JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Bikin Trenyuh, Demi Cegah Penyebaran Corona, Warga Miri Sragen Relakan Hajatan Mantunya Dibatalkan di Hari H. Kursi Pelaminan Tinggal Kenangan, Sewa Campursari dan Belanjaan Puluhan Juta Terpaksa Diikhlaskan..

Kursi pelaminan yang sudah disiapkan untuk kedua mempelai di Desa Doyong, Miri, Sragen terlanjur disiapkan meski pesta pernikahan ngunduh mantu terpaksa dibatalkan. Foto/Istimewa
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Kursi pelaminan yang sudah disiapkan untuk kedua mempelai di Desa Doyong, Miri, Sragen terlanjur disiapkan meski pesta pernikahan ngunduh mantu terpaksa dibatalkan. Foto/Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Wabah corona virus atau covid-19 yang menjadi wabah global saat ini, memang di luar prediksi. Penyebaran wabah yang cukup massif itu membuat pemerintah terpaksa menerapkan kebijakan pengetatan izin hajatan dan kegiatan yang mengumpulkan banyak orang.

Tak hanya kegiatan formal, salah satu yang terdampak adalah warga yang punya hajatan pernikahan. Salah satunya yang dialami warga Desa Doyong, Kecamatan Miri, Sarman ini.

Gegara wabah corona, ia terpaksa harus merelakan kehilangan momen bersejarah bagi putranya yang hendak melangsungkan pernikahan. Hajatan ngunduh mantu yang ia rancang sejak berbulan-bulan, terpaksa harus buyar karena larangan menggelar hajatan.

Tragisnya, larangan itu hadir ketika hajatan ngunduh mantunya sudah memasuki hari H alias hari pelaksanaan. Namun apa mau dikata, ia pun harus pasrah dan merelakan ketika pernikahan putranya harus digelar tanpa ada pesta dan tamu banyak.

Baca Juga :  Duh, Kades Tegaldowo Gemolong Sragen Yang Positif Covid-19 Ternyata Sempat Ikut Rapat Bersama Para Kades dan Sekcam. Pelayanan Balai Desa Ditutup?

“Donge (Hari H-nya) harusnya hari ini. Midodareninya tadi malam. Tapi karena ada imbauan dan larangan menggelar hajatan akibat pandemi corona, ya terpaksa semua dibatalkan,” papar Kasi Pemerintahan Desa Doyong, Sumadi, Minggu (29/3/2020).

Ya, apa mau dikata. Larangan hajatan demi pencegahan corona, tak bisa lagi ditawar.

Meski pesta sudah di depan mata dan semua perangkat maupun persiapan sudah tersaji, hajatan pun tak bisa dilanjutkan.

Padahal kursi pelaminan, kursi tamu, perangkat hiburan campursari hingga uborampe makanan untuk sajian, semua sudah siap.

Karena ada larangan, sehingga perangkat campursari hingga sound system yang sudah dipasang pun terpaksa dikukut, kursi tamu pun dikemasi.

Baca Juga :  Breaking News: Geger Mayat Pria Misterius Ditemukan Bersimbah Darah di Teras Rumah Warga Gading Tanon Sragen. Lokasi Langsung Ditutup Garis Polisi!

Padahal untuk biaya sewa campursari, perangkat rias dan makanan, diyakini sudah habis lebih dari Rp 25 juta.

“Tapi Alhamdulillah meski agak sedih, beliaunya sudah nglenggono dan bisa menerima. Ya mau gimana lagi, situasinya seperti ini bilangnya ya mau gimana lagi kalau nggak diikhlaske,” tutur Sumadi.

Menurutnya, Pemdes juga tak bisa berbuat banyak karena memang sudah ada maklumat dari Polsek serta pemerintah soal larangan menggelar hajatan di tengah pandemi covid-19.

“Ya harapannya, semoga wabah corona ini segera reda sehingga semua bisa kembali seperti sedia kala. Sebenarnya kasihan juga Mas kalau ada hajatan yang ngrancangnya sudah berbulan-bulan harus batal. Tapi ya bagaimana lagi, semua demi kepentingan yang lebih besar,” pungkasnya. Wardoyo