JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Fakta Baru Prostitusi Online dengan 600 Cewek Muda di Surabaya, Ternyata Ada Pelanggan dari Kalangan Pengusaha dan Pejabat

Mami Lisa janda asal Sidoarjo menjajakan 600 PSK via WhatsApp (WA). Anak buahnya mulai mahasiswi di Surabaya hingga Bandung. SURYA.CO.ID/firman rachmanudin

SURABAYA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Penyidik Polrestabes Surabaya menemukan fakta baru dalam kasus prostitusi online yang melibatkan 600 cewek muda mulai mahasiswi, SPG hingga pekerja kantoran.

Dalam bisnis haram tersebut, ternyata ada pengusaha dan pejabat yang menjadi pelanggan. Dalam kasus ini polisi telah menangkap tiga muncikari, yaitu Lisa Semampow (48), Kusmanto (39), dan Dewi Kumala (44).

Terbongkarnya kasus ini bermula saat polisi menggerebek kamar hotel di Surabaya Selatan pada 24 Februari 2020. Dalam penggerebekan ini, polisi menemukan dua cewek yang melayani pria hidung belang.

Llau polisi menangkap Kusmanto dan Dewi Kumala yang diduga menjadi muncikari bisnis esek-esek ini. Dalam pemeriksaan itulah polisi menemukan nama dan foto 600 cewek muda yang terlibat dalam bisnis haram ini.

“Pola perekrutannya adalah dari mulut ke mulut, dan ada yang menawarkan diri karena butuh uang,” kata AKP Iwan Hari Purwanto, Kanitjatanras Satreskrim Polrestabes Surabaya kepada SURYAMALANG.COM, Rabu (15/4/2020).

Baca Juga :  Lakukan Swab Mandiri, Rektor IPB Arif Satria Positif Covid-19

Cewek-cewek dari latar belakang beragam, mulai SPG event, mahasiswi, model, dan pekerja kantor.

“Para korban terlibat bukan hanya karena kebutuhan. Tapi, latar belakang hidupnya memang borjuis, dan mewah.”

“Jadi kebanyakan mereka yang menawarkan diri ke muncikari ini,” tandas Iwan.

Dalam aksinya, Lisa Semampow mempunyai grup khusus bagi para member yang sudah lebih dari sekali memesan jasa. Setelah komunikasi via grup Facebook, Lisa dan pelanggan itu beralih ke pesan WhatsApp.

“Lalu tersangka memberi foto cewek dan tarifnya untuk sekali kencan,” kata Iwan.

Setelah sepakat, Lisa mengatur lokasi hotel untuk melayani pelanggannya.

Baca Juga :  Ini 6 Larangan dalam Aturan Pesepeda yang Dirilis Kemenhub

“Lalu anak buah dihubungi dan diminta datang ke hotel yang sudah disediakan tersangka. Korban dan pelanggan akan bertemu di hotel,” tambahnya.

Setelah dua kali transaksi, Lisa memasukkan pelanggan itu ke grub WhatsApp.

Menurutnya, Lisa memilah pelanggan menjadi tiga klasifikasi untuk mendapat layanan, mulai layanan biasa sampai layanan premium.

“Harga layanan biasa di bawah RP 5 juta. Layanan sedang antara Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Kalau layanan premium, harganya di atas RP 10 juta,” lanjut Iwan.

Menurutnya, para pelanggan Lisa dan dua muncikari tersebut beragam. Bahkan ada pebisnis atau pengusaha dan pejabat yang menjadi pelanggan bisnis ini.

“Untuk layanan premium, mayoritas memang pebisnis. Layanan ini memang untuk menengah ke atas. Jadi, pelanggannya juga bukan orang biasa,” tandas Iwan.

www.tribunnews.com