JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Viral Gorengan Cah Ayu dengan Penjual Cantik di Jalan Kaliurang Yogyakarta, Begini Awal Cerita dan Kabar Terbarunya

Riandhika Yossy Kartika Sari, penjual gorengan di Yogyakarta yang viral. Kolase instagram @jogjafood | tribunjogja.com
Riandhika Yossy Kartika Sari, penjual gorengan di Yogyakarta yang viral. Kolase instagram @jogjafood | tribunjogja.com

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Gorengan “Cah Ayu” yang berlokasi di jalan Kaliurang KM 6,5, Depok, Sleman, DIY viral dan menjadi perbincangan di media sosial karena penjualnya berwajah cantik.

Yang lain menyebutnya Gorengan Cah Ayu Jogja. Riandhika Yossy Kartika Sari merupakan penjual gorengan tersebut, ia menceritakan videonya yang viral di platform media sosial tersebut karena keisengan temannya.

“Jadi, teman ada yang iseng upload video tersebut ke platform media yang sudah cukup banyak pengikutnya. Ternyata, videonya banyak yang lihat, sehingga menjadi viral,” ujar wanita kelahiran 12 November 1993 ini.

Yossy mengatakan, usaha gorengan tersebut dimiliki oleh kedua orangtuanya. Dia hanya membantu untuk meringankan pekerjaan.

“Dulu saya pernah bekerja di suatu perusahaan, tetapi terpaksa diberhentikan akibat pandemi Corona. Nah, karena waktu luang akhirnya saya memilih untuk membantu Ibu dan Bapak berjualan gorengan,” tutur alumnus Universitas Sanatha Dharma itu.

Setelah, ikut membantu kedua orangtuanya, ternyata gorengannya cukup laris. Kemudian, ia pun memutuskan untuk terus berjualan gorengan selama bulan Ramadhan.

“Awal viralnya kan pada saat Ramadhan kemarin. Nah, karena banyak yang sudah tahu, akhirnya diberilah nama ” Cah Ayu”,” ungkap Yossy.

Yossy mengatakan, nama “Cah Ayu” berasal dari temannya yang artinya anak cantik, di mana harapannya agar rezeki nya pun juga cantik (apik).

Baca Juga :  Ultah ke-23 Tahun, BAF Salurkan Bantuan Untuk Anak Indonesia

Namun, usaha gorengan kedua orangtua Yossy tak semulus video viralnya, kendala banyak yang dihadapi untuk berjualan.

Sudah hampir tiga minggu setelah lebaran, kedua orangtuanya tak berjualan lagi.

“Saat ini, berhenti sementara dulu, karena tidak ada tempat. Jadi, tempat jualan gorengan yang lama sudah dipakai lagi oleh pemilik aslinya. Karena kemarin sewanya hanya saat Ramadhan saja,” ujar Yossy.

Tak hanya itu, ternyata selama berjualan gorengan kedua orangtua Yossy sudah pindah ke beberapa tempat karena sulitnya mendapatkan perpanjangan sewa.

“Orangtua sudah berjualan gorengan sejak lama, tapi belum dapat tempat mangkal yang tetap. Dulu, berjualannya di arah utara dekat tempat jualan sekarang. Cukup laris juga berjualan di sana, namun pemiliknya tak mengizinkan untuk perpanjangan sewa,” papar Yossy.

Yossy mengatakan, selama berjualan gorengan orangtuanya harus berpindah-pindah karena sulitnya mencari lokasi yang mau dikontrak panjang.

“Mungkin, sudah lebih dari tiga kali pindah-pindah tempat berjualan, padahal penjualan cukup ramai,” kenang Yossy.

Saat ini, untuk membuka usaha gorengan lagi, ia harus mencari lokasi yang baru untuk berjualan.

” Iya, kalau orangtua sudah ingin sekali berjualan. Makanya ini masih cari-cari lokasi juga, sebisa mungkin di daerah Kaliurang biar tak jauh dari rumah,” kata Yossy.

Dibalik parasnya yang cantik, ternyata Yossy merupakan wanita yang mandiri dan pekerja keras.

Baca Juga :  Seminggu Ini, Aktivitas Kegempaan Merapi Melonjak

Sejak duduk dibangku sekolah dasar (SD), ia sudah diajarkan untuk berjualan oleh kedua orangtuanya.

“Sebenarnya kalau berjualan sudah dari SD. Dulunya selesai bersekolah berjualan es batu keliling kampung pakai tas kresek, dalam sehari bisa membawa 30 es batu,” kenangnya.

“Saya itu memang diajarkan untuk mandiri. Kedua orangtua tegas sekali dalam mendidik apalagi saya anak pertama dari tiga bersaudara, ditambah Bapak yang merupakan pensiunan militer, jadi anak-anaknya pun diajarkan sikap disiplin juga,” tambah Yossy.

Hingga tamat sekolah menengah atas (SMA), Yossy sudah mencari uang untuk keperluan pribadinya. Ia tak lagi mengharapkan kedua orangtuanya dalam segi finansial.

Saat kuliah, Yossy sudah mampu mencukupi kebutuhan pribadinya. Ia berjualan nasi goreng yang ditawarkan ke teman-teman dan dosen di kampusnya.

“Kalau siang di kampus saya jualan. Malamnya saya bekerja lagi sebagai pramusaji di sebuah restoran. Lumayan hasilnya bisa mencukupi kebutuhan pribadi,”ungkapnya.

Menurut Yossy, selagi masih mau berusaha, rezeki pun akan terus mengalir.

“Makanya, sampai saat ini masih semangat untuk berjualan lagi. Ini saja, untuk mengisi kekosongan saya berjualan risol mayones secara daring. Nanti, kalau sudah ada lokasi yang tepat segera mungkin usaha gorengan akan dibuka lagi,” ujarnya.

www.tribunnews.com