JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Gerakan Sehari Tanpa Nasi dari Salatiga Mendapat Apresiasi Gubernur Jawa Tengah

Ganjar Pranowo. Foto/Humas Jateng

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM — Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengapresiasi kebijakan inovatif dari Wali Kota Salatiga, Yuliyanto. Kebijakan tersebut, telah melahirkan gerakan sehari tanpa nasi yang dikeluarkan melalui surat edaran dari Pemerintah Kota Salatiga.

“Ya nggak papa, boleh saja. Sehari ndak pakai nasi boleh, itu bisa mengurangi ketergantungan konsumsi nasi, sehingga ada diversifikasi pangan,” ujar Ganjar saat dikonfirmasi, kemarin.

Ganjar mengungkapkan lebih detail, gerakan itu layak didukung. Sebab menurut kesehatan, nasi memang mengandung banyak gula yang bisa berpotensi menyebabkan penyakit gula dan darah tinggi.

“Nasi itu kan banyak mengandung gula, padahal orang yang punya potensi gula dan darah tinggi itu, dari data yang meninggal karena covid-19 merupakan kumorbit yang berbahaya. Saya kira ada baiknya, biar orang tidak hanya bergantung pada nasi,” terangnya.

Hanya saja lanjut Ganjar Pranowo, gerakan itu akan cukup sulit di tengah karakter orang Jawa yang sejak dulu sudah terbiasa makan nasi.

Baca Juga :  Torakur, Cemilan Khas Bandungan yang Wajib Dicoba

“Itu problemnya, orang Jawa biasanya kalau belum makan nasi, berarti durung madhang (belum makan). Tapi gerakan sehari tanpa nasi ini bagus sih, nggak papa,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga kembali menggulirkan kebijakan inovatif di tengah pandemi covid-19.

Wali Kota Salatiga Yuliyanto menggulirkan program Gerakan Sehari Tanpa Nasi (GSTN). Menurut dia, imbauan kepada masyarakat Salatiga supaya daya tahan tubuh atau imun tubuh terjaga untuk melawan virus corona.

“Program ini dikhususkan untuk memperkuat daya tahan tubuh masyarakat selama masa pandemi covid-19,” ujar Yuliyanto pada Selasa (3/8/2020).

“Dasar pemikiran gerakan sehari tanpa nasi adalah untuk menghindarkan dari penyakit bukan keturunan, seperti jantung, kolesterol, dan asam urat yang bisa dipicu karena makanan,” imbuh dia.

Yuliyanto menyebut, gerakan ini dimulai dari acara-acara di Pemkot Salatiga. Di sisi lain, Yuliyanto menguraikan, terkait ketahanan pangan di Salatiga, pihaknya memastikan saat ini cukup aman.

Baca Juga :  I’am Pelgading, Wisata Alam Nan Menakjubkan

“Sejak awal pandemi covid-19 dan kebutuhan selama Lebaran lalu, stok pangan terhitung melimpah.
Ditambah lagi bantuan jaring pengaman sosial bantuan terdampak covid-19, telah memberdayakan petani lokal, baik untuk beras maupun telur,” terang dia.

Yuliyanto menyampaikan lebih detail, kebijakan tersebut sudah  diumumkan melalui surat edaran kepada kepala organisasi perangkat daerah, camat, dan lurah untuk diteruskan ke ketua RT dan RW.

Ia menyebut, di dalam surat edaran mulai dilaksanakan pada Agustus 2020, gerakan tersebut belum diluncurkan. Menurut Yuliyanto, saat ini Kota Salatiga tengah menuju zona hijau, nanti kalau sudah relatif aman baru diserentakkan gerakan sehari tanpa makan nasi.

“Saya juga telah meminta agar gerakan ini dilaksanakan meski belum diserentakkan,” imbuh dia.

Pihaknya juga mengaku sudah menerapkan diet tanpa nasi tersebut dan tubuhnya terasa lebih sehat. Untuk gantinya, bisa diganti dengan ubi-ubian seperti singkong,” pungkas dia. P Yoga | Satria Utama