JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Jebakan Tikus Renggut 6 Nyawa di Sragen, Gubernur Jateng Tegaskan Larang Pemakaian Perangkap Tikus Berlistrik. “Kalau Mengakibatkan Orang Lain Meninggal, Bisa Dipidana!”

Kondisi para petani korban jebakan tikus berlistrik di tiga wilayah di Sragen dalam beberapa hari terakhir. Insert: Gubernur Ganjar Pranowo. Foto kolase/JSnews
Kondisi para petani korban jebakan tikus berlistrik di tiga wilayah di Sragen dalam beberapa hari terakhir. Insert: Gubernur Ganjar Pranowo. Foto kolase/JSnews

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Rentetan kasus kematian petani di Sragen akibat kesetrum perangkat jebakan tikus di sawah, menuai reaksi keras dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Orang nomor satu di jajaran Pemprov Jateng itu menegaskan melarang keras penggunaan perangkap tikus dengan aliran listrik.

“Kami tegas melarang penggunaan perangkap tikus dengan aliran listrik. Kami tegaskan perangkap tikus dengan listrik dilarang!,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (10/5/2020).

Gubernur menyampaikan larangan itu dikarenakan penggunaan perangkap dengan aliran listrik itu sangat membahayakan keselamatan jiwa.

Tidak hanya jiwa bagi pemilik sawah atau pemasangnya, keberadaannya juga berpotensi membahayakan bagi keselamatan jiwa orang lain.

“Kami melarang. Apalagi kalau tidak ada yang mengontrol,” serunya.

Ganjar juga mengingatkan bahwa pemakaian perangkap tikus dengan aliran listrik, jika sampai mengakibatkan orang lain meninggal dunia, maka bisa diproses pidana.

“Kalau mengakibatkan orang lain meninggal, dapat dipidana penjara atau kurungan!,” tegasnya.

Pernyataan Gubernur itu merespon rentetan kasus kematian petani di Sragen yang dalam beberapa waktu terakhir meregang nyawa di tangan jebakan tikus berlistrik.

Beberapa korban terakhir bahkan terjadi dalam hitungan amat berdekatan. Mereka adalah buruh tani bernama Atun Suryanto (50).

Warga Kampung Sine RT 1/4, Kelurahan Sine, Sragen tewas setelah kesetrum jebakan tikus di sawahnya Kampung Klumutan Sine, Jumat (8/5/2020) pagi kemarin.

Baca Juga :  Cuitan Pembuangan Limbah di Sungai Pringsurat Temanggung Viral di Medsos, Ganjar Langsung Terjunkan Tim

Sebelumnya, buruh tani bernama Nilam (45) warga Dukuh Donorojo RT 12, juga ditemukan tak bernyawa seusai terkena jebakan tikus bermuatan listrik, Jumat (2/5/2020).

Nilam tewas tergeletak di pematang sawah milik tetangganya, Sugiyo. Data yang dihimpun di lapangan, insiden itu terjadi pukul 07.45 WIB.

Kemudian Selasa (28/4/2020) sebelumnya seorang buruh tani asal Dukuh Ngrampal, RT 29 Desa Kebonromo, Kecamatan Ngrampal, bernama Yanto (54) juga ditemukan meninggal dunia di areal persawahan di Dukuh Bugel, Desa Kebonromo, Ngrampal, Sragen.

Saat ditemukan kondisinya telungkup dengan luka bakar menempel di kabel jebakan tikus yang ada di tepi sawah majikannya.

Tak hanya itu, jebakan tikus juga merenggut nyawa Andi Nugroho (31) warga Madiun, Jatim pada 17 Februari 2020.

Ia ditemukan dengan kondisi kaki melepuh dan luka bakar sebelum kemudian meninggal akibat kesetrum jebakan tikus di persawahan wilayah Siwalan, Sragen Kota.

Sebelumnya, dua warga Jambanan Sidoharjo juga tewas terkena jebakan tikus berlistrik di sawah setempat pada medio dan akhir 2019 lalu.

Anggota DPRD Sragen dari Fraksi Golkar, Bambang Widjo Purwanto juga mendesak Pemkab harus segera mengambil langkah-langkah terkait banyaknya korban tewas akibat setrum jebakan tikus.

Ia berharap harus ada sikap terkait jebakan tikus berlistrik mengingat dalam sepekan terakhir, sudah ada tiga buruh dan petani yang tewas.

Baca Juga :  Tambah Lagi, 7 Pegawai RSUD Sragen Positif Covid-19. Dari Tukang Parkir hingga Satpam, Total Sudah 84 Pegawai dan Nakes Terpapar

“Apa harus menunggu jatuhnnya korban yang lebih benyak. Bayangkan belum ada sepekan saja sudah ada korban lagi. Kami melihat ada kesan pemerintah melakukan pembiaran,” paparnya kepada wartawan, Jumat (8/5/2020).

Tak hanya Pemkab, Bambang juga menyentil PLN yang seolah juga membiarkan. Padahal menurutnya penggunaan listrik untuk jebakan tikus di sawah itu jelas bukan pada tempatnya.

“Bagaimana ini semua bisa terjadi. Kemarin apa yang sudah dilakukan pemerintah dan PLN. Coba kalau kita bandingkan dengn corona, baru dinyatakan positif lewat rapid test saja sudah pada bingung. Ini nyawa manusia hilang tidak ada perhatian. Kalau hanya satu mungkin dianggap kelalaian atau kecelakaan. Lha tapi ini sudah ke sekian kalinya. Pemerintah tidak ada langkah yang konkret,” tandasnya.

Ia juga mempertanyakan peran pemerintah dalam hal itu dinas teknis dalam mengupayakan pertanian dan penanganan hama.

Sementara fakta di lapangan, petani seolah harus berjibaku sendiri melawan hama meski harus bertaruh nyawa.

Kemudian, sejak kematian-kematian sebelumnya, hingga kini ia menilai juga tidak ada tindakan dari pemerintah.

“Nyawa manusia hanya dihargai harga padi satu patok. Kasihan sekali nasib petani yang menjadi korban,” tandasnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sragen, Ekarini kembi belum berhasil dimintai konfirmasi. Beberapa kali ponselnya dihubungi, tidak diangkat meski menunjukkan nada aktif. Wardoyo