WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Saat malam perlahan menelan cahaya senja dan udara Pringgondani mulai diselimuti nuansa sakral, ratusan langkah kaki bergerak tanpa suara. Tak ada teriakan, tak ada gemuruh sorak. Yang terdengar hanyalah desir angin dan denting nilai-nilai leluhur yang kembali dibangkitkan dalam Kirab Malam 1 Suro Tahun Baru Jawa 1960 yang digelar Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya.
Tradisi yang sempat memudar di tengah derasnya arus modernisasi itu kini kembali menemukan denyut kehidupannya. Melalui inisiatif mahasiswa Jurusan Kepanditaan STABN Raden Wijaya Wonogiri, Kirab Lampah Hening hadir sebagai ruang perenungan sekaligus penghormatan terhadap warisan budaya Jawa yang sarat makna.
Kirab yang berlangsung di kawasan Pringgondani tersebut terinspirasi dari perjalanan perjuangan Raden Mas Said, sosok legendaris yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa. Semangat keberanian, keteguhan, dan pengabdian tokoh besar tersebut dihidupkan kembali melalui prosesi tapa bisu yang dijalani para peserta.
Dengan balutan pakaian adat Jawa Gagrak Surakarta yang anggun dan berwibawa, ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa serta masyarakat umum Kabupaten Wonogiri berjalan dalam keheningan. Tidak sekadar melangkah, mereka diajak menelusuri perjalanan batin, menata kembali pikiran, ucapan, dan tindakan untuk menyongsong tahun baru Jawa.
Prosesi dipimpin langsung oleh Ketua STABN Raden Wijaya, Dr. Sulaiman, Ph.D., bersama jajaran pimpinan kampus dan tokoh masyarakat yang berada di barisan terdepan. Di belakang mereka, ratusan peserta mengikuti iring-iringan kirab dengan tertib dan penuh khidmat.
Dalam sambutannya, Dr. Sulaiman menegaskan bahwa keheningan bukanlah sekadar diam tanpa makna, melainkan sumber lahirnya kesadaran yang lebih dalam.
“Hening adalah akar dr keluhuran nilai. Dengan Hening muncul kesadaran dan kewaspadaan. Ditengah arus teknologi global kita dotuntut untuk berdaya saing global agar nanti menjadi lulusan yang mampu bersaing dna berdiri diatas kaki sendiri. Namun dari semua komptensi melalu laku Hening, maka kita akan menjadi sadar dalam ucapan, tindakan dan pikiran,” ujar Dr. Sulaiman, Ph.D.
Rangkaian acara dimulai dengan pengambilan tirta suci dari Sendang Mondroini, Sendang Sinongko, dan Sendang Siwani. Air suci tersebut menjadi simbol penyucian diri sebelum memasuki tahun yang baru. Setelah itu, peserta mengikuti pembacaan narasi perjuangan Raden Mas Said yang membangkitkan kembali semangat perjuangan dan pengorbanan sang pahlawan.
Suasana semakin khidmat ketika Obor Sambernyawa dinyalakan oleh Ketua STABN Raden Wijaya. Nyala api yang menembus gelap malam menjadi simbol dimulainya Kirab Lampah Hening, sekaligus perlambang semangat yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Dari pintu timur Lapangan Basket Pringgondani, rombongan kirab mulai bergerak. Alunan gending Jawa mengiringi setiap langkah peserta yang menempuh perjalanan sekitar dua kilometer mengelilingi kawasan secara searah jarum jam. Keheningan yang dijaga sepanjang perjalanan menciptakan suasana reflektif yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari yang serba cepat.
Setelah menyelesaikan rute kirab, para peserta kembali ke titik awal dan disambut kembali dengan lantunan gending Jawa yang menambah suasana penuh makna. Momentum tersebut menjadi pertemuan antara tradisi, spiritualitas, pendidikan, dan budaya dalam satu ruang yang harmonis.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Sriyanto, membacakan sambutan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno yang memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Bupati Mengapresiasi kegiatan ini. Lampah Hening menyambut meneladani nilai perjuangan raden mas said, mengucapkan terimakasih kepada Ketu dan seluruh sivitas akademika. Kegiatan ini Menunjukkan harmonisasi terjalin dengan baik yang mrmiliki makna yang mendalam,” demikian sambutan yang dibacakan Sriyanto.
Kirab Malam 1 Suro yang digelar STABN Raden Wijaya tidak hanya menjadi perayaan pergantian tahun dalam kalender Jawa. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin bising, keheningan masih memiliki tempat untuk mengajarkan kebijaksanaan. Bahwa di balik langkah-langkah yang membisu, tersimpan pesan tentang jati diri, penghormatan kepada leluhur, dan harapan akan masa depan yang lebih bijaksana.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk keselamatan, kedamaian, serta kesejahteraan masyarakat dalam menyongsong Tahun Baru Jawa 1960. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














