JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Sebelum Pageblug, Wong Solo Melihat Lintang Kemukus

Ilustrasi Bintang Kemukus | Pixabay
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Wabah virus Corona mengingatkan peristiwa terjadinya pageblug di Kota Solo, yang saat itu disertai dengan maraknya gugon tuhon atau cerita irasional.

Demikian diungkapkan oleh dosen sejarah Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Heri Priyatmoko dalam webinar bertema Tradisi Lisan dan Mitos Pageblug di Jawa, Minggu (28/6/2020).

Acara yang digelar Solo Societeit bekerja sama dengan Prodi Sejarah USD, ASCEE dan beberapa lembaga lainnya tersebut memang berupaya mengupas mitos dan fakta sejarah yang tersurat dalam serat maupun data sezaman.

Hadir pula menjadi pembicara, Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni.

Webinar kali ini sekaligus mengkritik bahwa selama ini jarang sekali akademisi memberi panggung pada mitos atau gugon tuhon untuk dibedah.

Seolah, mitos yang hidup dalam memori masyarakat Jawa itu bukan fakta berharga.

Lebih lanjut, Heri menjelaskan, pada abad XIX, penyakit kolera yang sempat mewabah, belum ditemukan obatnya. Terlebih lagi, masih sedikit tenaga medis atau dokter yang menangani kesehatan masyarakat.

Juga faktor ekonomi yang kurang mampu untuk membeli obat di apotek. Akhirnya, alam pemikiran masyarakat tradisional dan erat dengan mistik, mencari cara sendiri untuk menanggulangi pageblug.

Baca Juga :  Tenang, Wali Kota Pastikan Ganti Rugi Lahan Warga Terkena Penataan di Jalan Ir Sutami Solo

Heri mengemukakan, banyak perilaku masyarakat tempo dulu yang sulit dinalar tatkala terjadi wabah. Ia mencontohkan, orang Solo pada tahun 1885 melihat Lintang Kemukus di Paseban dan Alun-alun Utara.

“Mereka berkerumun menyaksikan ekor komet itu, dan mempercayai bakal terjadi pageblug. Ternyata benar, siangnya muncul musibah banjir melumat Solo dan membawa penyakit. Banyak rumah terendam,” ujar Heri, sebagaimana dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Fakta historis tersebut, menurut Heri berharga bahwa Lintang Kemukus bukan omong kosong, sebagaimana saat pageblug Covid-19 masyarakat Yogyakarta menyaksikan Lintang Kemukus.

Selain itu juga mencuat cerita penderita kolera dan penyakit kulit lainnya bisa sembuh gara-gara minum tirta umbul di Penging yang dipakai mandi raja Paku Buwana IX.

Fakta lain yang menarik, lanjut Heri, adalah sumur bur di kolam Langenharjo yang mengalirkan air tawar dan air asin yang mampu mengobati aneka penyakit.

Berkat diliput jurnalis saat itu, masyarakat luar Surakarta berbondong-bondong ke Langenharjo membawa botol dan kendi mengambil “air sakti” tersebut.

Bersamaan dengan itu, muncul mitos ramuan suket teki mengobati masyarakat di lereng Lawu yang terkena pageblug kolera. Ramuan itu dikabarkan pemberian Sunan Lawu kepada petani setempat.

Baca Juga :  Diliputi Wajah Sedih, Keluarga 3 Korban Tewas Kecelakaan Maut Plupuh Sragen Terima Santunan Rp 150 Juta dari Jasa Raharja

Menurut Heri, Sunan Lawu yang melegenda ini dihadirkan dalam cerita guna meyakinkan para warga agar memanfaatkan bahan alam itu tanpa merogoh kocek.

“Mereka berpegang pemahaman, kiwa-tengenmu kebab tombo,” ungkap Heri.

Melalui webinar tersebut, Heri berharap bisa mendorong kalangan medis meriset atau mencari tahu khasiat air umbul dan suket teki untuk memperkaya pengetahuan medis ala Timur.

“Kita tidak melulu mengagungkan dunia farmasi Barat, harusnya ada kemandirian sekaligus menghargai warisan kakek moyang,” ujarnya.

Sementara itu, pembicara lainnya, Dani Saptoni, ketua Solo Societeit, menekankan pentingnya menguak perilaku Jawa dalam perspektif filsafat Jawa.

Kalau dibaca dari sudut padang Barat, pasti jatuhnya klenik dan irasional. Perlu pula membaca kritis fakta historis yang tersekam dalam data berupa serat dan koran sezaman.

Misalnya, ujar Dani, pageblug dikaitkan dengan kemunculan burung tertentu, lampor atau lelembut. Hal itu mestinya diamati perubahan jagad cilik perihal lingkungan alam yang tidak lagi sehat.

“Ada disharmoni yang memicu terjadinya penyakit mewabah,” tutupnya.

suhamdani