JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Masyarakat Bisa Gunakan Masker Kain di Tempat Umum Saat Pandemi Corona, Tapi Jangan Lupa Ikuti Saran Ahli ini

Masker kain. WARTA KOTA/Nur Icshan

JOGLOSEMARNEWS.COM – Di saat pandemi virus corona, masker menjadi salah satu barang yang wajib dibawa saat bepergian. Namun, tak sedikit yang salah kaprah malah menggunakan masker yang bukan peruntukannya.

Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito menjelaskan, memang sebenarnya ada tiga jenis masker yang bisa digunakan di tengah pandemi virus corona.

Masker tersebut di antaranya adalah masker N95, masker bedah, dan masker kain.

Nah, untuk masyarakat umum, dapat menggunakan masker kain saja jika berada di tempat umum.

Kendati demikian, dikatakan Prof Wiku, masker tersebut harus terbuat dari kain minimal tiga lapis.

“Masker kain digunakan oleh masyarakat saat berada di tempat umum dan berinteraksi dengan orang lain.”

“Masker ini dapat terbuat dari kain, minimal tiga lapis, yang dapat digunakan oleh masyarakat, dan apabila mulai basah bisa diganti,” ujarnya dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal YouTube BNPB Indonesia, Sabtu (4/4/2020).

Lebih lanjut dia menjelaskan, sebaiknya penggunaan masker tak hanya untuk sendiri saja.

Baiknya, kita harus memberikan masker kepada orang lain.

“Sebagai bentuk solidaritas karena kita ingin melindungi diri kita dan kita juga ingin melindungi orang lain,” kata Wiku.

Untuk masker bedah, lanjutnya, itu digunakan oleh tenaga kesehatan atau orang sakit.

Wiku menyarankan, tenaga medis yang tak menangani pasien dengan risiko infeksius tinggi dan orang sakit, dapat menggunakan masker bedah.

Sementara itu, masker N95 dapat digunakan bagi dokter dan tenaga kesehatan yang menangani pasien dengan infeksius tinggi.

Baca Juga :  Perang Semesta Melawan Covid-19, IDI Sebut Garda Terdepan adalah Masyarakat

Tak hanya itu, Prof Wiku juga menyarankan dokter gigi dan perawat gigi menggunakan masker N95.

“Kami mengetahui bahwa ada beberapa tenaga dokter gigi yang telah gugur. Maka dari itu, disarankan untuk menggunakan masker N95,” katanya.

Dapat Dipakai Lebih dari Satu Kali

Juru bicara pemerintah untuk penangan virus corona Achmad Yurinato menyebut masker berbahan dasar kain dapat dijadikan alternatif.

Masker kain menjadi pilihan terakhir karena kelangkaan masker bedah.

“(Penggunaan masker berbahan dasar kain) ini lebih baik dibanding tanpa pakai masker,” kata Yuri, Rabu (25/3/2020), dikutip dari Kompas.com.

Masker bedah pada umumnya digunakan karena memiliki lapisan yang dapat menahan droplet (percikan air ludah).

Adapun droplet merupakan sumber terjadinya penularan virus, karena dapat berpindah dari orang yang sakit ke orang sehat.

Menurut Yuri, masker kain juga punya fungsi yang sama sebagai penahan droplet, baik droplet pemakai maupun orang lain.

“Masker kain menahan droplet pemakai, dan bisa menahan droplet orang lain,” ujarnya.

Sama seperti surgical mask, menurut Yuri, masker berbahan dasar kain juga tak boleh digunakan lama-lama.

Pengguna masker kain yang tidak sedang batuk dianjurkan mengganti masker tiap tiga jam sekali, sedangkan yang tengah flu disarankan mengganti masker lebih sering lagi.

Tak seperti surgical mask yang hanya dapat digunakan sekali pakai, masker kain dapat dipakai lebih dari satu kali, dengan catatan rajin dicuci.

Baca Juga :  JK Minta Pilkada 2020 Ditunda Sampai Vaksin Covid-19 Ditemukan

Yuri pun menegaskan bahwa pencucian masker kain harus menggunakan sabun dan dipastikan bersih.

“Tetap cuci tangan pakai sabun mutlak,” kata dia.

Masih mengutip sumber yang sama, Dokter dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan Erlina Burhan memberi penjelasan terkait efektivitas masker kain sebagai pencegah penularan virus.

Menurut Erlina, masker kain kurang efektif mencegah penularan virus bila dibandingkan dengan masker bedah.

Sebab, kata dia, masker tersebut tidak bisa menahan percikan yang keluar dari mulut atau droplet sepenuhnya.

“Jadi pencegahan keluarnya droplet dari batuk atau bersin itu pada pemakai kalau yang dropletnya, beratnya besar ia bisa, tapi kalau dropletnya kecil tidak bisa tidak masker kain ini ya,” kata Erlina saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (1/4/2020).

Erlina menjelaskan, kemampuan filtrasi masker kain hanya mampu menahan 10 sampai 60 persen partikel dengan ukuran tiga mikron.

Masker kain, lanjut dia, juga tidak mampu menahan partikel aerosol dan airborne atau partikel yang ada di udara.

“Masker kain ini bila dalam keadaan terpaksa bisa dipakai, tapi memang tidak sebaik seefektif masker bedah,” ujar dia.

Namun, penggunaan masker kain tetap memiliki beberapa keuntungan, yakni bisa dipakai secara berulang.

Ia mengingatkan sebelum dipakai berulang, masker kain harus dicuci terlebih dahulu.

“Perlu dicuci dengan deterjen dan bila perlu memakai air panas. Karena deterjen dan air yang hangat itu bisa mematikan virus,” ucap Erlina.

www.tribunnews.com