loading...

PURWOKERTO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Aksi heroik bupati Banyumas, Achmad Husein ikut menguburkan sendiri pasien positif corona yang meninggal dunia mendapat apresiasi dari berbagai pihak.

Apresiasi tersebut diwujudkan dalam bentuk karangan bunga yang dikirimkan ke kantor bupati Banyumas. Karangan bunga mulai berdatangan sejak Rabu (1/4/2020) hingga Kamis (2/4/2020) siang ini.

Sekitar 12 karangan bunga dengan berbagai ukuran dikirim dari warga Banyumas, juga kelompok, organisasi maupun lembaga swasta dan ditempatkan di bagian depan pintu masuk Kantor Bupati Banyumas Jalan Kabupaten Nomor 1 Purwokerto.

Isi tulisan karangan bunga sebagian besar adalah ucapan terima kasih dan dorongan kepada Bupati Banyumas untuk senantiasa semangat dalam memberantas virus corona.

Kiriman bunga pertama berasal dari akun medsos Info Purwokerto.

Dalam tulisannya yakni ‘Teruntuk Bupatiku Bpk Ir Achmad Husein, terima kasih dan semangat selalu, wabah ini akan segera berakhir’.

Irfan Bactiar selalu admin Instagram Info Purwokerto mengatakan, dia bersama teman-temanya sengaja memberi dukungan Bupati Banyumas.

Hal itu karena masih banyak dari masyarakat Banyumas mendukung kebijakan pemerintah.

“Kami mendukung, bukan menghambat,” katanya kepada TribunBanyumas.com, Kamis (2/4/2020).

Sebagian besar karangan bunga bertuliskan motivasi untuk Bupati Banyumas Achmad Husein.

Bupati Banyumas saat memimpin rapat sambil berjemur pun menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, organisasi, dan lembaga yang telah memberi dukungan.

“Terima kasih, ini yang menambah semangat saya,” pungkasnya.

Jenazah Sempat Terlantar

Pada Selasa (31/3/2020), jenazah pasien positif corona sempat terlantar saat hendak dimakamkan di lingkungan tempat tinggalnya.

Terlantarnya jenazah tersebut karena ditolak atau ditentang warga setempat.

Mereka tidak ingin jenazah tersebut dikebumikan di lingkungan mereka.

Jenazah yang baru dikebumikan di Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, pada Selasa (31/3/2020) malam juga terpaksa dipindah.

Baca Juga :  Global Qurban-ACT Siap Berdayakan Masyarakat Ter-PHK Melalui Agen Kurban
Bupati Banyumas, Achmad Husein mengenakan APD putih saat memimpin langsung pemakaman jenazah covid-19 yang sempat mendapatkan penolakan warga, Rabu (1/4/2020). (Tribunbanyumas/PEMKAB BANYUMAS)

Bupati Banyumas, Achmad Husein bahkan memimpin sendiri pembongkaran makam pada Rabu (1/4/2020).

Hal itu akibat dari adanya penolakan dari warga desa setempat dan desa tetangga.

Yaitu di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

Penolakan itu dipicu masih adanya rasa kekhawatiran jenazah masih bisa menularkan virus corona.

“Kami coba turun langsung karena hanya ingin menunjukkan bahwa jenazah tersebut tidak berbahaya,” ujar Bupati kepada TribunBanyumas.com, Rabu (1/4/2020).

Ya, jenazah pasien virus corona itu sempat mendapat penolakan di beberapa wilayah.

Seperti di Kecamatan Purwokerto Timur, Purwokerto Selatan, Patikraja, dan Wangon.

Jenazah adalah pasien positif corona asal Kecamatan Purwokerto Timur.

Pasien meninggal dunia di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto pada Selasa (31/3/2020) pagi.

Berkaca pada hal itu, Bupati Banyumas akan kembali mensosialisasikan secara terus-menerus.

Tujuannya agar masyarakat paham bahwa jenazah pasien virus corona itu bisa dikuburkan di mana saja.

Pemkab Banyumas juga sebelumnya telah menyiapkan tiga lahan sebagai alternatif tempat pemakaman khusus.

Namun sayangnya di ketiga lokasi tersebut ternyata jenazah mendapat penolakan dari warga.

Bukan Watak Orang Banyumas

Pasca insiden tersebut, budayawan sekaligus sastrawan Banyumas, Ahmad Tohari prihatin dan mengungkapkan kesedihannya.

Dia pun terpaksa mengingatkan kepada seluruh masyarakat supaya kembali kepada watak welas asih.

Menurutnya, watak asli orang Banyumas yang sebenarnya adalah welas asih.

Pesan itu disampaikannya setelah dia mendengar adanya penolakan dari beberapa warga Banyumas.

Terkait pemakaman seorang jenazah pasien virus corona di lingkungan permukiman tempat tinggal mereka.

Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari. (TRIBUN BANYUMAS/PERMATA PUTRA SEJATI)

“Jujur saya sedih. Orang Banyumas itu terkenal karena welas asih.”

“Jangan lagi ternodai karena hal seperti itu,” ujar Ahmad Tohari.

Tohari berpandangan, penolakan penguburan jenazah pasien Covid-19 adalah tindakan yang tidak benar dan keliru.

Baca Juga :  Nasib PRT Kehilangan Pekerjaan di Tengah Pandemi Covid-19, Ironisnya Dipecat Via Aplikasi Pengiriman Pesan

Menurutnya, penanganan jenazah tersebut pasti sudah dilakukan sesuai prosedur medis yang sangat aman.

“Masyarakat Banyumas harus kembali ke watak legowo dan marilah bersikap baik kepada siapapun,” tandasnya.

Pesan inti yang ingin disampaikan Ahmad Tohari adalah jangan sampai karena ketakutan yang berlebih justru menghilangkan rasa kemanusiaan itu sendiri.

Jenazah Covid-19 jelas punya hak yang sama dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) di desanya.

Pemkab Banyumas melalui Dinkes juga telah memainkan peran penting untuk mengedukasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Selain itu tokoh masyarakat, tokoh agama harus berperan dalam memberikan edukasi dan pemahaman yang sebenarnya.

“Intinya jangan sampai masyarakat kehilangan rasa kemanusiaan karena ketidaktahuan serta ketakutan yang berlebihan.”

“Tokoh agama, tokoh desa bisa memberikan pelajaran harus bersikap manusiawi,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Dinkes Kabupaten Banyumas, Sadiyanto kembali menegaskan sekaligus meyakinkan kepada masyarakat.

“Penanganan pasien virus corona itu sudah melalui proses yang aman dan sesuai standar. Termasuk ketika pasien tersebut meninggal,” tandasnya.

Perlu diketahui, sekiranya ada tiga lapis pengamanan proses pemulasaran jenazah pasien virus corona.

“Pertama itu adalah jenazah dimandikan. Setelah itu didisinfektan. Kemudian dibungkus plastik dan dikafani.”

“Setelah didisinfektan langsung dibungkus lagi dengan plastik kedap air agar tidak bocor.”

“Barulah dimasukkan ke dalam kotak jenazah.”

“Kotak jenazah itu juga dibungkus plastik sehingga tidak mungkin menulari lagi,” ujar Sadiyanto.

Pihaknya menekankan, penularan virus corona paling rawan adalah melalui droplet atau cipratan bersin.

“Keamanan sudah luar biasa, tenaga pemakaman juga sudah dibekali dengan perlengkapan keamanan sesuai standar,” pungkasnya.

Sehingga, jenazah tersebut bisa dimakamkan di mana saja.

Menurutnya penolakan itu adalah karena masyarakat kurang menangkap secara baik informasi terkait virus corona.

www.tribunnews.com