JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Pendidikan

Zona Kuning Boleh Tatap Muka, PGRI Ingatkan tidak Coba-Coba Buat Aturan Sekolah Anak

Ilustrasi siswa SMA sekolah dengan protokol covid-19. Foto: Joglosemarnews/Wardoyo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia menyoroti revisi surat keputusan bersama (SKB) empat menteri yakni Mendikbud, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri yang memperbolehkan sekolah tatap muka di zona kuning. Hal itu disampaikan ketua PGRI Dudung Nurullah Koswara.

Menurutnya, sebuah kecerobohan yang dilakukan empat menteri bila sekolah di zona kuning dibolehkan melakukan tatap muka.

“Rasanya seperti dagelan dan sandiwara. Dalam benak saya, buat anak kok coba-coba. Saat ini Saya menerima dan membaca beberapa info anak didik yang terpapar dan staf sebuah cabang dinas pendidikan terpapar. Akankah kita spekulasi?” ujar Dudung dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id, Minggu (9/8/2020).

Menurut Dudung, adaptasi kebiasan baru (AKB) identik dengan “modus” tersulit bagi pemerintah pada orang dewasa agar produktif. Produktivitas orang dewasa terkait ekonomi dan layanan publik memang sangat dibutuhkan.

Bila masyarakat terus diam saja dan tidak produktif, pemerintah bisa kerepotan dan bahkan bisa jatuh. Secara politik bagi pemerintah kehidupan ekonomi apa pun situasinya, bagaimana pun caranya harus segera dihidupakan. “Masyarakat dipaksa berdampingan dengan Covid-19. Ini simalakama dan simalakarma. Mau tidak mau manusia dewasa dan sehat harus produktif menghasilkan sesuatu dalam situasi kondisi sulit, penuh ancaman wabah,” tutur Dudung.

Baca Juga :  Ilmu Komunikasi UMS Berhasil Mendapat Akreditasi A, Akan Membuka Konsentrasi Peminatan Sesuai Kebutuhan Pasar

Dudung menilai orang dewasa harus produktif tapi anak-anak tidak diwajibkan produktif, termasuk produktif belajar. Sedangkan anak adalah anak. Ia adalah entitas yang harus dilayani, dilindungi, diprotek dari bahaya wabah. Menurutnya, menggiring anak tatap muka dan bergerak menuju sekolah di wilayah zona kuning adalah sebuah proses dengan risiko tinggi.

Dudung mencontohkan, Neneng Fitri Ekasari Kepala SLB Cahaya Gemilang Pertiwi Kabupaten Cianjur, termasuk sosok yang meragukan dan menolak pemberlakuan perluasan pembelajaran tatap muka untuk zona kuning. Ia menirukan Neneng mengatakan, mengapa seolah-olah melakukan uji coba kemanusiaan dengan mempertaruhkan kesehatan dan keselamatan guru dan peserta didik di sekolah?

Dudung sepakat dengan penolakan Neneng Fitri yang punya daya lindung pada anak didik dan guru-guru di sekolahnya, agar tidak terpapar Covid-19. Jangan sampai perluasan pembelajaran tatap muka di zona kuning malah jadi perluasan klaster yang bisa menimpa anak didik dan pendidik.

Baca Juga :  Nayla Rebut Juara Pertama Lomba Tiktok Unisri

Pemberlakuan tatap muka di zona hijau masih bisa diterima walau pun tidak ada zaminan aman. Namun revisi SKB empat Menteri terkait perluasan pembelajaran tatap muka di zona kuning adalah spekulasi. “Buat anak kok coba-coba,” katanya lagi.

Sebagai guru, kepala sekolah dan pengurus organisasi profesi guru, Dudung ikut meragukan pemberlakuan tatap muka di zona kuning. Dudung menegaskan, lost learning dan lost generation adalah bagian dari risiko terpahit yang harus diambil.

“Daripada kita harus menerima ribuan anak tergeletak di sejumlah rumah sakit demi learning dan menghindari lost generation. Hak hidup, hak selamat dan hak terhindar dari wabah lebih utama dari belajar tatap muka. Lanjutkan dahulu PJJ, lihat situasi dan kondisi,” katanya.

www.republika.co.id