JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kondisi Terbaru Pasca Runtuhnya Tembok “Berlin” Mbah Sonem di Gading Sragen. Sambut Suka Cita, Warga Langsung Urunan Perbaiki Talud

Warga Dukuh Ngledok, Gading, Tanon menyambut senang jalan mereka kembali dibuka setelah tembok yang didirikan Mbah Sonem menutup jalan dibongkar. Foto/Wardoyo
Warga Dukuh Ngledok, Gading, Tanon menyambut senang jalan mereka kembali dibuka setelah tembok yang didirikan Mbah Sonem menutup jalan dibongkar. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pagar tembok di tengah jalan yang didirikan keluarga Mbah Sonem (65) warga Gading, Tanon, Sragen dan sempat viral akhirnya dibongkar, Selasa (4/8/2020).

Tembok yang sempat menutup akses 10 kepala keluarga di Dukuh Ngledok, Gading, Tanon itu akhirnya diratakan sehingga jalan tembus itu pun kembali dibuka.

Kini masyarakat di sebelah tembok di pekarangan Mbah Sonem itu bisa kembali keluar masuk tanpa ada pagar penghalang lagi.

Runtuhnya tembok berlin Mbah Sonem itu pun langsung disambut syukur oleh warga. Kelegaan terlihat dari warga yang menyambut baik akses jalan yang kembali terbuka.

Supriyanto (38) warga Dukuh Ngledok RT 18 mengatakan kembalinya akses jalan itu memang menjadi kelegaan tersendiri.

,”Allhamdulilah warga sekarang sudah bisa kembali normal. Bisa lewat di jalan ini lagi tanpa harus muter. Meskipun kemarin baru dibongkar setelah negosiasi yang cukup alot dengan pemilik tanah sebelah ini,” kata Supriyanto, ditemui di lokasi, Jumat (7/8/2020).

Supriyanto menuturkan pasca dibongkar, warga juga langsung membuat talut baru. Kemudian mengembalikan batas tanah yang diklaim oleh keluarga Sonem yakni lebar 1 meter dan panjang 25 meter.

Baca Juga :  Hadir di Sragen, Ini Dia Juara Stand Up Comedy Sesi HUT TNI yang Digelar Kodim 0725. Mahmud Yunus Jadi Bintang

Dana pembuatan talut digalang dari swadaya warga Dukuh Ngledok sendiri. Talut baru itu dikerjakan selama 2 hari dengan menghabiskan dana dukuh sebesar Rp 25 juta.

Sementara Heri Rebin, salah satu warga RT 18 menyampaikan sudah cukup lega dengan masyarakat sudah bisa kembali melintas dijalan tersebut.

Ia mengaku sudah lega sekarang warga sudah bisa lewat lagi. Namun ia sangat berharap agar kedepan permasalahan ini tidak kembali muncul.

“Saya pingin ada pengukuran langsung dari pihak agraria (BPN) biar status batas jalan itu benar-benar kuat. Dan yang pasti agar kemudian hari anak cucu tidak ada permasalahan lagi dengan batas tanah,” harapnya.

Seperti yang diberita sebelumnya, Kepala Desa Gading Puryanto menjelaskan bahwa dirinya mengizinkan Sonem menutup jalan karena sempat putus asa menghadapi kengototan Sonem dan keluarga yang mengklaim meminta kembali tanah pekarangan yang dibangun jalan.

Namun dia kemudian menjelaskan bahwa hasil pengecekan di sertifikat milik alm To Pawiro (ayah Sonem) dan sertifikat milik Parno yang ada di sebelahnya, ternyata semua mencantumkan gambar jalan yang dipersoalkan itu.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Kecamatan Sidoharjo Terus Meningkat, Kapolsek Gerakkan Program Sidoharjo Bermasker. Izin Hajatan dan Keramaian Sementara Stop Dulu!

Sehingga dengan fakta itu, akhirnya dilakukan mediasi dan telah disepakati bahwa jalan yang saat ini lebarnya sekitar 3 meter, akan dibuat jadi 2 meter.
Dua meter itu diambilkan satu meter dari pekarangan Mbah Sonem dan pekarangan Parno. Dengan begitu, tembok herbel yang dibangun nutup jalan akhirnya dibongkar dua meter dan menyisakan satu meter di sisi pekarangan Mbah Sonem.

“Jadi jalan itu dari dulu sudah ada. Di sertifikat juga sudah ada gambarnya.  Kalau jenengan (Mbah Sonem) nutup jalan, ya nggak boleh. Makanya ini harus dibongkar,” papar Kades dengan nada tinggi.

Karena terdesak, Mbah Sonem akhirnya tak bisa berargumen lagi. Dia pun pasrah ketika warga membongkar dua tembok herbel selebar dua meter yang sempat menutup jalan.

Pembongkaran juga disaksikan Ketua RW, Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Warga kemudian rame-rame menghancurkan tembok herbel itu dengan peralatan yang ada.

Kades Puryanto kembali menjelaskan persoalan itu terjadi akibat kesalahpahaman semata.

Sonem dan keluarganya hanya berpegangan pada perkataan almarhum orangtua tanpa melihat fakta bahwa sebenarnya ada jalan yang tertera di sertifikat. Wardoyo