JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Berbulan-bulan Bekerja di Masa Pandemi Covid-19, Banyak Dokter Residen Alami Depresi dan Jenuh

Tenaga kesehatan RSUD Dokter Soediran Mangun Sumarso Wonogiri mengenakan alat pelindung diri lengkap saat menangani pasien Covid-19. Foto: JSNews/Aris Arianto
madu borneo
madu borneo
madu borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Sudah hampir delapan bulan Indonesia berjuang melawan pandemi Covid-19. Tidak hanya para dokter, para dokter residen alias calon dokter spesialis juga turut berada di garis depan merawat para pasien.

Tak hanya berisiko tinggi tertular, ancaman kematian yang membayangi membuat banyak tenaga medis mengalami tekanan mental dan pikiran. Tak sedikit yang kemudian menjadi depresi.

Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi mengungkapkan, banyak dokter residen yang kini mengalami depresi dan kejenuhan kerja (burnout), selama bekerja di masa pandemi Covid-19.

Hal ini terungkap setelah adanya survei yang dilakukan terhadap 7.280 dokter residen atau mencakup 54,54 persen dari 13.355 orang dokter residen. Survei yang dilakukan pada tanggal 5 dan 6 September 2020 lalu ini dilakukan terhadap dokter residen yang berasal dari 17 perguruan tinggi negeri dan 35 program studi spesialis.

Baca Juga :  Dibayang-Bayangi Pandemi Covid-19, Jangan Kaget KUA PPAS APBD Karanganyar Tahun 2021 Diwarnai Penurunan Penerimaan Hingga Rp 138 Milyar

Hasilnya, 15 persen dokter residen mengaku mengalami depresi dan 25 persen mengalami burnout.

“Kemarin kita cek, belum ada pendampingan psikologis. Untuk mereka tak ada pendampingan psikologis. Sebagian besar menyatakan belum dapat. Sekitar 90 persen,” ujar Adib saat dihubungi Tempo, Sabtu (26/9//2020).

Hasil survei menunjukkan tingkat depresi dan kejenuhan paling tinggi terjadi pada dokter residen penyakit dalam, paru, dan anak. Hal ini diperparah dengan temuan bahwa jam kerja mereka meningkat cukup drastis selama masa pandemi. Belum lagi dokter residen adalah salah satu garda utama yang pertama kali menerima pasien Covid-19.

“Kalau dokter residen kan selalu standby-nya di UGD, jadi yang menerima pasien pertama mereka. Potensi keterpaparan mereka sangat tinggi,” kata Adib.

Hasil survei yang dilakukan oleh Tim Koordinator Residen ini telah dipaparkan kepada pemerintah pada awal pekan ini. Adib mengatakan dari pemerintah ada Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nizam. Adapun Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang juga diundang dalam paparan secara virtual itu, tak hadir.

Baca Juga :  Pasien Covid-19 Sembuh Masih Mungkin Membawa Virus

Adib mengatakan, survei ini sangat penting untuk menggambarkan kondisi psikologis dokter secara umum. Meski baru diterapkan pada dokter residen, namun setidaknya hal tersebut bisa mencerminkan situasi psikologis dokter saat ini.

“Ini kan tak tergambarkan kalau tak kita lakukan survei ini. Sehingga kita ada gambaran bahwa pendampingan psikologis itu penting,” kata Adib.

Baik Doni maupun Nizam, dikatakan Adib menerima masukan dan saran ini dengan baik. Mereka berjanji akan memperbaiki dan mendukung dengan lebih baik kerja dari dokter residen.

www.tempo.co