JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

200 Botol Air Bilasan Selambu Makam Pangeran Samudera Gunung Kemukus Sragen Laku Rp 320.000. Gegara Pandemi, Ritual Dipersingkat Hanya 1 Jam, Air Jamasan Tidak Direbutkan

Prosesi kirab larap selambu Makam Pangeran Samudera Gunung Kemukus yang digelar Rabu (19/8/2020). Foto/Wardoyo
Prosesi kirab larap selambu Makam Pangeran Samudera Gunung Kemukus yang digelar Rabu (19/8/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Prosesi ritual larap selambu Makam Pangeran Samudera Gunung Kemukus di Pendem, Sumberlawang, Sragen digelar dengan banyak perubahan dibanding tahun sebelumnya.

Pandemi corona virus atau covid-19 menjadi alasan pengelola obyek wisata religi itu untuk menerapkan sejumlah pembatasan pada acara yang digelar tiap satu suro itu.

Penanggungjawab Obyek Wisata Makam Pangeran Samudera, Marcellus Suparno mengatakan acara kirab larap selambu kali ini digelar agak berbeda.

Mulai dari pelaksanaan yang digelar maju yakni Rabu (19/8/2020) siang dan digelar hanya satu jam beda dengan biasanya yang bisa digelar seharian penuh.

Prosesi kirab pencucian selambu kemarin dimulai pukul 14.00 WIB dengan diikuti tak lebih dari 40 peserta saja.

“Dari tahun lalu memang agak beda. Larap selambunya kita majukan untuk menghindari kerumunan pengunjung. Peserta kirab pun kita batasi hanya sekitar 36 orang dari Muspika, dinas, peraga dan prajurit. Karena masa pandemi kan kegiatan dibatasi maksimal 50 orang,” paparnya Rabu (19/8/2020) malam.

Baca Juga :  Peduli di Tengah Pandemi, PT DJP Sragen Gandeng Lions Club Solo Gelar Donor Darah dan Sumbang 500 Hazmat ke Puskesmas. Dirut PT DJP: Covid-19 Tidak Akan Berlalu Kalau Kita Hanya Diam Saja! 

Selain jumlah peraga, semua peserta kirab juga diwajibkan mengenakan masker, face shield, posisi zig zag dan jalannya ditenggang dua tangga.

Peserta kirab juga dibatasi dengan hanya melibatkan siswa-siswi dari wilayah setempat. Kemudian sepanjang jalur kirab dari makam menuju dermaga, juga steril dari pengunjung.

“Memang kita perketat untuk antisipasi covid-19. Tapi nilai-nilai tradisi dan budaya tetap kita jalankan seperti tumpeng yang kita kirab ada 9, serah terima dan sebagainya,” urainya.

Tak hanya itu, Suparno menyampaikan tradisi rebutan air sisa jamasan atau bilasan Makam Pangeran Samudera, juga ditiadakan.

Sebagai gantinya, pengunjung yang ingin mendapatkan bisa memesan ke pamling (pengaman lingkungan) setempat. Air sisa bilasan selambu itu dikemas dalam botol bekas air mineral dan oleh pamling dibagikan kepada pengunjung yang meminta dengan memberi uang sukarela untuk kas.

Baca Juga :  Tambah Lagi, 2 Warga Gemolong dan Sragen Positif Terpapar Covid-19. Jumlah Total Kasus 513, Sudah 71 Warga Meninggal Dunia

“Botolnya beli dari warga sekitar 200 biji. Satu botol harganya Rp 1.000. Lalu itu dibagikan ke pengunjung yang mau, mereka sukarela masukin ke kotak. Ada yang ngasih Rp 2.000, Rp 5.000 ada yang Rp 10.000. Kalau nggak salah terkumpul hasilnya dapat sekitar Rp 320.000. Jadi untuk beli botol Rp 200.000, dapatnya Dp 320.000. Itupun juga uangnya yang mengelola kas karang taruna untuk kegiatan mereka,” jelasnya.

Ditambahkan, untuk hiburan malam suro yang biasanya diisi dengan wayangan, kali ini diganti dengan salawatan dan tahlilan.

Bagaimana pengunjungnya? Suparno menyampaikan untuk suronan kali ini anjlok drastis akibat pandemi covid-19. Jika biasanya satu suro dalam sehari tahu atau pengunjung bisa mencapai lebih dari 1.000 orang, kali ini seharian kemarin hanya sekitar 300 pengunjung saja. Wardoyo