JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Anak Merengek Minta Mainan, Pemudik di Masaran Sragen Ampun Ampun Kepergok Satgas Covid-19 dan Langsung Dijebloskan ke Rumah Hantu. Maunya Sayang Anak, Malah Berakhir ke Rumah Pengap

Kondisi pemudik di Sepat Masaran yang dikarantina di rumah hantu. Foto/Wardoyo
Kondisi pemudik di Sepat Masaran yang dikarantina di rumah hantu. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Meningkatnya kasus corona virus atau covid-19 di Sragen membuat warga dan Pemdes mulai bersikap represif dan tegas terhadap warga pemudik.

Seperti kisah yang mencuat di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Sragen ini. Desa ini mendadak memantik atensi publik setelah membuat keputusan dengan mengisolasi pemudik atau pelaku perjalanan yang nekat keluar rumah selama masa karantina mandiri.

Hingga kemarin, sudah ada tiga pemudik yang menjadi penghuni rumah isolasi yang dikenal angker di Dukuh Pucuk, Sepat itu. Mereka terpaksa harus menanggung sanksi menjalani karantina di rumah hantu akibat dianggap membandel dan dipergoki keluar rumah.

Salah satunya adalah Heri Susanto, salah satu pemudik yang baru tiba dari perantauan Bandar Lampung.

Niatnya menuruti permintaan sang anak untuk membeli mainan, justru membuatnya tidak bisa berkumpul dengan si buah hati dan keluarga.

“Awalnya anak saya nangis minta mainan, semacam tenda-tendaan gitu. Namanya juga anak, lalu saya antar beli ke Sragen (Kota). Pulangnya saya ketangkap sama Satgas (COVID-19 Desa). Saya ditarik gitu aja,” ujarnya ditemui di rumah isolasi atau rumah hantu, kemarin.

Saat dipergoki Satgas, malam itu Heri langsung dibawa ke lokasi karantina khusus. Dan pria berusia 40an tahun itu harus melewati malamnya dan hari-hari berikutnya terpisah anak istrinya.

Baca Juga :  Bupati Umumkan Sragen Masih Zona Merah Covid-19. Gubernur Minta Injak Rem, Mohon Maaf Nekat Gelar Hajatan Tak Sesuai Prokes Denda Rp 1 Juta dan Bisa Dibubarkan!

Heri tercatat merupakan penghuni pertama karantina khusus tersebut. Setelah dia, dua pemudik yang juga kepergok keluar rumah saat masa karantina, menyusul jadi penghuni berikutnya.

“Saya ikut aturan lah. Saya menyesal. Saya yang salah Mas. Terpaksa nggak bisa ketemu sama keluarga. Tapi saya tahu ini demi keamanan,” lanjutnya.

Untuk mengurangi rasa kangen dengan keluarga, Heri hanya bisa melakukan panggilan videocall. Belum lagi, gedung yang ditempatinya banyak disebut warga sekitar sebagai rumah hantu.

“Pasrah saja sama Allah. Untuk pelajaran, lah. Aturannya sudah bagus, saya yang melanggar,” imbuh Heri.

Kades Sepat, Kecamatan Masaran, Mulyono mengatakan saat ini sudah tiga orang yang dikarantina paksa.

Menurut pihak desa, rumah karantina tersebut memang sudah lama tak dihuni sehingga memiliki kesan menyeramkan bagi warga sekitar.

“Karena kemarin konsultasi sama bupati, kita dibolehkan melakukan karantina para pemudik yang bandel. Akhirnya dipilih lokasi itu. Gedungnya lama nggak dipakai sehingga kesannya rumah hantu gitu. Kita bersihkan kita kasih tempat tidur bersekat,” terang Kepala Desa Sepat, Mulyono kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

Mulyono menguraikan dari ketiga pemudik yang menghuni rumah hantu tersebut dijemput oleh Satgas Covid-19 desanya karena kepergok keluar rumah saat masa karantina.

Baca Juga :  Innalillahi, Tambah Lagi Satu Warga Suspek Covid-19 Meninggal dan 4 Positif Hari Ini. Kasud Covid-19 Sragen Jadi 473, Jumlah Korban Meninggal Capai 66 Orang

Meski awalnya enggan, para pemudik tersebut akhirnya menurut setelah diberi pengertian oleh petugas.

“Ya kita memang agak memaksa karena sudah jadi keputusan warga dan mereka saat tiba juga sudah membuat pernyataan. Ya, bagaimana lagi, ini demi kebaikan seluruh warga. Kami harapkan hal ini menjadi pelajaran bagi warga lain untuk menuruti aturan,” imbuhnya.

Salah satu Satgas, Tri Setiawan menambahkan selama dikarantina di rumah hantu, mereka juga sempat memohon minta dikeluarkan. Namun karena aturan warga serta desa, Satgas pun tak bisa berbuat banyak selain menegakkan aturan.

“Ya awalnya ampun-ampun minta dipulangkan. Tapi ini sudah kesepakatan dan warga juga yang mengawasi,” tukasnya.

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati memang meminta pihak desa menyiapkan rumah kosong dan berhantu, untuk mengkarantina paksa para pemudik yang tidak menaati aturan karantina mandiri selama 14 hari. Wardoyo