JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Sragen Masih Zona Kuning Covid-19, Hari Pertama Masuk Sekolah Hanya Berlaku Untuk Siswa Baru Saja. Jumlah Siswa Dibatasi, Sebelum Masuk Diperiksa Ketat

Kepala SDN Kecik 3, Joko Sunarno saat mengecek suhu badan menggunakan thermo gun kepada guru sebelum mengisi pengenalan ke siswa baru, Senin (13/7/2020). Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Kepala SDN Kecik 3, Joko Sunarno saat mengecek suhu badan menggunakan thermo gun kepada guru sebelum mengisi pengenalan ke siswa baru, Senin (13/7/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Hari pertama tahun ajaran baru kalender pendidikan 2020/2021 di Kabupaten Sragen masih belum bisa dijalankan secara normal.

Hari pertama masuk sekolah yang jatuh pada hari ini tadi, Senin (13/7/2020) hanya diberlakukan untuk siswa baru saja. Para siswa baru pun masuk dengan pembatasan dan penerapan protokol kesehatan ketat.

Seperti di SDN Kecik 3, Kecamatan Tanon, Sragen. Di SD ini, hari pertama masuk tahun ajaran baru, pihak sekolah menerapkan kebijakan hanya siswa baru yang masuk untuk mengikuti kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).

Para siswa baru hasil PPDB, masuk dengan diantar wali muridnya masing-masing. Pihak sekolah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat mulai dari pemeriksaan suhu badan, mewajibkan pakai masker hingga pemberian sosialisasi dengan membagi siswa ke beberapa kelas.

Kepala SDN Kecik 3 Sragen, Joko Sunarno mengatakan untuk tahun ajaran baru ini, sekolahnya mendapat 26 siswa baru. Namun yang masuk pada hari pertama tadi ada 24 siswa dengan dua siswa lainnya belum masuk.

Untuk hari pertama kali ini, sesuai petunjuk Disdikbud kabupaten, hanya siswa baru yang masuk. Sedangkan siswa tingkat atas, masih melanjutkan belajar di rumah.

Baca Juga :  Meski di Tengah Pandemi, Musala Al Mahmudah Katelan Tangen Sembelih 2 Ekor Sapi dan 5 Kambing

“Untuk siswa baru tadi memang masuk untuk pengenalan sekolah dan lingkungan termasuk pengenalan guru. Karena mereka kan masih baru dan perlu pengenalan. Sesuai petunjuk dinas, kami terapkan protokol kesehatan, yakni sebelum masuk semua guru dan karyawan kita cek suhu badannya. Kemudian siswa dan wali murid yang mengantar juga kita cek. Sebelum masuk ruangan wajib cuci tangan dan harus pakai masker,” paparnya Senin (13/7/2020).

Joko menguraikan karena jumlah siswa baru yang masuk ada 24, proses pengenalan pun digelar terpisah dan siswa dibagi ke beberapa kelas.

Hal itu untuk menghindari kerumunan dan siswa tetap dalam jarak aman sesuai protokol kesehatan. Menurutnya, kegiatan MPLS juga hanya berlangsung singkat mengingat sesuai petunjuk tak boleh lebih dari dua jam.

“Selesai MPLS, siswa baru langsung dipulangkan. Selanjutnya nanti semua siswa akan kembali melanjutkan belajar di rumah. Kita sudah siapkan konsep nanti guru akan datang ke rumah siswa dan memandu belajar kelompok serta dijadwal,” terangnya.

Kepala Disdikbud Sragen, Suwardi mengatakan untuk tahun ajaran baru 2020/2021 di Sragen secara prinsip proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di semua jenjang sekolah dari TK hingga SMP, semuanya masih belajar di rumah.

Baca Juga :  Keluar Balai Desa, Ratusan Warga Jatiwarno Karanganyar Sumringah Bawa Paket Bantuan Sembako

Kecuali untuk siswa baru memang hari ini masuk untuk mengikuti masa pengenalan sekolah. Pengenalan diharuskan lantaran para siswa baru butuh memahami lingkungan sekolahnya, guru dan wali kelasnya.

“Masuknya pun dengan protokol ketat dan pembatasan. Untuk TK bergiliran 5 anak 5 anak, untuk SD maksimal 50 persen atay 14 anak per kelas. Lalu untuk SMP maksimal 25 persen. Itu pun dengan protokol kesehatan ketat, seperti pemeriksaan suhu, cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak aman,” paparnya.

Suwardi menguraikan setelah masa pengenalan sekolah, selanjutnya siswa baru dan siswa tingkat lainnya akan kembali melanjutkan KBM dengan belajar di rumah.

“Metodenya ada beberapa teknik yang bisa diterapkan. Bisa memakai belajar daring atau guru memandu siswa dengan datang ke rumah. Teknisnya nanti sekolah yang menentukan. Prinsipnya proses KBM tetap berjalan tapi tidak masuk atau tatap muka di sekolah. Melainkan di rumah. Ini karena Sragen memang masih zona kuning covid-19,” tandasnya. Wardoyo