JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Ini 5 Pernyataan Hoaks Hadi Pranoto dalam Wawancara dengan Anji yang Dipatahkan Pakar

Anji mengunggah foto bersama Hadi Pranoto yang ia sebut menemukan antibodi Covid-19. Foto: Instagram/duniamanji

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Video wawancara musisi Anji dengan seorang pria bernama Hadi Pranoto ramai diperbincangkan setelah dianggap menyebarkan informasi bohong atau hoaks.

Sejumlah pernyataan dari Hadi Pranoto yang disebut dalam wawancara sebagai profesor dan pakar mikrobiologi menuai pro dan kontra. Banyak pihak yang kemudian menyanggah dan membantah pernyataan pria tersebut.

Berikut ini lima pernyataan kontroversial Hadi Pranoto seputar Covid-19 yang telah dibantah oleh pakar:

1. Istilah Antibodi

Dalam video, Hadi Pranoto mengklaim menemukan obat antibodi Covid-19 yang mampu mengobati dan mencegah virus penyebab penyakit tersebut.

Pengajar mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Agung Dwi Widodo bingung dengan istilah antibodi yang dipakai sebagai nama obat temuan Hadi.

Agung mengatakan antibodi adalah zat yang diproduksi dalam tubuh. Bukan diproduksi di luar, lalu diminun. Dia ragu Hadi paham soal antibodi. “Dia sebenarnya tahu antibodi itu apa enggak sih,” kata Agung saat dihubungi Tempo.co, Senin (2/8/2020).

Keraguan Agung menguat karena Hadi menyebut herbal antibodi itu akan membuat bakteri dalam tubuh memakan virus penyebab Covid. “Baru kali ini ada virus dimakan bakteri, selama ini terbalik, bakterinya yang dimakan virus,” ujar Agung.

2. Virus Covid-19 Berkembang Menjadi 1.153 Jenis

Agung mengatakan bidang mikrobiologi tak menggunakan istilah jenis untuk mengklasifikasi virus. Secara ringkas Agung menjelaskan, virus penyebab Covid, digolongkan dalam famili virus Corona, spesiesnya bernama Sars Cov-2. Spesies itu kemudian dibagi lagi menjadi strain. Dasar klasifikasi strain adalah geografi dan genetik virus.

Baca Juga :  Kasus Positif COVID-19 di Sukoharjo Kini Bertambah 11 Menjadi 589, Pasien Meninggal Tidak Bertambah

“Kalau berdasarkan daerah ada enam sampai delapan kelompok, berdasarkan genetik jumlahnya sama, jadi tidak sampai seribu,” kata dia.

Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Herawati Sudoyo mengatakan belum pernah mendengar bahwa Sars Cov-2 sudah bermutasi. “Saya justru belum pernah mendengar Sars Cov-2 sudah bermutasi sehingga menyebabkan terbentukya subtipe baru,” kata dia.

3. Covid-19 Baru Mati di Suhu 350 Derajat Celcius

Agung dan Herawati sama-sama menyangkal pernyataan Hadi tersebut. Agung mengatakan dari pengalamannya di laboratorium, virus penyebab Covid-19 sudah inaktif di suhu 120 derajat celcius.

“Selama ini kami pakai autoklaf yang 120 derajat, itu virusnya sudah inaktif,” kata Agung.

Autoklaf adalah alat pemanas tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi benda menggunakan uap panas dan tekanan tinggi.

Sementara, Herawati Sudoyo mengatakan dibutuhkan pengetahuan mengenai struktur virus untuk mengetahui toleransi mikroorganisme itu terhadap suhu. Dia mengatakan virus memiliki membran pelapis ganda yang terdiri dari lipid dan protein.

Pendiri Eijkman ini mengatakan, zat yang menyelubungi virus itu akan larut bila dipanaskan. Dan dalam kasus virus penyebab Covid-19, pendiri LBME Eijkman ini menyebut Hadi keliru. “Hasil studi menyatakan bahwa pada suhu 56 derajat celcius, membran akan rusak,” ujar dia.

Baca Juga :  Tambah Lagi, 2 Warga Ngrampal Sragen Positif Terpapar Covid-19 Hari Ini. Jumlah Total Kasus Melonjak Jadi 485, Sudah 68 Warga Meninggal dari PP Hingga Positif

4. Tes Covid-19 Murah Hanya Rp10.000

Herawati Sudoyo mengaku tak mengetahui ada tes Covid-19 bernama digital teknologi seperti yang dikatakan Hadi, bahkan hanya bertarif Rp10.000 – Rp20.000.

Dia mengatakan tenaga medis di dunia menggunakan Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). “Itu juga yang digunakan di Indonesia,” kata dia.

Senada, Agung yang berprofesi sebagai dokter mikrobiologi klinis juga tak paham dengan maksud digital teknologi yang disebutkan Hadi. Dia menceritakan sejumlah guru besar sempat merasa jengkel dengan klaim tes Covid-19 yang dikatakan Hadi Pranoto.

“Kalau ada tes yang berbasis digital teknologi itu murah, maka semua sampel di Surabaya mau dikirim ke Hadi Pranoto,” canda Agung.

Agung berkata tes Covid-19 tergolong mahal karena sejumlah penyebab. Di antaranya, petugas mesti menggunakan alat pelindung diri saat mengambil sampel; jumlah mesin penguji yang terbatas; dan reagen yang masih impor.

5. Covid-19 Bisa Terdeteksi Lewat Keringat

Agung mengatakan, belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa tes Covid-19 bisa dilakukan menggunakan keringat. Terbaru, kata dia, banyak ilmuwan menyebut tes Covid-19 bisa menggunakan air liur atau saliva.

Senada dengan Agung, Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia Adib Khumaidi mengatakan belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa tes Covid bisa menggunakan keringat. “Belum ada penelitian secara ilmiah yang membuktikan itu,” kata Adib.

www.tempo.co