JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

IDI: 64 dokter di Jatim Positif Corona, 8 Meninggal, Kini Jumlah Pasien Telah Lampaui Kapasitas RS

Ilustrasi dokter. Pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur Sutrisno mengatakan kondisi lepas kendali selama pandemicorona di Jawa Timur menyebabkan meningkatnya beban rumah sakit dan tenaga medis. Sutrisno mengatakan saat ini jumlah pasien telah melampaui kapasitas rumah sakit.

Tenaga medis menjadi amat rentan terpapar Covid-19. IDI Jawa Timur mencatat, setidaknya ada 64 dokter positif Covid-19, delapan di antaranya meninggal. Sutrisno mengatakan IDI Jawa Timur tengah menelusuri informasi riwayat kontak para sejawatnya itu.

“Problemnya itu antara kepastian dengan swab dan PCR perlu waktu yang lama, itu yang sering jadi hambatan di lapangan,” kata Sutrisno, ahli obstetri dan ginekologi ini, Sabtu, (20/6/2020).

Baca Juga :  KPK Dianggap Takut Ambil Alih Kasus Joko Tjandra

Selain yang tercatat IDI Jawa Timur, sebanyak 22 dokter residen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang positif Covid-19. Satu di antaranya ialah dokter Miftah Fawzy Sarengat yang meninggal 10 Juni lalu.

Sutrisno mengatakan kondisi saat ini sudah di luar kontrol. “Sekarang ini sudah lepas kendali. PSBB pun ndak mampu kendalikan masyarakat,” kata Sutrisno kepada Tempo, Sabtu, 19 Juni 2020.

Sutrisno mengatakan masyarakat sendiri yang mestinya berperan aktif dalam menjalankan protokol kesehatan. Namun dia mengamati sebagian besar orang yang berkeliaran di jalan tanpa masker.

Kafe dan mal di Surabaya Raya juga sudah kembali ramai. Banyak orang berkeliaran dan nongkrong di pinggir jalan. Sutrisno ragu pendekatan penertiban oleh aparat bisa efektif dalam kondisi demikian. “Kalau sekarang mau ditangkap polisi, siapa yang mau ditangkap? Sudah demikian banyak yang ndak patuh, kafe, mal, sudah ramai.”

Baca Juga :  Dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Belum Dapat Dipastikan Dino Patti Djalal Terpapar Covid-19

Kecuali masyarakat patuh, Sutrisno mengatakan tak ada harapan untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Kemungkinan lainnya ialah menunggu adanya obat dan vaksin untuk Covid-19. “Surabaya ini sudah lepas kendali, tinggal menunggu obat dan vaksin. Kalau masyarakat tidak bisa menjaga diri sendiri dan keluarganya, orang tuanya, jangan berharap.”

www.tempo.co