 02.00 WIB pagi, anak saya demam tinggi sekali. Sempat saya kompres, ternyata paginya bengkaknya malah tambah jadi besar. Dua hari kemudian malah menyebar dan tumbuh benjolan di alis, dahi, ketiak, bawah telinga, pantat dan hidup juga. Ini hidungnya yang satu tersumbat benjolan sehingga pernafasannya juga agak susah. Kami jadi bingung,” terang Etik.

Karena keadaan makin memburuk, ia dan suaminya kembali membawa putrinya kontrol ke rumah sakit di Solo itu.

Saat ditangani dokter bedah anak, sang dokter justru membuatnya makin syok karena memberitahu bahwa putri kecilnya itu menderita tumor dan infeksi sudah menyebar.

Jika tak segera tertangani, maka tidak ada jalan lain kecuali dilakukan amputasi untuk mencegah penyebaran penyakitnya.

“Dengar amputasi itu, saya langsung lemes Mas. Hanya bisa nangis. Saya nggak tega. Harapannya kalau bisa disembuhkan dan tidak diamputasi,” tutur Etik.

Baca Juga :  Kerahkan Kader Dukung Yuni-Suroto, Paryono: Kalau Pilih Kotak Kosong, Masyarakat Akan Rugi Sendiri!

Pasangan Wanto dan Etik tercatat sebagai keluarga tidak mampu dan tinggal di rumah kecil berdinding kayu. Selama pengobatan di RSUD, Etik mengaku biayanya ditanggung BPJS.

Namun untuk menebus resep, harus bayar sendiri. Ia menyebut sekali tebus resep antara Rp 150.000 hingga Rp 300.000. Semua biaya itu, merupakan hasil ngutang lantaran penghasilan suaminya sebagai buruh serabutan hanya cukup untuk kebutuhan keluarga.

“Dari awal pengobatan sampai wira-wiri berobat dan kontrol ke Solo itu semua sudah habis Rp 11 juta dan semua utangan Mas. Ini mau bawa ke mana lagi, kami bingung, kalau sampai nanti harus operasi dan biayanya mahal, kami nggak sanggup Mas,” tutur Etik.

Suaminya, Wanto sangat berharap segera ada solusi dan perhatian pemerintah agar putrinya bisa tertangani. Ia hanya ingin putrinya sembuh dan tidak sampai diamputasi.

“Segala upaya sudah kami lakukan meski harus nyari utangan. Yang penting anak kami bisa sembuh dan nggak sampai diamputasi. Kami pasrah, sudah nggak punya apa- apa Mas. Karena kata dokter, kalau nggak segera tertangani, akan makin menyebar,” tuturnya.

Wanto mengaku selama ini hanya mengandalkan merja serabutan mulai dari mburuh di sawah, kerja proyek, kerja bangunan atau apapun, demi menghidupi keluarga kecilnya.

Sementara, Ketua RT 17, Muhammad Amin membenarkan kondisi Wanto dan Etik adalah warga kurang mampu. Bahkan untuk berobat dan kontrol ke rumah sakit, kadang dirinya yang mengantar.

Ia juga berharap segera ada perhatian dan penanganan terhadap penyakit yang diderita Khumaira. Sehingga bisa sembuh seperti sedia kala tanpa harus diamputasi.

“Mudah-mudahan segera ada penanganan dari pemerintah. Saya sendiri sampai nggak tega melihatnya Mas. Anak sekecil itu harus menanggung sakit yang berat dan kelihatann penyakitnya sudah menyebar ke beberapa bagian tubuh lainnya,” tandasnya. Wardoyo