JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

5 Warga Super Ngeyel di Sragen Langsung Dijebloskan ke Rumah Kosong dan Berhantu. Bupati: Kunci dari Luar!.

.
Penampakan gudang kosong di Desa Sepat Masaran Sragen yang digunakan sebagai rumah isolasi atau rumah hantu untuk mengarantina pemudik yang nekat bandel tidak mau menaati aturan karantina mandiri di rumah. Foto/Wardoyo
.
Penampakan gudang kosong di Desa Sepat Masaran Sragen yang digunakan sebagai rumah isolasi atau rumah hantu untuk mengarantina pemudik yang nekat bandel tidak mau menaati aturan karantina mandiri di rumah. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Setelah menolak membuat lokasi khusus untuk karantina pemudik, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen meminta desa untuk menyiapkan tempat karantina khusus bagi para pemudik membandel.

Bahkan hingga Senin (20/4/2020), sudah ada lima warga pemudik bandel yang terpaksa harus menerima nasib dikurung di rumah isolasi angker alias rumah hantu.

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati meminta pihak desa menyiapkan rumah kosong dan berhantu, untuk mengkarantina paksa para pemudik yang tidak menaati aturan karantina mandiri selama 14 hari.

Bupati meminta jika perlu pemudik bandel dimasukkan rumah kosong, angker berhantu dan dikunci dari luar.

“Kita semua sudah bekerja keras untuk menanggulangi pandemi ini. Termasuk setiap para pemudik, kita terima dengan  baik, lalu diminta menandatangani komitmen untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Jika masih ada yang nekat, saya persilakan desa untuk melakukan langkah tegas. Kalau ada rumah kosong dan berhantu, masukkan di situ. Kunci dari luar,” kata Yuni, sapaan akrabnya, ditemui wartawan, Senin (20/4/2020).

Baca Juga :  Awas, Ini 10 Potensi Kerawanan di Pilkada Sragen Yang Wajib Diwaspadai. Salah Satunya Kampanye Ajakan Golput, Polres Siagakan 785 Personel Amankan Saat Coblosan

Menurut Yuni, keputusan tersebut diambil setelah banyak laporan masuk dari desa, mengenai masih banyak pemudik yang tidak menaati aturan karantina mandiri.

Meski dikarantina di lokasi khusus, Yuni meminta pihak desa untuk tetap memastikan kondisi para pemudik tetap baik.

“Kalau memang ngeyel silakan. Sudah ada dua desa yang lapor ke saya. Satu di Kecamatan Plupuh dan satu lagi di Desa Sepat Kecamatan Masaran. Tapi saya minta makanan mereka diperhatikan. Kesehatan juga terus dipantau,” ujar Yuni.

Sementara berdasarkan pantauan di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, saat ini sudah tiga orang yang dikarantina paksa.

Baca Juga :  100 Lebih Kelompok Tani di Sragen Digelontor 150 Alsintan Senilai Rp 15,7 Miliar. Anggota DPR RI Luluk Harap Petani Lebih Sejahtera, Bupati Yuni Ingatkan Semua Bantuan Tahun Depan Akan Dicek Masih Ada Wujudnya Atau Tidak!

Menurut pihak desa, rumah karantina tersebut memang sudah lama tak dihuni sehingga memiliki kesan menyeramkan bagi warga sekitar.

“Karena kemarin konsultasi sama bupati, kita dibolehkan melakukan karantina para pemudik yang bandel. Akhirnya dipilih lokasi itu. Gedungnya lama nggak dipakai sehingga kesannya rumah hantu gitu. Kita bersihkan kita kasih tempat tidur bersekat,” terang Kepala Desa Sepat, Mulyono kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

Mulyono menguraikan dari ketiga pemudik yang menghuni rumah hantu tersebut dijemput oleh Satgas Covid-19 desanya karena kepergok keluar rumah saat masa karantina.

Meski awalnya enggan, para pemudik tersebut akhirnya menurut setelah diberi pengertian oleh petugas.

“Ya kita memang agak memaksa. Bagaimana lagi, karena ini demi kebaikan seluruh warga. Kami harapkan hal ini menjadi pelajaran bagi warga lain untuk menuruti aturan,” imbuhnya. Wardoyo