JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Siswa Sulit Belajar Daring, Pemkot Yogya Godok Metode Kunjungan Guru

Foto: Pixabay

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sebanyak 46 persen orang tua pelajar di Kota Yogyakarta menghendaki pembelajaran tatap muka, sementara 54 persen sisanya belum menghendaki pembelajaran tatap muka.

Hal itu merupakan hasil survei yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta.

Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, sebagian besar orangtua memang belum menghendaki pembelajaran tatap muka.

Hal itu karena khawatir terjadi penularan COVID-19 di sekolah. Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta juga melakukan survei terkait akses pembelajaran daring.

Hasilnya, siswa yang bersekolah di SD negeri kesulitan akses untuk belajar daring.

Sedangkan tingkat SMP, siswa di sekolah swasta yang mengalami kesulitan akses belajar daring.

“Untuk itu, kami akan coba model guru berkunjung, terutama bagi yang kesulitan akses. Saat ini sedang kita siapkan, kita godok agar pembelajaran bisa berjalan baik meskipun di tengah pandemi,” katanya, Minggu (26/7/2020).

Baca Juga :  Ngaku Sebagai Polisi, Bawor Rampas Uang dan HP Korban dengan Mudah, Tapi Akhirnya Meringkuk di Jeruji Besi

Ia melanjutkan, dari sisi sekolah, sekolah di Kota Yogyakarta tidak mengalami kesulitan akses.

Sebab seluruh sekolah di Kota Yogyakarta sudah memiliki WiFi.

Dengan demikian guru lebih mudah dalam mendistribusikan materi pembelajaran.

“Tetapi kan kondisi masyarakat tidak sama, ada juga yang kesulitan akses. Kita sudah punya 211 titik WiFi, belum bisa cover seluruh wilayah yang jadi tempat tinggal siswa. Untuk mengatasi kelemahan daring ini, maka akan kita coba dengan guru berkunjung. Untuk SD dan SMP yang kesulitan akses,” lanjutnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori mengatakan kendala belajar daring tidak hanya berhenti pada akses orangtua akan internet, namun juga materi-materi pelajaran.

Baca Juga :  Pesan WA agar Remaja Tidak Keluar Rumah Bikin Warga Kulonprogo Resah

Tidak semua materi pelajaran dapat disampaikan secara daring.

“Tidak semuanya memiliki smartphone, apalagi laptop, ada keterbatasan dengan kuota data. Persolan lain, tidak semua materi bisa didaringkan, misalnya untuk materi baca tulis hitung kelas I SD. Tidak bisa didatangkan, kalau anak tidak bisa baca tulis hitung kan repot,” katanya.

Dengan adanya metode guru berkunjung, diharapkan prosed belajar siswa tetap optimal.

Budi belum bisa menerangkan secara detail terkait metode tersebut.
Namun yang pasti metode tersebut akan segera diujicobakan ke beberapa sekolah.

“Kita masih akan uji coba, diprioritaskan untuk siswa yang tidak memiliki akses selama belajar daring. Tentu kita juga akan tetap ikuti protokol COVID-19, dan izin dari orangtua juga lingkungan sekitar,” tambahnya.

www.tribunnews.com