JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Inilah Fenomena Pembelajaran Daring yang Terjadi di Kudus

Ilustrasi belajar online. Foto: pixabay.com

KUDUS, JOGLOSEMARNEWS.COM — Program belajar dari rumah yang berkepanjangan menjadi fenomena baru, khususnya bagi sejumlah orang tua murid. Program belajar sistem daring (dalam jaringan) akibat pandemi virus corona terasa berat dirasa masyarakat dari kelas sosial ekonomi bawah, gusar.

Pasalnya, agar program pembelajaran online atau daring berjalan efektif, mereka membutuhkan telepon pintar dan koneksi internet yang mumpuni. Fenomena ini terjadi secara nyata di Kabupaten Kudus.

Bahkan, tidak sedikit wali murid yang kewalahan mendampingi anaknya saat belajar di rumah. Banyak ibu yang akhirnya melampiaskan kejengkelan kepada anak maupun suaminya.

Fakta tersebut terungkap dalam rapat Paripurna DPRD Kudus yang digelar Selasa, 28 Juli 2020 lalu. Seorang anggota DPRD Kudus, Ali Ihsan menjelaskan, saat ini Kudus perlu mengaktifkan lagi pembelajaran tatap muka di sekolah.

Hal itu dituturkan legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini ketika melihat Kudus sudah dalam kondisi darurat pendidikan. Nah, ulasan tersebut disertai dengan para ibu hingga melampiaskan emosinya ke anak dan suaminya.

“Banyak keluhan yang sampai ke saya. Para orang tua, khususnya ibu yang kewalahan dalam mendampingi anak belajar daring di rumah. Hingga mereka melampiaskan emosinya ke anak dan suaminya,” ujar Ali, saat itu.

Baca Juga :  DPRD Kudus Pacu Realisasi Pembangunan Sekolah Unggulan di Masing-masing Kecamatan

Di tengah pandemi covid-19, lanjut Ali, para orang tua harus bekerja ekstra demi keluarga, khususnya ibu. Ketika pembelajaran daring diterapkan maka tugas ibu bertambah.

Selain harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mereka juga membantu dan mengajari anak mengerjakan tugas-tugas sekolah yang terbilang tidak mudah. Itu belum termasuk beban luar rumah yang ditanggung oleh ibu berstatus sebagai karyawan atau pekerja.

“Saat badan dan pikiran yang sudah lelah, ditambah tidak mampu mengajari anak belajar maka akan berdampak negatif bagi kognotif dan psikis anak,” terang dia.
“Ketidakpastian kapan masuk sekolah dan kesibukan orang tua bekerja dikhawatirkan mempengaruhi pergaulan anak,” urai dia.

Ketua Fraksi PKB DPRD Kudus ini menegaskan, pihaknya terus mendesak Pemerintah Kabupaten Kudus segera mengaktifkan kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pencegahan covid yang ketat.

Baca Juga :  Dapat Apresiasi Komisi III DPR RI, Ganjar Tegaskan Limbah Perusahaan Jadi Pemicu Pencemaran Sungai

“Seluruh masyarakat dan siswa yang ada di lingkungan sekolah wajib rajin cuci tangan, menggunakan masker dan face shield,” terang dia.

“Selanjutnya, jarak antarbangku diatur sebagai bentuk physical distancing. Bagi sekolah yang punya siswa banyak bisa dibagi dalam beberapa kelompok dan belajar secara bergiliran,” tandasnya.

Pada bagian lain, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kudus HM Hartopo mengaku membenarkan pendapat sang legislator, Ali Ihsan. Dengan tegas, Hartopo justru menganjurkan sekolah melaksanakan ujian secara tatap muka. Ia menyebut hal tersebut bertujuan agar semangat belajar siswa meningkat serta mencegah adanya pembodohan.

Kendati demikian, Hartopo juga menandaskan bahwa pihaknya pada saat ini belum bisa menggulirkan kebijakan menggelar sekolah dengan skema pembelajaran tatap muka secara langsung.

“Kita mematuhi instruksi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan daerah yang tidak masuk zona hijau covid-19, tidak diizinkan mengadakan sekolah tatap muka,” kata Hartopo.
“Kami tetap akan melakukan kajian nantinya. Kami juga harus melakukan simulasi terlebih dahulu,” kata dia. Ahmad | Satria Utama