JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Sempat Dirawat 2 Hari, Pasien Perempuan Positif Corona Meninggal di RSUD Moewardi Solo Rabu Solo

Ilustrasi virus corona. pixabay

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan pasien positif corona di RSUD Moewardi Solo telah meninggal pada Rabu (18/3/2020) sore. Berarti hingga saat ini sudah ada tiga pasien positif corona di Jateng yang meninggal.

“Pasien sempat dirawat selama dua hari di RS Moewardi,” kata Ganjar di Puri Gedeh, Rabu (18/3/2020) malam.

Gubernur menerangkan pasien tersebut berjenis kelamin perempuan berusia 49 tahun.

Ikut Seminar Bogor

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yulianto Prabowo, menambahkan, pasien merupakan klaster dari seminar Bogor.

“Iya, dia ikut seminar di Bogor,” jelasnya.

Artinya, ada 4 pasien positif corona di Jateng dari klaster seminar Bogor. Dua diantara meninggal dunia. Keduanya meninggal di RSUD Moewardi.

“Hasil tracking, dia ikut seminar di Bogor.”

“Memiliki riwayat perjalanan sama dengan pasien positif corona yang meninggal pertama di Moewardi,” katanya.

Pemprov akan terus melacak warga yang ikut seminar di Bogor untuk mencari data peserta seminar.

Gubernur juga telah berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Barat untuk menyikapi kasus ini.

“Kami sedang mencari manifes peserta seminar di Bogor itu,” imbuhnya.

Baca Juga :  Aksi Koboy 72 Tahun Berondong 8 Tembakan ke Alphard, Ternyata Berawal dari Masalah Tanah 10 Ribu Meter Persegi di Jaten yang Diagunkan di Bank

Bangun Pabrik Masker

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan dalam waktu dekat pabrik masker bakal berdiri di Jawa Tengah.

Selain itu, Ganjar juga mengatakan pabrik alkohol di Wonogiri bakal menaikkan produksi mencapai 3 juta liter per hari.

Kebutuhan mendesak penanganan virus corona di Jawa Tengah adalah kurangnya alat pelindung diri (APD), masker salah satunya.

Ganjar Pranowo mengatakan dalam waktu dekat pabrik masker bakal dibangun di Jawa Tengah untuk mencukupi kebutuhan.

“Akan dibangun di Brebes dan saat ini masih proses perizinan,” kata Ganjar, sesuai rilis yang diterima tribunjateng.com, Rabu (18/3/2020).

Menurut Ganjar hal tersebut seperti yang dilakukan Pemerintah Korea Selatan dalam penanganan virus corona.

Yakni mendesak perusahaan agak menambah jumlah produksi dari 10 juta ke 14 juta.

“Kita mesti tiru itu.”

“Dan ini kesempatan bangsa ini mandiri.”

“Ini kesempatan bangsa ini berdikari,” katanya.

Tambah Produksi Alkohol

Selain masker, salah satu kebutuhan dalam menangani virus corona adalah alkohol sebagai salah satu komponen untuk membuat hand sanitizer.

Baca Juga :  Golkar Solo Klaim Bakal Sumbangkan 27 Ribu Suara untuk Gibran-Teguh

Ganjar menyampaikan di Jawa Tengah hanya ada satu perusahaan yang memproduksi alkohol, dan saat ini menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan jumlah produksi.

“Nanti akan produksi sampai 3 juta liter.”

“Karena kita perlu hand sanitizer yang selama ini produksinya terbatas,” katanya.

Untuk menutup kekurangan hand sanitizer tersebut, Ganjar mengatakan akhir-akhir ini dirinya melihat para ahli berkreasi membuat pencuci tangan itu secara mandiri, dengan memadukan alkohol dengan tumbuh-tumbuhan yang mudah ditemui di sekitar.

“Ada temuan menarik dari perguruan tinggi, juga anak SMK yang menggunakan dari berbagai bahan, itu juga bisa sebenarnya,” katanya.

Namun demikian, Ganjar mengatakan secara keseluruhan kebutuhan APD di Jawa Tengah masih mengalami kekurangan.

Terlebih ketika rapat Video Conference dengan bupati dan walikota se Jawa Tengah kemarin, mereka mengatakan semua rumah sakit kekurangan APD.

Dari safety shoes, respirator sampai baju pelindung.

“Kita lagi cari siapa yang bisa produksi (APD dan VTM).”

“Kita sudah meminta untuk mendata.”

“Kita akan paksa untuk produksi lebih banyak,” kata Ganjar.

www.tribunnews.com